Selasa, 01 November 2011

Psikologi Pendidikan_pengajaran yang efektif

Judul : Psikologi pendidikan sebuah alat untuk pgjaran yg efekti,, benarkah ????
Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar (Whiterington, 1982:10). Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.
Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif.
A. Sejarah Psikologi Pendidikan
Psikologi pendidikan adalah cabang psikologi. Karena psikologi sebagai ilmu pengetahuan masih muda usianya, maka psikologi pendidikan sebagai cabangnya lebih-lebih masih muda usianya. Berhubung dengan itu, ia masih dalam proses perkembangan; di sana sini masih banyak problem yang masih memerlukan pemecahannya; masih banyak hal-hal yang masih perlu pengembangannya. Walaupun ditinjau dari segi ilmu pengetahuan usianya masih sangat muda, akan tetapi pemikirannya (dalam arti yang menyangkut pendidikan dan problem jiwa) telah dipikirkan oleh orang sejak dahulu kala. Demikianlah misalnya, sampai ada yang mengatakan bahwa saat timbulnya yang mula-mula tentang psikologi pendidikan dapat diikuti jejaknya kembali pada Aristoteles. Bahwa Aristoteles sebagai seorang filsuf telah menyusun periode-periode perkembangan anak, sifat-sifat anak menurut periode dan bentuk pendidikan yang perlu diselenggarakan sesuai dengan periode-periode itu. Walaupun demikian, tentu saja pemikirannya baru merupakan pemikiran secara filsafat, belum merupakan pemikiran psikologi pendidikan.
Upaya-upaya yang bersifat semi ilmiah dipelopori oleh para pendidik, seperti Pestalozzi, Herbart, Frobel dan sebagainya. Mereka itu sering disebut sebagai pendidik yang mempsikologikan pendidikan, yaitu dalam wujud upaya memperbaharui pendidikan dengan melalui bahan-bahan yang sesuai dengan tingkat usia, metode yang sesuai dengan bahan yang diajarkan dan sebagainya, dengan mempertimbangkan tingkat-tingkat usia dan kemampuan anak didik. Pestalozzi misalnya, dengan upayanya itu kemudian sampai pula pada pola tujuan pendidikannya, yang disusun dengan “bahasa” psikologi pendidikan; dikatakan olehnya bahwa tujuan pendidikan adalah tercapainya perkembangan anak yang serasi mengenai tenaga dan daya-daya jiwa. Adapun Frobel menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah terwujudnya kepribadian melalui perkembangan sendiri, aktivitas dan kerja sama sosial dengan semboyan “belajar sambil bekerja”. Herbart bahkan telah menyusun pola rangkaian cara menyampaikan bahan pelajaran, berturut-turut: persiapan, penyajian, asosiasi, generalisasi dan aplikasi. Tentu saja sifat dan luasnya usaha yang mereka hasilkan dan sumbangkan sesuai dengan zamannya, yaitu bahwa psikologi sebenarnya pada zaman itu belum berdiri sebagai ilmu pengetahuan yang otonom.
Akhir abad ke-19 penelitian-penelitian dalam lapangan psikologi pendidikan secara ilmiah sudah semakin maju. Di Eropa, Ebbinghaus mempelajari aspek daya ingatan dalam hubungannya dengan proses pendidikan. Dengan penelitiannya itu misalnya terkenallah Kurve Daya Ingatan, yang menggambarkan, bahwa kemampuan mengingat mengenai sejumlah objek kesan-kesannya semakin lama semakin berkurang (menurun), akan tetapi tidaklah hilang sama sekali.
Pada awal abad 20 pemerintah Prancis merasa perlu untuk mengetahui prestasi belajar para pelajar, yang dirasa semakin menurun. Pertanyaannya yang ingin dijawab, apakah prestasi belajar itu semata-mata hanya tergantung pada soal rajin dan malasnya si pelajar, ataukah ada faktor kejiwaan atau mental yang ikut memegang peranan. Maka untuk memecahkan problem itu ditunjuklah seorang ahli psikologi yang bernama Alfred Binet, Dengan bantuan Theodore Simon, mereka menyusun sejumlah tugas yang terbentuk dalam sebuah tes baku untuk mengetahui inteligensi para pelajar. Tes ini kemudian dikenal dengan tes inteligensi. Tes inteligensi Binet-Simon ini sangat terkenal, yang kemudian banyak dipakai di Amerika Serikat, yang di negeri itu mengalami revisi berkali-kali untuk mendapat tingkat kesesuaiannya dengan masyarakat atau orang-orang Amerika. Di antara para ahli yang mengambil bagian dalam revisi-revisi itu misalnya : Stern, Terman, Merril dan sebaagainya.
Perlu juga diketahui, bahwa laboratorium ciptaan Wundt di Leipzig juga tidak hanya melakukan aktivitas penelitian yang bersifat “psikologi umum”, melainkan juga memegang peranan dalam psikologi pendidikan. Banyak orang Amerika yang belajar di Leipzig kepada Wundt. Akibatnya setelah mereka mengembangkan psikologi itu di negaranya, termasuk psikologi pendidikan. Terkenallah psikologi pendidikan di Amerika misalnya Charles H. Judd, E.L. Thorndike, B.F. Skinner dan sebagainya. Orang-orang ini sangat besar pengaruhnya terhadap pendidikan di Amerika Serikat. Terutama E.L. Thorndike, sehingga ia dipandang sebagai Bapak Psikologi Pendidikan di Amerika Serikat. Menurut seorang pakar psikiatri dan psikologi Amerika Serikat yang bernama Perry London, yang telah meneliti tentang penggunaan jasa psikologi di Amerika Serikat, yang menggunakan jasa psikologi bagi lapangan-lapangan tertentu adalah : 25% merupakan para pendidik, 25% ahli psikologi klinis dan konsultan, 16% merupakan para peneliti psikologi sendiri, sedang yang 34% tersebar pada lapangan atau pakar yang lain.
Di Indonesia psikologi pada umumnya dan psikologi pendidikan pada khususnya sedang dalam proses perkembangan yang cepat. Pada mata pelajaran, misalnya di sekolah calon guru (HK, HIK, Hoofd Acte, dan sebagainya). Setelah merdeka dan dengan berdirinya Fakultas Psikologi di beberapa Universitas serta berdirinya FKIP atau IKIP di berbagai kota, maka psikologi pada umumnya atau psikologi pendidikan khususnya, tidak hanya dipelajari sebagai mata kuliah, melainkan juga diteliti sebagai ilmu pengetahuan. Hal ini memang amat perlu, karena psikologi atau psikologi pendidikan yang didasarkan penelitiannya pada orang-orang barat belum tentu sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia.
B. Pengertian Psikologi Pendidikan
Psikologi pendidikan adalah perkembangan dari psikologi perkembangan dan psikologi sosial, sehingga hampir sebagian besar teori-teori dalam psikologi perkembangan dan psikologi sosial digunakan di psikologi pendidikan. Psikologi pendidikan mempelajari bagaimana manusia belajar dalam setting pendidikan, keefektifan sebuah pengajaran, cara mengajar, dan pengelolaan organisasi sekolah.
Psikologi Pendidikan adalah studi, latihan atau bimbingan yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan ilmu kejiwaan. Jika dikaji lebih jauh, psikologi pendidikan berasal dari dua kata yaitu Psikologi dan Pendidikan.
Pengertian Psikologi
Psikologi secara etimologis, berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan “logos” atau ilmu. Jadi secara harfiah psikologi adalah ilmu jiwa atau bisa di sebut ilmu yang mempelajari kejiwaan.
Seorang ilmuwan Rebek, 1988 mengemukakan tentang psikologi, menurut Rebek “Psikologi pada mulanya di gunakan para ilmuwan dan para filosof untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam memahami akal pikiran dan tingkah laku aneka ragam makhluk hidup mulai dari yang primitif sampai yang modern. Namun ternyata tidak cocok, lantaran menurut para ilmuwan dan filosof, psikologi memiliki batasan-batasan tertentu yang berada di luar kaedah keilmuan dan etika falsafi. Kaidah saintifik dan patokan etika filosofi ini tak dapat di bebankan begitu saja sebagai muatan psikologi”.
William James menganggap psikologi sebagai ilmu pengetahuan tentang kehidupan mental. John B. Watson mengubah definisi psikologi menurut James menjadi ilmu pengetahuan tentang tingkah laku (behaviour) organisme.
Caplin mendefinisikan psikologi sebagai “… the science of human and animal behavior, the study of of the organisme in all its variety and complexity as it responds to the flux and flow of the physical and social events which make up the environment” (Psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai perilaku manusia dan hewan, juga penyelidikan terhadap organisme dalam segala ragam dan kerumitannya ketika mereaksi arus dan perubahan lingkungan).
Edwin G. Boring dan Herbert S. Langfeld mendefinisikan psikologi sebagai studi tentang hakikat manusia.
Poerbakawatja dan Harahap membatasi psikologi sebagai “cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan aas gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa”. Dimana gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa tersebut meliputi respon organisme dan hubungannya dengan lingkungannya.
Syah (1997:9) membuat kesimpulan tentang pengertian psikologi dari beberapa definisi di atas, dimana psikologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan membahas tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia, baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Lingkungan dalam hal ini meliputi semua orang, barang, keadaan dan kejadian yang ada di sekitar manusia.
Pengertian Pendidikan
Pendidikan berasal dari kata “didik”, Lalu kata ini mendapat awalan kata “me” sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran (Kamus Bahasa Indonesia, 2008). Pendidikan secara harfiah adalah usaha sadar yang di lakukan oleh pendidik terhadap peserta didik, untuk mewujudkan tercapainya perubahan tingkahlaku, budi pekerti, keterampilan dan kepintaran secara intelektual, emosional dan spiritual. Pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan
Menurut McLeod, dalam bahasa Inggris, education (pendidikan) berasal dari kata educate (mendidikan) artinya memberi peningkatan (to elicit, to give rise to), dan mengembangkan (to evolve, to develop). Dalam pengertian yang sempit, education atau pendidikan berarti perbuatan atau proses perbuatan untuk memperoleh pengetahuan.
Menurut Tardif, secara luas, pendidikan adalah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. Secara luas dan representatif, pendidikan ialah “… the total process of developing human abilities and behaviors, drawing on almost all life’s experience” (seluruh tahapan pengembangan kemampuan-kemampuan dan perilaku-perilaku manusia dan juga proses penggunaan hampir seluruh pengalaman kehidupan).
Menurut Poerbakawatja dan Harahap, pendidikan adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan si anak ke kedewasaan yang selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moril dari segala perbuatannya.
Menurut Dictionary of Psychology, pendidikan diartikan sebagai “… the institutional procedures which are employed in accomplishing the development of knowledge, habits, attitudes etc. Usually the term is applied to formal institution”. Jadi pendidikan berarti tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan (seperti sekolah, madrasah) yang dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu dalam menguasai pengetahuan, kebiasaan, sikap dan sebagainya. Pendidikan dapat berlangsung secara informal dan nonformal disamping secara formal seperti sekolah, madrasah dan institusi-institusi lainnya. Bahkan menurut definisi di atas, pendidikan juga dapat berlangsung dengan cara mengajar diri sendiri (self-instruction).
Pengertian Psikologi Pendidikan
Menurut Arthur S. Reber, psikologi pendidikan adalah sebuah subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal sebagai berikut :
1. Penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas
2. Pengembangan dan pembaharuan kurikulum
3. Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan
4. Sosialisasi proses-proses dan interaksi proses-proses tersebut dengan pendayagunaan ranah kognitif
5. Penyenggaraan pendidikan keguruan
Menurut Barlow, “educational psychology is a body of knowledge grounded in psychological research which provides a repertoire of resource to aid you in functioning more effectively in teaching learning process” (psikologi pendidikan adalah sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu anda melaksanakan tugas-tugas seorang guru dalam proses belajar mengajar secara efektif).
Menurut Tardif, psikologi pendidikan adalah sebuah bidang studi yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia untuk usaha-usaha kependidikan.
Menurut Witherington, psikologi pendidikan sebagai “a systematic study of process and factors involved in the education of human being” (studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia).
Psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan.
C. Ruang Lingkup Psikologi Pendidikan
Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :
• Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.
• Epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.
• Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan.
Pada dasarnya psikologi pendidikan membahas hal-hal sebagai berikut
• Hereditas dan Lingkungan
• Pertumbuhan dan Perkembangan
• Potensial dan Karakteristik Tingkah laku
• Hasil Proses Pendidikan dan Pengaruhnya Terhadap Individu yang Bersifat Personal dan Sosial
• Higiene Mental dan Pendidikan
• Evaluasi Hasil Pendidikan
Ruang lingkup psikologi pendidikan menurut Good & Broopy (1997) :
• Hubungan antara psikologi dengan guru
• Manajemen kelas : Perkembangan dan sosialisasi anak kepemimpinan dan dinamika kelompok, modelling, reward, punishment, extinction. Hasil – hasil penelitian manajemen kelas, persiapan dan pelaksanaan pengajaran yang baik.
• Mengurai masalah belajar : pengertian, prinsip, perbedaan individu dalam belajar, model dan desain belajar dan prinsip pengajaran
• Pertumbuhan dan perkembangan dalam pendidikan : Prinsop dalam perkembangan fisik, kognitif, sosial dan kepribadian, kreativitas dan aplikasinya dalam pendidikan
• Motivasi : Pengertian, teori dan aplikasinya dalam pendidikan
• Evaluasi dalam belajar : pengertian, macam, cara menyusun, prosedur penilaian, monitoring kemajuan siswa, validiras dan realibilitas penggunaan statistik dalam pengolahan hasil tes
Namun menurut Sumadi Suryobroto (1984) ruang lingkup psikologi pendidikan meliputi :
• Pengetahuan tentang psikologi pendidikan : pengertian ruang lingkup, tujuan mempelajari dan sejarah munculnya psikologi pendidikan
• Pembawaaan
• Lingkungan fisik dan psikologis
• Perkembangan siswa
• Proses – proses tingkah laku
• Hakekat dan ruang lingkup belajar
• Faktor yang mempengaruhi belajar
• Hukum dan teori belajar
• Pengukuran pendidikan
• Aspek praktis pengukuran pendidikan
• Transfer belajar
• Ilmu statistik dasar
• Kesehatan mental
• Pendidikan membentuk watak / kepribadian
• Kurikulum pendidikan sekolah dasar
• Kurikulum pendidikan sekolah menengah
D. Metode Psikologi Pendidikan
Metode merupakan cara yang digunakan atau jalan yang ditempuh menuju ketujuan tertentu. Maka metode psikologi pendidikan adalah cara yang digunakan atau jalan yang ditempuh untuk sampai pada tujuan psikologi pendidikan, yaitu mendapatkan asas-asas, pokok-pokok, atau prinsip-prinsip tentang tingkah laku anak didik dalam situasi pendidikan dan yang dapat membantu pendidikan. Dalam hal-hal tertentu dan dalam batas-batas tertentu, metode ini juga dapat dipergunakan oleh para pendidik atau para guru dalam memahami dan memecahkan problem-problem pendidikan.
Pada dasarnya metode itu meliputi usaha pengumpulan data, pengolahan dana penyimpulannya. Berikut ini dibahas beberapa metode yang lazim dipergunakan dalam psikologi pendidikan, dengan titik berat pada metode pengumpulan data.
Metode Observasi
Metode observasi adalah metode yang dilakukan dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap tingkah laku anak didik dalam situasi yang wajar, dilaksanakan dengan berencana, kontinyu dan sistematik, serta diikuti dengan upaya mencatat atau merekam secara lengkap. Dengan sifat wajar, berarti bahwa anak didik itu dalam keadaan tidak dibuat-buat dan tidak mengetahui anak didik itu sedang di observasi. Berencana berarti bahwa sebelum observasi dilaksanakan harus ada persiapan yang matang tentang aspek-aspek tingkah laku yang akan di observasi. Dengan kontinyu berarti bahwa dalam melaksanakan observasi harus bersambungan antara periode yang satu dengan periode yang lain. Dengan sistematik berarti bahwa aspek-aspek yang di observasi itu harus tersusun secar teratur, sehingga tidak sekedar tumpukan catatan tentang tingkah laku. Dengan upaya mencatat atau merekam tentu dengan mudah kita pahami karena jika hanya mengamati tanpa mencatat atau merekam, maka hasilnya mudah dilupakan. Dewasa ini dengan kemajuan teknologi, observasi itu semakin maju.
Metode Eksperimen dan Tes
Dengan metode eksperimen dengan sengaja diciptakan situasi buatan. Dalam pendidikan, dan pada situasi itu ditempatkan subjek penelitian tertentu. Kepada subjek di sampaikan perangsang-perangsang tentu untuk mendapatkan reaksi atau response tertentu. Kemudian respons itu di analisis untuk mendapatkan kesimpulan tertentu. Pada lazimnya digunakan dua kelompok subjek, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Mirip metode eksperimen adalah metode tes. Metode tes dilakukan dengan memberikan tugas yang dilakukan oleh subjek, baik tugas tertulis maupun tugas lisan. Perbedaannya dengan eksperimen, eksperimen akan memperoleh prinsip umum yang berkenaan dengan seluruh subjek, atau akan diperoleh suatu genelralisasi, sedangkan tes akan memperoleh perbedaan sifat-sifat individual setiap subjek. Pada eksperimen dapat digunakan tes sebagai alat, sedang pada tes digunakan item-item atau pola untuk dilakukan oleh para subjek, dan tidak mungkin test menggunakan eksperimen. Ada beberapa macam test misalnya test intelegensi, test sikap, test situasi, test kecepatan reaksi, dan test hasil belajar dan sebagainya.
Metode Kuesioner dan Interview
Kuesioner sering disebut juga angket (Prancis : enquete). Berupa daftar yang memuat sejumlah pertanyaan yang disampaikan kepada subjek untuk dikerjakan (dijawab). Jawaban-jawaban itu kemudian dianalisis dan disimpulkan. Pada umumnya jawaban itu sudah tersedia, sehingga subjek tinggal memilih jawaban yang tepat untuk setiap item. Ditinjau dari segi penjawab, dapat dibedakan atas dua macam, yaitu langsung (direct) dan tak langsung (indirect). Disebut langsung jika yang harus menjawab adalah subjek itu sendiri, dan disebut tak langsung jika yang menjawab harus menjawab adalah orang yang mengetahui hal-ihwalnya subjek itu.
Metode Ilmiah
Merupakan prosedur yang sistematik dalam memecahkan permasalahan dan merupakan suatu pendekatan objektif yang terbuka untuk dikritik, dikonfirmasikan, dimodifikasi atau bahkan mungkin ditolak kebenarannya oleh penelitian berikutnya. Digunakan untuk menyelesaikan permasalahan perilaku yang lebih kompleks yang harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Metode Diferensial
Digunakan untuk meneliti perbedaan-perbedaan individual yang terdapat di antara anak didik. Menggunakan berbagai macam teknik pengukuran (contoh: tes, angket, dsb) serta menggunakan statistik untuk menganalisis.
Metode Klinis
Digunakan untuk mengumpulkan data secara lebih rinci mengenai perilaku penyesuaian dan kasus-kasus perilaku menyimpang.
E. Peranan Psikologi Pendidikan
Menurut Moh Surya (1972), fungsi psikologi pendidikan untuk membantu para guru dalam mengembangkan pemahaman yang lebih baik mengenai pendidikan dan profesinya.
Menurut Chaplin (1972), fungsi psikologi pendidikan untuk membantu memcahkan masalah yang terdapat dalam dunia pendidikan yang meliputi guru, siswa, materi, metode, dalam masalah belajar-mengajar.
Terdapat beberapa macam-macam kegiatan yang memerlukan prinsip psikologis :
• Seleksi penerimaan siswa baru
• Perencanaan pendidikan
• Penyusun kurikulum
• Penelitian kependidikan
• Administrasi kependidikan
• Pemilihan materi pelajaran
• Interaksi belajar-mengajar
• Pelayanan bimbingan dan konseling
• Evaluasi belajar
Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari psikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Proses Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupakan beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya tidak bisa dilepaskan dari psikologi.
Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogyanya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilakunya secara efektif.
Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing, pendidik dan pelatih bagi para peserta didiknya, tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya, terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya, sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah.
Di sinilah arti penting Psikologi Pendidikan bagi guru. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru, yakni kompetensi pedagogik. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa “diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik”.
Dengan memahami psikologi pendidikan, seorang guru melalui pertimbangan-pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat :
1. Merumuskan tujuan pembelajaran secara tepat
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru akan dapat lebih tepat dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran. Misalnya, dengan berusaha mengaplikasikan pemikiran Bloom tentang taksonomi perilaku individu dan mengaitkannya dengan teori-teori perkembangan individu.
2. Memilih strategi atau metode pembelajaran yang sesuai
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru dapat menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami siswanya.
3. Memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling
Tugas dan peran guru, di samping melaksanakan pembelajaran, juga diharapkan dapat membimbing para siswanya. Dengan memahami psikologi pendidikan, tentunya diharapkan guru dapat memberikan bantuan psikologis secara tepat dan benar, melalui proses hubungan interpersonal yang penuh kehangatan dan keakraban.
4. Memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik
Memfasilitasi artinya berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa, seperti bakat, kecerdasan dan minat. Sedangkan memotivasi dapat diartikan berupaya memberikan dorongan kepada siswa untuk melakukan perbuatan tertentu, khususnya perbuatan belajar. Tanpa pemahaman psikologi pendidikan yang memadai, tampaknya guru akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator maupun motivator belajar siswanya.
5. Menciptakan iklim belajar yang kondusif
Efektivitas pembelajaran membutuhkan adanya iklim belajar yang kondusif. Guru dengan pemahaman psikologi pendidikan yang memadai memungkinkan untuk dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas, sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan.
6. Berinteraksi secara tepat dengan siswanya
Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan memungkinkan untuk terwujudnya interaksi dengan siswa secara lebih bijak, penuh empati dan menjadi sosok yang menyenangkan di hadapan siswanya.
7. Menilai hasil pembelajaran yang adil
Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan dapat mambantu guru dalam mengembangkan penilaian pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis penilaian, pemenuhan prinsip-prinsip penilaian maupun menentukan hasil-hasil penilaian.

Tipologi Spranger

A. Pokok-pokok Tipologi Spranger

Pokok-pokok pikiran Spranger mengenai kepribadian manusia adalah sebagai yang dikemukakan berikut ini:
1. Dua Macam Roh (Gest)
Spranger membedakan adanya dua macam roh (Gaits) yaitu:
1). Roh subjektif atau roh individual (subjektive geits, individualis gaits) yaitu roh yang terdapat pada manusia masing-masing (individual). Roh ini merupakan struktur yang bertujuan.
• Roh individual itu merupakan struktur, karena roh individual itu harus dapat dipahami kalau dapat ditinjau sebagai anggota dari pada struktur yang lebih tinggi, yaitu kebudayaan.
• Roh individual itu bertujuan, yaitu mencapai atau menjelmakan nilai tertentu, dan karenaitu juga hanya dapat dipahami dengan jalan memahami sistem nilai-nilai tertentu.struktur nilai yang lebih tinggi adalah roh subjektif.
2) Roh sebjektif atau roh supra-individual, atau kebudayaan (objective Geist, Ubar indivisdualle Geits, kultur) yaitu roh seluruh umat manusia, yang dalam concreto-nya merupakan kebudayaan yang telah terjelma dalam berkembang selama berabad-abad bersama-sama manusia-manusia individual.

2. Hubungan antara Roh Subjektif dan Roh Objektif
Roh sebjektif dan roh objektif sangat berhubungan secara timbal balik. Roh subjektif atau roh individual, yang mengandung nilai-nilai yang terdapat pada masing-masing individu, dibentuk dan dipupuk dengan acuan roh objektif. Individu tidak dapat mengelak atau melepaskan diri dari pengaruh roh objektif, dalam roh objektif juga tidak dapat dipisahkan dari roh subjektif atau roh individual. Sebab individu-individualah yang dari abab keabad menciptakan nilai budaya itu. Nilai-nilai budaya akan lenyap jika sekiranya manusia-manusia sebagai individu tidak mendukungnya serta menghayatinya, karena itu bagaimanapun juga dalam saling hubungan antara roh subjektif dan roh objektif tetap primer dan, dan roh objektif tetap sekunder. Manusia menerima kebudayaan yang telah ada dan mengembangkan kebudayaan itu dengan penciptaan-penciptaan baru. Jadi manusia sebagai penduking roh senjektif dalam hubunganya dengan kebudayaan tempat dia ada.
3. Lapangann-lapangan Hidup
Kebudayaan oleh Spranger dipandang sebagai sistem nilai-nilai, karena kebudayaan itu tidak lain adalah kumpulan nilai-nilai kebudayaan yang tersusun atau diatur menurut struktur tertentu. Kebudatyaan sebagai sistem atau struktur nilai-nilai ini oleh spranger digolongkan menjadi enam lapangan nillai
1. Ekonomi
2. Politik
3. Social
4. Ilmu pengetahuan




Keenam nilai ini atau lapangan hidup masih dikelompok-kelompokkan lagi menjadi dua kelompok:

a. Nilai yang bersangkitan dengan manusia sebagai individ, yang meliputi empat lapangan nilai, yaitu nilai pengerahuan,nilai ekonomi, nilai kesenian, dan nilai keagamaan.
b. Nilai yang bersangkutan dengan manusia sebagai anggota masyarakat. Lapangan nilai ini mengangkut manusia dengan kekuatan cinta (macht der leabe) dan cinta akan kekuasaan (liabe zur macht). Kelompok ini mencakup dua nilai yaitu nilai kemasyarakatan dan nilai politik.

4.Tipologi Spranger roh
a. Enam tipe manusia
Roh subjektif, sebagi srtuktur atau system nilai dalam masing-masing individu yang terbentuk dan berkembang olen pengaruh-pengaruh dasar, pendidikan dan pedoman kepada roh subjektif sebagai cita-cita yang harus dicapai juga mangandung keenam nilai kebudayaan. Walau pun roh subjektif mengandung enam nilai kebudayaan itu, nilai yang dominan inilah yang member corak atau bentuk kepada kepribadian. Maka spinger menggolongkan manusia menjadi enam ayau emnam tipe yaitu:
1) Manusia ekonomi
Adapun sifat-sifatnya: Senang bekerja,Senang mengumpulkan harta, Agak karir, Bangga dengan hartanya


2) Manusia politik
Adapu sifat-sifatnaya: Ingin berkuasa, Tidak ingin kaya, Berusaha menguasai orang lain, Kurang mencintai kebenaran
3) Manusia social
Adapun sifat-sifatnya; Senang berkorban, Senang mengabdi kepada Tuhan,Mencintai masyarakat, Pandai bergaul .
4) Manusia pengetahuan
Adapun sfiat-sifanya: senang membaca, gemar berfikir dan belajar, tidak ingin kaya, ingin serba tahu
5. Manusia agama
Adapun sifat-sifatnya, Hidupnya untuk Tuhan dan akhirat, Senang memuja, Kurang seneng harta, Senang menolong orang lain
6. Manusia seni
Adapun sifat-sifatnya ; Hidup bersahaja, Senang menikmati keindahan, Gemar mencipta, Mudah bergaul dengan siapa saja.

Tipe-tipe yang dikemukakan oleh spranger itu hanyalah merupakan tipe–tipe pokok atai ideal. Akan tetapi menurut spinger dengan tipe-tipe ideal ini orang dapat cepat menetapkan individu yang dihadapinya paling dekat dengan tipe yang mana.




b. Pencenraan tipe-tipe
1. Manusia teori adalah seorang itelektualis sejati, manusia ilmu. Cita-cita utamanya adalah mencapai kebenarannya dan hakikatnya daripada benda-benda. Tujuan yang dikejar oleh manusia teori adalah pengetahuan yang ojektif,
2. Manusia ekinomi adalah manusia yang selalu kaya akan gagasan-gagasan yang praktis kurangg memperhatikan bentuk tindakan yang dilakukanya.
3. Manusia estetis adalah manusia yang menghayati kehidupan seakan-akan tidak sebagai pemain tetapi sebagaii penonton. Manusia estetis ini cenderung kearah individualis
.4. Manusia agama adalah menurut spinger inti dari halo keagamaan itu terletak dalam pecarian terhadap nilai tertinggi daripada keberadaan ini , siapa yang belum mantap akan hal ini belumlah mencapai apa yang seharusnya dikejarnya,, dia belum sembunyi dasar yang kuat bagi hidupnya.
5. Manusia sosial, sifat utama dari pada manusia golongan tipe ini adalah besar kebutuhanya akan ada resonansi dari semua manusia.nilai yang dipandangnya sebagai nilai yang palingtinggi adalah “cinta terhadap manusia” baik yang tertuju kepada individu tertentu maupun yang tertuju kepada kelompok manusia.
6. Manusia kuasa, manusia kuasa bertujuan untuk mengejar kesenangan dan kesadaran akan kekuasaanya sendiri.

c. diferensiansi tipe-tipe
Keenam tipe yang baru saja dikemukakan pencanreaanya itu adalah tipe-tipe pokok. Spranger tidak berhenti dengan mengemukakan tipe-tipe pokok itu saja, tetapi dia masih mengemukakan diferensiasi tipetipe dan kombinasi tipe-tipe.

B. ARTI TEORI SPANGER
1. Teori spranger walaupun banyak mengandung kelemahan, namun dalam kenyataanya besar pengaruknya. Banyak para ahli yang memilih teori spranger untuk bahan penyusunan konsepsinya. Pengaruh itu tidak terbatas pada lapanganpsikologi kepribadian saja, tapi juga meluas kepada psikologi yang lainya.
2. Disampi segi positifnya itu teori sepranger tidak luput dari kelemahan-kelemahan



Tipologi Spranger
1. Dua macam rohk (Geist)
Pertama-tama spranger membedakan adanya dua macam rokh (Geist), yaitu:
a) Rokh subjektif atau rokh individual, yaitu rokh yang terdapat pada manusia masing-masing (individu)
b) Rokh objektif atau rokh supra individual, yaitu rokh seluruh umat manusia, yang dalam keadaan konkritnya merupakan kebudayaan yang telah terjelma selama berabad-abad.
2. Hubungan antara rokh subjektif dan rokh abjektif
Rokh subjektif dan objektif itu berhubungan secara timbal balik. Rokh subjektif atau roh individual, yang mengandung nilai-nilai yang terdapat pada masing-masing individu, dibentuk dan dipupuk dengan rokh objektif, artinya rokh subjektif tersebut berbentuk dan berkembang dengan memakai rokh objektif sebagai norma.
3. Lapangan-lapangan hidup
Kebudayaan oleh Spranger dipandang sebagai sistem nilai-nilai, karena kebudayaan itu tidak lain adalah kumpulan nilai-nilai kebudayaan yang tersusun menurut sistem atau struktur tertentu.
a) Lapangan pengetahuan (ilmu, teori)
b) Lapangan ekonomi
c) Lapangan kesenian
d) Lapangan keagamaan
e) Lapangan kemasyarakatan
f) Lapanagan politik

KOGNITIF dan BAHASA

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Perkembangan merupakan perubahan yang bersifat kualitatif yaitu sifat perubahan yang tidak bisa diukur secara kuantiti tetapi ternyata peubahan sudah berlaku yang melihatkan sifat berlainan dari pada peringkat terdahulu. Perkembangan kognitif dan bahasa tidak berkembang dalam suatu situasi sosial yang hampa. Perkembangan kognitif terjadi secara bertahap dan dicirikan dengan gaya berfikir yang berbeda-beda. Bahasa merupakan urutan respon, atau sebuah imitasi. Bahasa dipahami dalam suatu urutan tertentu.
Oleh kerena itu, pada setiap taham di dalam tahap perkembangan, interaksi linguistik anak. Pekembangan pemahaman bahasa pada anak bukan hanya dipengaruhi oleh kondisi biologis anak, tetapi lingkungan bahasa disekitar anak sejak usia dini jauh lebih penting. Bahasa baru tampil ketika anak sudah mencapai tahap perkembanagn yang cukup maju. Pengalaman berbahasa anak tergantung pada tahap perkembangan kognitif saat itu,
Selain itu, anak-anak lahir dengan fungsi mental yang relatif dasar seperti kemampuan untuk memahami dunia luar dan memusatkan perhatian. Sehingga untuk dapat memahami perkembangan kognitif dan bahasa peserta didik maka pendidikan menyediakan organisasi dan alat-alat yang berguna bagi aktivitas kognitif seperti: sekolah, perguruan tinggi, dan instansi-instansi yang lain.

2. Permasalahan
1. Apa yang dimaksud dengan kognitif dan bahasa
2. Bagaimana perkembangan kognitif dan bahasa

3. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui tentang bagaimana perkembangan kognisi dan bahasa
2. Memahami konsep perkembangan kognisi dan bahasa
3. Mengetahui manfaat mempelajari perkembangan kognisi dan bahasa





PEMBAHASAN

A. PERKEMBANGAN KOGNITIF
1. Pengertian kognitif
Perkembangan kognitif merupakan salah satu perkembangan manusia yang berkaitan dengan pengetahuan, yakni semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individeu mempelajari dan memikirkan lingkungannya.
Menurut Drever (Kuper & Kuper, 2000) disebutkan bahwa ” kognisi adalah istilah umumyang mencakup segenap model pemahaman, yakni persepsi, imajinasi, penangkapan makna, penialain, dan penalaran”.
Sedangkan menurut Piaget (Hetherington & Parke, 1975) menyebutkan bahwa ” kognitif adalah bagaimana anak beradaptasi dan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian di sekitarnya”. Pieget memandang bahwa anak memainkan peran aktif di dalam menyusunpengetahuannya mengenai realitas, anak tidak pasif menerima informasi. Selanjutnya walaupun proses berpikir dan konsepsi anak mengenai realitas telah dimodifikasi oleh pengalamannya dengan dunia sekitar dia, namun anak juga aktif menginterpretasikan informasi yang ia peroleh dari pengalaman, serta dalam mengadaptasikannya pada pengetahuan dan konsepsi.

2. Teori Perkembangan Kognitif
Dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Untuk pengembangan teori ini, Piaget memperoleh Erasmus Prize. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:
• Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
• Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
• Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
• Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)

a. Periode sensorimotor
Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:
1. Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
2. Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
3. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
4. Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
5. Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
6. Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.
b. Periode praoperasional
Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.
c. Periode operasional konkrit
Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:
Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.
d. Periode operasional formal
Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.


3. Informasi umum mengenai tahapan-tahapan
Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
• Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.
• Universal (tidak terkait budaya)
• Bisa digeneralisasi: representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan
• Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis
• Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi)
• Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif
4. Proses perkembangan
Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan lingkungan. Dengan berinteraksi tersebut, seseorang akan memperoleh skema. Skema berupa kategori pengetahuan yang membantu dalam menginterpretasi dan memahami dunia. Skema juga menggambarkan tindakan baik secara mental maupun fisik yang terlibat dalam memahami atau mengetahui sesuatu. Sehingga dalam pandangan Piaget, skema mencakup baik kategori pengetahuan maupun proses perolehan pengetahuan tersebut. Seiring dengan pengalamannya mengeksplorasi lingkungan, informasi yang baru didapatnya digunakan untuk memodifikasi, menambah, atau mengganti skema yang sebelumnya ada. Sebagai contoh, seorang anak mungkin memiliki skema tentang sejenis binatang, misalnya dengan burung. Bila pengalaman awal anak berkaitan dengan burung kenari, anak kemungkinan beranggapan bahwa semua burung adalah kecil, berwarna kuning, dan mencicit. Suatu saat, mungkin anak melihat seekor burung unta. Anak akan perlu memodifikasi skema yang ia miliki sebelumnya tentang burung untuk memasukkan jenis burung yang baru ini.

- Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya. Dalam contoh di atas, melihat burung kenari dan memberinya label "burung" adalah contoh mengasimilasi binatang itu pada skema burung si anak.
- Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali. Dalam contoh di atas, melihat burung unta dan mengubah skemanya tentang burung sebelum memberinya label "burung" adalah contoh mengakomodasi binatang itu pada skema burung si anak.
Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.
Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya.
5. Isu dalam perkembangan kognitif
Isu utama dalam perkembangan kognitif serupa dengan isu perkembangan psikologi secara umum.

a. Tahapan perkembangan
- Perbedaan kualitatif dan kuantitatif
Terdapat kontroversi terhadap pembagian tahapan perkembangan berdasarkan perbedaan kualitas atau kuantitas kognisi.
- Kontinuitas dan diskontinuitas
Kontroversi ini membahas apakah pembagian tahapan perkembangan merupakan proses yang berkelanjutan atau proses terputus pada tiap tahapannya.
- Homogenitas dari fungsi kognisi
Terdapat perbedaan kemampuan fungsi kognisi dari tiap individu

b. Natur dan nurture
Kontroversi natur dan nurtur berasal dari perbedaan antara filsafat nativisme dan filsafat empirisme. Nativisme mempercayai bahwa pada kemampuan otak manusia sejak lahir telah dipersiapkan untuk tugas-tugas kognitif. Empirisme mempercayai bahwa kemampuan kognisi merupakan hasil dari pengalaman.

c. Stabilitas dan kelenturan dari kecerdasan
Secara relatif kecerdasan seorang anak tetap stabil pada suatu derajat kecerdasan, namun terdapat perbedaan kemampuan kecerdasan seorang anak pada usia 3 tahun dibandingkan dengan usia 15 tahun.

6. Sudut pandang lain
Pada saat ini terdapat beberapa pendekatan yang berbeda untuk menjelaskan perkembangan kognitif.
a. Teori perkembangan kognitif neurosains
Kemajuan ilmu neurosains dan teknologi memungkinkan mengaitkan antara aktivitas otak dan perilaku. Biologis menjadi dasar dari pendekatan ini untuk menjelaskan perkembangan kognitif. Pendekatan ini memiliki tujuan untuk dapat mengantarai pertanyaan mengenai umat manusia yaitu :
- Apakah hubungan antara pemikiran dan tubuh, khususnya antara otak secara fisik dan mental proses
- Apakah filogeni atau ontogeni yang menjadi awal mula dari struktur biologis yang teratur

e. Teori Konstruksi pemikiran-sosial
Selain biologi, konteks sosial juga merupakan salah satu sudut pandang dari perkembangan kognitif. Perspektif ini menyatakan bahwa lingkungan sosial dan budaya akan memberikan pengaruh terbesar terhadap pembentukan kognisi dan pemikiran anak. Teori ini memiliki implikasi langsung pada dunia pendidikan. Teori Vygotsky menyatakan bahwa anak belajar secara aktif lebih baik daripada secara pasif. Tokoh-tokohnya diantaranya Lev Vygotsky, Albert Bandura, Michael Tomasello

f. Teori Theory of Mind (TOM)
Teori perkembangan kognitif ini percaya bahwa anak memiliki teori maupun skema mengenai dunianya yang menjadi dasar kognisinya. Tokoh dari ToM ini diantaranya adalah Andrew N. Meltzoff.

B. BAHASA
1. Pengertian bahasa
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri; percakapan (perkataan) yang baik, tingkah laku yang baik, sopan santun.Sumber : S.S, Daryanto. 1997. Kamus Besar Indonesia

2. Perkembangan bahasa dalam sejarah
Abad Permulaan bahasa merupakan perjanjian yang disengaja antar manusia. Pandangan ini dianut oleh aliran sofisme. Yang bertentangan dengan padangan ini adalah aliran stoicijn yang memandang bahasa sebagai kecakapan alamiah.
Pandangan Plato dan Aristoteles menjembatani kedua pandangan tersebut diatas. Filsafat bahasa sebagai suatu disiplin sendiri dalam filsafat baru timbul sejak Wilhelm Von Humboldt pada tahun 1966-1835. Dengan adanya perbandingan ilmu-ilmu bahasa, maka studi yang sistemtis mengenai susunan bahasa yaitu hubungan antara berpikir dan berbahasa antara fungsi ekspresi dan fungsi untuk melukiskan dalam berbahasa.
Bagi Psikologi yang sebagian berakar pada filsafat, maka bahasa sejak mula merupakan objek studi yang pokok. Para pioneer dalam psikologi perkembangan telah memberikan sumbangan yang sangat penting mengenai pengertian perkembangan bahasa.
Dengan bukunya Die Krise der Psychologie yang pada tahun 1965, Buhler ingin mengajukan kritik untuk dapat mengatasi krisis dalam psikologi. Ia mendasarkan diri pada arti kata Yunani Krino = Saya membedakan. Dia membuat teorinya yang merupakan reaksi yang beralasan terhadap pendekatan-pendekatan behavioristik serta pendekatan Wundt bersifat bewusst sein psychologysch. Wundt mendasarkan teori bahasanya pada aksiom parallel, artinya bahwa gerakan-gerakan fisik merupakan pernyataan gerakan-gerakan psikis, jadi paralelisme antara gejala batin dan gejala luar.
Buhler memberikan kritik terhadap pendapat Wundt ini. Wundt selanjutnya mengatakan ada perbedaan dalam gerakan-gerakan ekspresi hewan dan manusia. Bahasa yang terdiri dari suara-suara tadi berkembang menjadi sektor sendiri melepaskan dari gerakan-gerakan ekspresi.
Buhler menentukan 3 macam faktor yg menentukan dalam teori bahasa :
1. Appell, yaitu apabila kita ingin menyatakan sesuatu harus ada orang lain yang dapat dicapai oleh pernyataan tadi.
2. Ausdruck, yaitu bahasa mempunyai fungsi ekspresif.
3. Darstellung, yaitu bahasa memiliki fungsi untuk melukiskan sesuatu, meletakkan atau mengerti hubungan antara yang satu dengan ang lain, dapat memformulasi ide-ide.
Semantik menunjukkan adanya dwi – tunggal : Seorang yang memberikan tanda dan seorang yang menerima tanda atau si pemberi tanda dan si penerima tanda. Bahasa sebagai alat komunikasi mempunyai fungsi social. Fungsi sosialnya ada dalam semantik. Bahasa selalu termasuk dalam jaringan social dan bahasa mempunyai fungsi – fungsi ekspresif.
3. Keadaan sekitar 1965
Ahli linguistic Chomsky tahun 1959 mengenai “Verbal Behavior” nya Skinner mempublikasikan bukunya “Syntactic Structuress” dalam publikasi ini banyak diskusi, hasil-hasil penelitian di tinjau dari sudut pandangan yang lain, penelitian-penelitian baru mulai diadakan dan pandngan-pandangan baru yang berbeda-beda timbul. Chomsky tidak hanya menyelidiki :
1. Perkembangan bahasa
2. Epistemologi filsafat
3. Perkembangan kognitif
Berdasarkan Ceramah Frank Kessel 28–10-1974 maka perhatian pada sekitar tahun 1965 tertuju pada hal-hal dan pernyataan-pernyataan :
1. Sintaksis anak
2. Produksi kata-kata anak
3. Muncul pengertian : perkembangan bahasa yang sesungguhnya dimulai sekitar umur 1½ tahun selesai pada kurang lebih tahun ke 4 dan ke 5
4. Kemungkinan linguistik apa ? ; struktur semantik apa ?
5. Apakah ada stadium-stadium yang universal dalam bahasa ?
6. Keyakinan bahwa peranan lingkungan sangat kecil dalam perkembangan bahasa
7. Perhatian ditujukan pada bahasa egosentrik anak
8. Timbul Head Start Project
Perlu dikemukakan bahwa dari kedelapan hal yang dikemukakan tersebut masih ada satu yang menjadi pusat perhatian : kemungkinan-kemungkinan linguistik dan yang berhubungan dengan itu : struktur semantik, perkembangan semantik, dan arti bahasanya.
4. Pandangan yang Nativisme
Menurut pandangan yang nativistik atau organismis maka struktur bahasa telah ditentukan secara biologis. Tokoh yang penting dari pandangan ini adalah ahli linguistic : Chomsky. Masih sedikit penelitian yang menguji hipotesis ini. Pendapat ini didukung oleh hasil penelitian :
1. Penelitian mengenai timbulnya kalimat negative pertama
2. Bentuk pertanyaan pertama
3. Penelitian mengenai relasi dasar tata bahasa
Mengenai butir yang pertama, dapat dikatakan bahwa pada kalimat pertama yang berstruktur tata bahasa sudah ada kalimat negatifnya. Misalnya suatu kalimat yang menunjukkan sesuatu diberi suatu morfeem yang menunjukkan negasi, misalnya kalimat : makan pisang diberi morfeem tidak menjadi atau tidak makan pisang. Di duga bahwa pada bahasa-bahasa lain juga terdapat cara pengingkaran seperti itu. Peningkatan dalam bahasa anak mempunyai persamaan dengan pengingkaran yang terdapat pada struktur dalam atau struktur inti kalimat orang dewasa.
Mengenai butir yang kedua kalimat pertanyaan juga sudah nampak dalam perkembangan bahasa anak sejak awal. Dalam sementara buku pelajaran masih dikemukakan bahwa umur 3 tahun dianggap sebagai umur bertanya, karena sekitar umur ini anak selalu ingin bertanya dan selalu ingin mengerti segalanya, mengapa itu, begini atau begitu. Juga dalam hal ini bentuk kalimat pertanyaannya menunjukkan persamaan dengan struktur dalam atau struktur inti kalimat orang dewasa.
Mengenai butir yang ketiga, pertanyaan yang tetap mengenai fungsi bagian kalimatnya, baru dapat dilakukan bila bagian itu mempunyai hubungan dengan struktur dalamnya suatu kalimat. Dari struktur luarnya atau struktur permukaannya, fungsi-fungsi tersebut belum dalam diketahui. Dalam hubungan ini telah diadakan analisis mengenai berbagai relasi dalam tata bahasa yang selalu ada hubungannya dengan struktur dalamnya suatu kalimat yang diduga bersifat universal bagi bahasa yang berbeda-beda.
5. Pandangan Empiris
Pandangan ini bertitik tolak pada pendapat bahwa anak dilahirkan tidak membawa kemampuan apa-apa. Ia masih perlu banyak belajar, juga belajar berbahasa yang dilakukan anak melalui imitasi, belajar model, belajar dgn reinforcement (Skinner), teori stimulus respons untuk menerangkan perkembangan bahasa teori belajar sosial (Bandura), mencoba menerangkannya dari sudut pandangan teori sosial belajarnya. Dia berpendapat bahwa anak belajar bahasa karena menirukan suatu model. Tingkah laku imitasi ini tidak mesti harus menerima reinforcement, sebab belajar model dalam prinsipnya lepas dari reinforcement dari luar. Pendapat–pendapat ini belum dapat menerangkan mengapa anak-anak pada suatu saat membuat kalimat-kalimat baru yang belum pernah dibuat sebelumnya dan mengapa anak membuat suara-suara baru dalam awal perkembangan bahasa yang tidak dipelajari melalui imitasi dari luar.
Memang teori belajar dapat memberikan pengertian mengenai peranan interaksi antara ibu dengan anaknya yang sedang belajar bahasa, interaksi bahasa antara ibu dan anak menentukan apakah anak dapat meluaskan kompetensi bahasanya atau tetap tinggal pada kompetensi yang relatif sederhana, anak belajar untuk meluaskan kalimat.
Piaget dengan teori interaksinya menitikberatkan akan aktivitas anak, akan sikap manipulasi dengan benda-benda. Anak bertingkah laku aktif dengan sekeliling atas dasar struktur pengertian yang sudah ada, anak mendapat pandangan baru, struktur pengertian baru.
6. Pandangan Ekologi
Satu peran lingkungan yang membangkitkan rasa ingin tahu dalam penguasaan bahasa pada anak kecil disebut motherese, yakni cara Ibu dan orang dewasa sering berbicara pada bayi dengan frekuensi dan hubungan yang lebih luas daripada normalnya, dan dengan kalimat-kalimat yang sederhana. Sulitnya berbicara dengan cara ini apabila tidak ada bayi. Tetapi segera Anda mulai berbicara dengan seorang bayi, Anda segera mengubah gaya bicara Anda menjadi cara Ibu. Banyak diantara cara berbicara ini bersifat otomatis dan sesuatu yang kebanyakan orang tua tidak menyadari apa yang sedang mereka lakukan. Cara Ibu berbicara dengan bayi memiliki fungsi menarik perhatian bayi dan terus menjaga terjadinya komunikasi. Ketika orang tua ditanyakan mengapa mereka menggunakan cara berbicara bayi mereka mengatakan bahwa cara berbicara bayi itu dirancang untuk mengajarkan bayi mereka berbicara. Teman-teman sebaya bayi yang lebih besar juga berbicara dengan cara berbicara bayi dengan bayi lain walaupun pengamatan terhadap saudara-saudara kandung menunjukkan bahwa gambaran afeksional berkurang ketika muncul persaingan saudara kandung.
Ada strategi lain selain cara berbicara ibu dengan bayi (motherese) yang digunakan oleh orang dewasa untuk memperkaya penguasaan bahasa anak. Strategi itu adalah: pertama, menyusun ulang (recasting), kedua, menggemakan (echoing), ketiga memperluas (expanding), dan yang terakhir adalah memberi nama (labelling). Menyusun ulang adalah pengucapan makna suatu kalimat yang sama atau yang mirip dengan cara yang berbeda, barangkali dengan mengubahnya menjadi suatu pertanyaan. Menggemakan ialah mengulangi apa yang anak katakan kepada Anda, khususnya kalau perkataan itu adalah suatu ungkapan atau kalimat yang tidak sempurna. Memperluas ialah menyatakan ulang apa yang telah anak katakan dalam bahasa yang secara linguistik “canggih”. Memberi nama ialah mengidentifikasi nama-nama benda. Penggunaan labelling ini sering dilakukan oleh orang tua ketika mereka mencoba mengidentifikasi apa yang bayi lakukan saat ini.
Chomsky mengatakan, kalau pencapaian linguistik anak-anak pada ummnya terlalu besar untuk bisa dijelaskan jika kita beranggapan hal itu diajarkan oleh lingkungan. Menurutnya, membandingkan perkembangan gramatika dengan pertumbuhan organ-organ fisik, seperti jantung atau alat-alat penglihatan embrionik. Disini sangat jelas kalau struktur-struktur yang muncul terlalu rumit untuk bisa dijelaskan hanya lewat masukan lingkungan (seperti oxygen atau nutrisi). Lingkungan memang vital, namun ia hanya mendukung atau mengaktifkan pola-pola yang secara intrinsik sudah ditentukan. Dengan cara yang sama sederhananya, lingkungan linguistik utamanya memacu pengkonstruksian sistem-sistem gramatika yang polanya sudah ditentukan oleh cetak biru genetik manusia.
Menurut Chomsky, penyiapan parameter oleh anak ini bukanlah masalah yang sulit, sama seperti kita menyiapkan pergantian + atau -. Selain itu, jumlah pergantian yang harus disiapkan juga tidak banyak. Karena itu, persyaratan gramatika yang dibutuhkan hanyalah sejumlah kecil masukan dari lingkungan.
7. Pandangan Behavior
Para pakar perilaku memandang bahasa sama seperti perilaku lainnya, misalnya duduk, berjalan, atau berlari. Mereka berpendapat bahwa bahasa hanya merupakan urutan respon atau sebuah imitasi. Tetapi banyak diantara kaliamat yang kita hasilkan adalah baru; kita tidak mendengarnya atau membicarakannya sebelumnya. Misalnya seorang anak mendengar kalimat “piring jatuh ke lantai” dan kemudian mengatakan “cerminku jatuh ke selimut”, setelah menjatuhkan cermin ke atas selimut. Mekanisme penguatan dan imitasi perilaku tidak dapat secara sempurna menjelaskan hal ini.

8. Pandangan Kognitif
Pada dasawarsa yang lalu, suatu pemahaman baru tentang perkembanan kognitif bayi mulai berkembang. Selama bertahun-tahun, landasan Piaget begutu dikenal dan dihargai secara luas sehingga banyak psikolog berkesimpulan : bayi manusia melampaui suatu periode yang panjang dan berkelanjutan dimana mereka masih belum dapat berpikir. Bayi dapat mengenal benda-benda dan tersenyum kepada benda-benda itu, merangkak dan memanipulasi benda-benda, tetapi bayi belum memiliki konsep dan gagasan atas benda-benda itu. Piaget yakin bahwa ketika bayi mulai memasuki tahap akhir perkembangan sensori motorik pada kira-kira usia 1,5 hingga 2 tahun barulah bayi benar-benar belajar bagaimana mengenali dunia sekitarnya secara simbolis dan konseptual.

9. Permulaan bicara : meraban ( mengoceh)
Suara pertama yang dilakukan anak adalah jerit tangis pada waktu dilahirkan. Tangis pertama ini berguna untuk memungkinkan anak dapat bernapas, karena mulai saat itu anak harus bernapas sendiri.
Suara-suara yang dikeluarkan anak dapat dibedakan antara suara tangisan dan ocehan. Tangis menunjukkan keadaan tidak senang, sedangkan ocehan menunjukkan rasa senang dan kepuasan. Tangis merupakan appel dan ekspresi menurut Buhler. Tangis bukan gejala yang berdiri sendiri, tangis adalah tingkah laku refleks terhadap sesuatu karena menunjukkan ketidaknyamanan, sekaligus menginginkan reaksi sekelilingnya.
Van Ginneken (1917) dalam bukunya Roman Van een Kleuter menceritakan mengenai Keesje bahwa suara-suara pertama huruf hidup / vocal, tangis terletak pada dasar vokalisasi, ketawa pada dasar artikulasi.
Gregori ( 1937) dalam bukunya Liapprentissge du Lagage bahwa suara pertama a, i, u, e, o . Alat fonetiknya masih sangat rudimenter. Kedua tokoh tersebut berpendapat bahwa bahasa mempunyai dasar fisiologis. Suara-suara pertama oleh kedua tokoh tersebut dianggap mempunyai dasar fisiologis-biologis merupakan proses emosional karena rasa nyaman dan tidak nyaman tadi memang ditentukan oleh faktor-faktor fisiologis, namun mempunyai arti emosional juga. Meraban dimulai umur 3 bulan diakhiri 9 – 12 bulan. Meraban atau mengoceh mempunyai variasi yang lebih banyak daripada menangis, mulai bulan ke-6 ocehan mempunyai fungsi komunikatif, ada waktu istirahat ± 4 minggu dari ocehan bisa menjadi ocehan yang bersifat komuniktif. Pada umumnya ±10 bulan anak mulai menirukan kata-kata.
10. Kalimat satu kata dan kalimat dua kata
Satu kata yang diucapkan anak harus dianggap sebagai satu kalimat penuh, contoh : kursi diartikan “saya mau duduk di kursi”. Kata-kata pertama anak tidak bisa dipandang sebagai penyebutan objek murni, mereka mempunyai isi psikologis yang bersifat intelektual, emosional, volisional (anak menunjukkan mau dan tidak mau akan hal sesuatu). ± 6 bulan fonem-fonem ini digabung menjadi kombinasi suara yang kompleks. Kombinasi itu terutama dilakukan dengan bibir dan ujung lidah contoh : ma - ma ; ba – ba ; da – da. ± Bulan ke-18 dan ke-20 datang kalimat dua kata yang pertama. Ada dua kelompok kata spesifik yaitu pivot dan kata terbuka
1. Pivot : kata-kata yang sering dipakai anak.
2. Kata terbuka : kata-kata yang tidak sering dipakai anak, ditambah kata-kata baru.
Contoh :
Pivot Terbuka
Gi (pergi)
Gi (pergi)
Gi (pergi) Susu
Mama
oto

“Gi susu” : anak tidak mau minum susu lagi
“Gi mama” : anak ingin pergi dengan mamanya
“Gi oto” : otonya baru saja pergi
Dalam kalimat dua kata yang penting adalah intensitas semantiknya ( arti daripada apa yang dimaksudkan).
11. Kalimat Tiga Kata
Dari kalimat tiga kata dalam arti struktural mula-mula masih mirip dengan kalimat dua kata. Perubahan ini terjadi ± antara bulan ke-24 dan ke-30. Segera terjadi differensiasi dalam kelompok kata-kata. Struktur sintaksis pendapat arti yang makin besar (rangkaian kata-kata dalam kalimat serta berubahnya kata-kata. Urutan kata-kata relatif konstan.
Menurut Schaerlaekens (1977) maka periode kalimat-satu-kata disebut pra-lingual, Kemudian datang periode lingual awal dari 1 tahun sampai dengan lebih kurang 2 ½ tahun ( periode kalimat dua kata). Dan akhirnya mulai kurang lebih 2½ tahun datanglah periode defferensiasi ( periode kalimat tiga kata dengan bertambahnya differensiasi pada kelompok kata dan kecakapan verbal).
12. Penelitian Mengenai Kecakapan Berbahasa
Penelitian yang dilakukan oleh Buhler dan lain-lain yang berwujud observasi mengenai bahasa anak, sekarang terdapat alat-alat baru untuk menyelidiki kecakapan bahasa pada anak. Misalnya sekarang ada kemungkinan untuk menyelidiki seberapa jauh anak mampu untuk menirukan bahasa orang dewasa. Disini akan dibedakan adanya 2 macam peniruan :
1. Peniruan spontan bahasa orang lain, biasanya bahasa orang tua.
2. Peniruan yg dilakukan anak sesudah anak menerima tugas untuk melakukan itu
Hasil umum mengenai tes semacam itu adalah bahwa anak lebih pandai untuk mengadakan imitasi daripada mengerti kalimat dan bahwa kecakapan untuk mengerti tadi lebih tinggi daripada kecakapan untuk memproduksi kalimat-kalimat sendiri.Penelitian bahasa pada umumnya dibedakan antara :
1. Perkembangan fonologis – atau penguasaan sistem suara atau bunyi
2. Perkembangan morfologis – atau penguasaan pembentukan kata-kata
3. Perkembangan sintaksis – atau pernapasan tata bahasa
4. Perkembangan leksikal – penguasaan dan perluasan kekayaan kata-kata serta pengetahun mengenai arti kata-kata.
5. Perkembangan semantis – atau penguasaan arti bahasa
13. Perkembangan Semantik
Menghitung atau mengobservasi kuantitatif mengenai pertumbuhan kekayaan bahasa anak tidak dapat banyak memberikan pengertian akan perkembangan semantisnya. Alasan :
1. Sebuah kata baru dalam bahasa anak tidak memberikan pengertian apa-apa mengenai arti kata itu bagi anak.
2. Kekayaan kata-kata hanya merupakan satu daftar kata-kata saja karena relasinya antara arti kata-kata itu menentukan arti kalimatnya
3. Penelitian mengenai kekayaan kata-kata belum memberikan pengertian mengenai proses yang dapat merubah arti kata- kata menjadi arti kalimat.
Hambatan yang paling besar dalam penelitian mengenai perkembangan semantis terletak pada kenyataan bahwa kompetensi semantis bahasa orang dewasa sampai sekarang hampir tidak dimengerti hingga belum ada titik referensi yang betul-betul untuk meneliti perkembangan semantik.
Referential theory atau teori relasi teori ini hampir tidak bisa menerangkan bagaimana seorang belajar kata-kata dan arti kata-kata. Contoh : “tetapi” dan “karena” relasi atau maksud yang ada dalam suatu kata tertentu juga dapat di intepretasi macam-macam oleh orang yang berbeda. Teori tingkah laku arti suatu kata itu ditentukan atau tergantung pada reaksi-reaksi orang yang mendengar kata tersebut.
Sebagian besar informasi mengenai perkembangan semantik di dapatkan tidak dengan eksperimen-eksperimen yang dikontrol, melainkan datang dari observasi-observasi pada psikolog dan para ahli linguistik mengenai anak-anak mereka sendiri.
Masalah arti kata-kata pada hakekatnya merupakan masalah informasi pengertian. Ada beberapa macam kesalahan :
1. Anak menggunakan kata-kata pada keadaan yang tidak tepat
2. Ia tidak mampu menggunakan kata tertentu pada suatu situasi yang sama
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Prof. DR. HJ. Samsunumiyati, “Psikologi Perkembangan”, PT Remaja Rosda Karya , Bandung
Drs. H. Ahmad Fauzi, “Psikologi Umum”, Pustaka Setia, Bandung
Conny Semiawan, dkk. “Pengenalan dan Pengembangan Bakat Sejak Dini” PT Remaja Rosda Karya , Bandung

Teori Motivasi

TEORI TEORI MOTIVASI

Motivasi merupakan satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk melakukan atau mencapai sesuatu tujuan. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi adalah sebuah proses untuk tercapainya suatu tujuan. Seseorang yang mempunyai motivasi berarti ia telah mempunyai kekuatan untuk memperoleh kesuksesan dalam kehidupan..
Motivasi dapat berupa motivasi intrinsic dan ekstrinsic. Motivasi yang bersifat intinsik adalah manakala sifat pekerjaan itu sendiri yang membuat seorang termotivasi, orang tersebut mendapat kepuasan dengan melakukan pekerjaan tersebut bukan karena rangsangan lain seperti status ataupun uang atau bisa juga dikatakan seorang melakukan hobbynya. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah manakala elemen elemen diluar pekerjaan yang melekat di pekerjaan tersebut menjadi faktor utama yang membuat seorang termotivasi seperti status ataupun kompensasi.
Banyak teori motivasi yang dikemukakan oleh para ahli yang dimaksudkan untuk memberikan uraian yang menuju pada apa sebenarnya manusia dan manusia akan dapat menjadi seperti apa. Landy dan Becker membuat pengelompokan pendekatan teori motivasi ini menjadi 5 kategori yaitu teori kebutuhan,teori penguatan,teori keadilan,teori harapan,teori penetapan sasaran.

A. TEORI MOTIVASI ABRAHAM MASLOW (1943-1970)

Abraham Maslow (1943;1970) mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid, orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang lebih kompleks; yang hanya akan penting setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Kebutuhan pada suatu peringkat paling tidak harus terpenuhi sebagian sebelum kebutuhan pada peringkat berikutnya menjadi penentu tindakan yang penting.







• Kebutuhan fisiologis (rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya)
• Kebutuhan rasa aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya)
• Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki (berafiliasi dengan orang lain, diterima, memiliki)
• Kebutuhan akan penghargaan (berprestasi, berkompetensi, dan mendapatkan dukungan serta pengakuan)
• Kebutuhan aktualisasi diri (kebutuhan kognitif: mengetahui, memahami, dan menjelajahi; kebutuhan estetik: keserasian, keteraturan, dan keindahan; kebutuhan aktualisasi diri: mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya)
Bila makanan dan rasa aman sulit diperoleh, pemenuhan kebutuhan tersebut akan mendominasi tindakan seseorang dan motif-motif yang lebih tinggi akan menjadi kurang signifikan. Orang hanya akan mempunyai waktu dan energi untuk menekuni minat estetika dan intelektual, jika kebutuhan dasarnya sudah dapat dipenuhi dengan mudah. Karya seni dan karya ilmiah tidak akan tumbuh subur dalam masyarakat yang anggotanya masih harus bersusah payah mencari makan, perlindungan, dan rasa aman.

B. TEORI MOTIVASI HERZBERG (1966)
Menurut Herzberg (1966), ada dua jenis faktor yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan dan menjauhkan diri dari ketidakpuasan. Dua faktor itu disebutnya faktorhigiene (faktor ekstrinsik) dan faktor motivator (faktor intrinsik). Faktor higiene memotivasi seseorang untuk keluar dari ketidakpuasan, termasuk didalamnya adalah hubungan antar manusia, imbalan, kondisi lingkungan, dan sebagainya (faktor ekstrinsik), sedangkan faktor motivator memotivasi seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan, yang termasuk didalamnya adalah achievement, pengakuan, kemajuan tingkat kehidupan, dsb (faktor intrinsik).

C. TEORI MOTIVASI DOUGLAS McGREGOR
Mengemukakan dua pandangan manusia yaitu teori X (negative) dan teori y (positif), Menurut teori x empat pengandaian yag dipegang manajer
a. karyawan secara inheren tertanam dalam dirinya tidak menyukai kerja
b. karyawan tidak menyukai kerja mereka harus diawasi atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan.
c. Karyawan akan menghindari tanggung jawab.
d. Kebanyakan karyawan menaruh keamanan diatas semua factor yang dikaitkan dengan kerja.

Kontras dengan pandangan negative ini mengenai kodrat manusia ada empat teori Y :
a. karyawan dapat memandang kerjasama dengan sewajarnya seperti istirahat dan bermain.
b. Orang akan menjalankan pengarahan diri dan pengawasan diri jika mereka komit pada sasaran.
c. Rata rata orang akan menerima tanggung jawab.
d. Kemampuan untuk mengambil keputusan inovatif.

D. TEORI MOTIVASI VROOM (1964)
Teori dari Vroom (1964) tentang cognitive theory of motivation menjelaskan mengapa seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang ia yakini ia tidak dapat melakukannya, sekalipun hasil dari pekerjaan itu sangat dapat ia inginkan. Menurut Vroom, tinggi rendahnya motivasi seseorang ditentukan oleh tiga komponen, yaitu:
• Ekspektasi (harapan) keberhasilan pada suatu tugas
• Instrumentalis, yaitu penilaian tentang apa yang akan terjadi jika berhasil dalam melakukan suatu tugas (keberhasilan tugas untuk mendapatkan outcome tertentu).
• Valensi, yaitu respon terhadap outcome seperti perasaan posistif, netral, atau negatif.Motivasi tinggi jika usaha menghasilkan sesuatu yang melebihi harapanMotivasi rendah jika usahanya menghasilkan kurang dari yang diharapkan

E. Achievement TheoryTeori achievement Mc Clelland (1961),
yang dikemukakan oleh Mc Clelland (1961), menyatakan bahwa ada tiga hal penting yang menjadi kebutuhan manusia, yaitu:
• Need for achievement (kebutuhan akan prestasi)
• Need for afiliation (kebutuhan akan hubungan sosial/hampir sama dengan soscialneed-nya Maslow)
• Need for Power (dorongan untuk mengatur)

F. Clayton Alderfer ERG
Clayton Alderfer mengetengahkan teori motivasi ERG yang didasarkan pada kebutuhan manusia akan keberadaan (exsistence), hubungan (relatedness), dan pertumbuhan (growth). Teori ini sedikit berbeda dengan teori maslow. Disini Alfeder mngemukakan bahwa jika kebutuhan yang lebih tinggi tidak atau belum dapat dipenuhi maka manusia akan kembali pada gerakk yang fleksibel dari pemenuhan kebutuhan dari waktu kewaktu dan dari situasi ke situasi.

TAS. Perilaku Menyimpang

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN II
TUGAS AKHIR SEMESTER





Nama : DEVITASARY
NIM : 06101007021
Dosen Pengasuh: Dra. Kelanawati Karim, M.Sc. Ed

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
BIMBINGAN DAN KONSELING
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2011
BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Masa remaja awal merupakan masa transisi, dimana usianya berkisar
antara 13 sampai 16 tahun atau yang biasa disebut dengan usia belasan yang tidak menyenangkan, dimana terjadi juga perubahan pada dirinya baik secara fisik, psikis, maupun secara sosial (Hurlock, 1973). Pada masa transisi tersebut kemungkinan dapat menimbulkan masa krisis, yang ditandai dengan kecenderungan munculnya perilaku menyimpang. Pada kondisi tertentu perilaku menyimpang tersebut akan menjadi perilaku yang mengganggu (Ekowarni, 1993). Melihat kondisi tersebut apabila didukung oleh lingkungan yang kurang kondusif dan sifat keperibadian yang kurang baik akan menjadi pemicu timbulnya berbagai penyimpangan perilaku dan perbuatan-perbuatan negatif yang melanggar aturan dan norma yang ada di masyarakat yang biasanya disebut dengan kenakalan remaja.
Banyak sekali ragam perilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja, salah satu nya adalah penyimpangan seksual, menonton video porno, melakukan seks bebas, dan lain-lain. Biasanya seorang remaja yang dibesarkan dalam keluarga yang kurang harmonis dan memiliki konsep diri negatif kemungkinan memiliki kecenderungan yang lebih besar menjadi remaja nakal dibandingkan remaja yang dibesarkan dalam keluarga harmonis dan memiliki konsep diri positif.
Seorang remaja mempersepsi keluarganya berantakan atau kurang harmonis maka ia akan terbebani dengan masalah yang sedang dihadapi oleh orangtuanya tersebut. Faktor lain yang juga ikut mempengaruhi perilaku kenakalan pada remaja adalah konsep diri yang merupakan pandangan atau keyakinan diri terhadap keseluruhan diri, baik yang menyangkut kelebihan maupun kekurangan diri, sehingga mempunyai pengaruh yang besar terhadap keseluruhan perilaku yang ditampilkan.

B. RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang masalah di atas maka yang menjadi permasalahan
dalam penelitian ini adalah :

1. Mengapa pelaku tersebut melakukan penyimpangan ?
2. Teori apa yang berkenaan dengan perilaku menyimpang tersebut?
3. Bagaiman cara mengatasi terjadinya perilaku menyimpang?

C. TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui arti dari perilaku menyimpang itu sendiri, kemudian mengetahui latar belakang dan penyebab dari perilaku menyimpang yang dilakukan pelaku, mempelajari teori yang berkaitan dengan perilaku menyimpang serta mengetahui dan mempelajari cara-cara dan penyelesaian masalah perilaku menyimpang.








BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Perilaku Menyimpang

Perilaku menyimpang biasa dikenal dengan nama penyimpangan sosial yang maksudnya adalah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan atau kepatutan, baik dalam sudut pandang kemanusiaan (agama) secara individu maupun pembenarannya sebagai bagian daripada makhluk sosial.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat.
Menurut James W. Van Der Zanden penyimpangan perilaku merupakan perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan diluar batas toleransi.
Menurut Robert M. Z. Lawang perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku menyimpang.
Jadi dapat disimpulkan bahwa perilaku menyimpang adalah tindakan atau tingkah laku seseorang yang dilakukan tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma sosial, etika, dan peraturan yang berlaku dalam masyarakat.

B. Identitas Pelaku Penyimpangan
Seorang Remaja bernama Randy Saputra (nama samaran), yang biasa dipanggil Randy adalah seorang remaja berusia 14 tahun yang duduk di bangku sebuah sekolah negeri kelas VIII . Ia adalah anak kedua dari dua bersaudara. Ayah kandungnya tinggal jauh di kota seberang. Ayah tiri nya bekerja sebagai supir Truk dan ibunya bekerja disebuah lembaga swasta di Palembang. Randy tinggal bersama nenek dan pamannya di kota Prabumulih. Randy bertemu ibunya seminggu sekali. Kakak nya pun Tinggal di bandung untuk melanjutkan sekolah. Randy adalah seorang anak yang cukup pendiam, kurang bersosialisasi dan hidup dalam tekanan.
C. Pengkategorian Objek sebagai Pelaku Menyimpang
Saya mengkategorikan Randy sebagai pelaku menyimpang karena sejak dia masuk SMP , dia mengikuti teman-temandi lingkungan tempat tinggalnya yang merupakan anak-anak yang kurang dikontrol orang tua mereka, dimana orang tua mereka sibuk bekerja setiap hari. Mereka menghabiskan hari-hari mereka di warnet untuk bermain game dan membrowsing video porno. Mereka sering bolos sekolah, tidak pernah membuat PR, dan berkelahi dengan teman sekolahnya. Sampai pada suatu sore, setelah ia menonton video porno bersama teman-temannya dan ia pulang kerumah, kemudian ia menelanjangi adik sepupunya yang masih berumur 5tahun, akan tetapi, tindakan nya ini diketahui oleh pamannya. Sampai sekarang, ia masih saja bergaul dengan teman-temannya, sering keluar rumah tanpa pamit, bolos sekolah dan sering berkelahi dengan teman sebaya nya.

D. Latar Belakang Pelaku Bermasalah (Pengamatan)
Dari pengamatan yang saya lakukan, faktor utama yang menyebabkan Randy berperilaku menyimpang adalah karena faktor internal yang kemudian diperkuat dengan faktor eksternal (lingkungan). Data kongkrit yang saya dapat adalah bahwa remaja itu (Randy) berasal dari lingkungan keluarga yang kurang baik (broken home), sejak berumur 1 tahun ayah dan ibunya bercerai dan dia tinggal bersama neneknya. Randy bertemu dengan orang tuanya hanya seminggu sekali. Perekonomian keluarganya pun sederhana, tidak terlalu sulit. Jadi, secara emosional dan psikologis dia sangat berbeda dengan anak-anak sebayanya. Randy hidup dengan minim kasih sayang, dan hidup ditengah keluarga yang cuek. Selain itu, lingkungan tempat ia tinggal juga tidak kondusif, sebagian besar teman sebaya nya juga hidup dengan keluarga yang sibuk bekerja, sehingga kurang control dari orang tua, danhal-hal tersebut berakibat pada perilakunya yang cenderung menyimpang.
E. Teori yang Berkaitan dengan Perilaku Menyimpang
Jika masalah iki dikaitkan dengan teori-teori yang ada, maka masalah ini berkaitan erat dengan dua teori, yakni teori Social disorganization dan teori Differential Association.
Social Disorganization : Teori ini menekankan bahwa perilaku menyimpang diakibatkan karena kurangnya control keluarga, orang tua dan sekolah. Pada masalah ini, Randy adalah remaja yang dibesarkan dari keluarga Broken home, yang kemudian tinggal bersama neneknya. Ia hidup dalam keluarga yang keras dan cuek. Orangtuanya sibuk bekerja, sehingga ia kurang mendapatkan kasih sayang dan berdampak pada perilakunya yang menyimpang karena tidak dikontrol orangtuanya.
Teori Differential Association : Menurut teori ini, kenakalan remaja adalah akibat salah pergaulan. Anak-anak nakal karena bergaulnya dengan anak-anak nakal juga. Teori ini sangat berkembang pesat di Indonesia, sehingga banyak orang tua di Indonesia melarang anaknya untuk bergau dengan anak-anak nakal. Teori ini sangat berkaitan erat dengan masalah yang saya angkat pada penelitian ini. Dimana Randy ( Pelaku) dahulu adalah anak yang pendiam, kemudian dia berprilaku menyimpang ketika dia terlalu sering bergaul dengan teman-temannya yang nakal. Jadi pergaulannya sangat mempengaruli tindakan menyimoang yang dilakukannya.
F. Mengatasi Perilaku Menyimpang
Remaja ditangani sendiri oleh seorang yang professional (psikolog atau konselor) secara tatap muka langsung dimulai dari penanganan individu. Dalam prosesnya individu akan diberikan petunjuk atau nasihat, konseling dan psikoterapi. Konselor harus menyadarkan pelaku, bahwa tindakan yang dilakukannya itu salah dan membantu konseli keluar dari masalah, memberinya informasi, dan motivasi yang kuat agar pelaku tidak kembali melakukan kesalahan.
Setelah dilakukan konseling individu, selanjutnya adalah penanganan keluarga juga perlu dilakukan. Masalah yang dihadapi PELAKU (Randy) sangat berkaitan dengan keadaan keluarganya. Fungsinya adalah agar lingkungan keluarga kembali menjadi tempat yang nyaman untuk pengembangan tugas-tugas remaja tersebut. Konselor bisa mulai dengan penekatan dengan keluarga konseli, kemudian melakukan konseling keluarga, dan membantu keluarga tersebut dalam memperbaiki masalah-masalah yang ada, selanjutnya konselor bisa membantu dengan menberi layanan informasi pada keluarga tersebut guna mencegah terjadinya kembali masalah itu.












BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Perilaku menyimpang adalah tindakan atau tingkah laku seseorang yang dilakukan tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma sosial, etika, dan peraturan yang berlaku dalam masyarakat. Perilaku menyimpang disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya control orang tua dan lingkungan yang kurang baik.
Hal itu juga yang menyebabkan Randy seorang pelajar SMP melakukan berbagai penyimpangan sosial. Yang dikarenakan oleh keluarga yang kurang harmonis, cueknya keluarga dengan perkembangan dia, dan linkungan yang sangat mendukung untuk dia melakukan hal menyimpang.
Masalah Randy ini sangat tekait dengan teori Social disorganization yang menyatakan bahwa perilaku menyimpang disebabkan oleh factor intern, yakni keluarga yang sibuk dan kurang harmonis. Kemudian terkait juga dengan teori Differential Association yang menyatakan bahwa lingkungan yang buruk angat mempengaruhi seseorang untuk berperilaku menyimpang pula.
Kasus Randy ini dapat ditangani oleh seorang professional dengan melakukan nasihat (guidance), konseling, dan melaksanakan psikoterapi.Selanjutnya diadakan penanganan keluarga guna mencegah masalah ini terulang kembali.

Sibling Rivalry

Dari hasil googling, istilah persaingan antar saudara kandung ini adalah
1. Kamus kedokteran Dorland (Suherni, 2008): sibling (anglo-saxon sib dan ling bentuk kecil) anak-anak dari orang tua yang sama, seorang saudara laki-laki atu perempuan. Disebut juga sib. Rivalry keadaan kompetisi atau antagonisme. Sibling rivalry adalah kompetisi antara saudara kandung untuk mendapatkan cinta kasih, afeksi dan perhatian dari satu kedua orang tuanya, atau untuk mendapatkan pengakuan atau suatu yang lebih.
2. Sibling rivalry adalah kecemburuan, persaingan dan pertengkaran antara saudara laki-laki dan saudara perempuan. Hal ini terjadi pada semua orang tua yang mempunyai dua anak atau lebih.
Penyebab Sibling Rivalry
Banyak faktor yang menyebabkan sibling rivalry, antara lain:
1. Masing-masing anak bersaing untuk menentukan pribadi mereka, sehingga ingin menunjukkan pada saudara mereka.
2. Anak merasa kurang mendapatkan perhatian, disiplin dan mau mendengarkan dari orang tua mereka.
3. Anak-anak merasa hubungan dengan orang tua mereka terancam oleh kedatangan anggota keluarga baru/ bayi.
4. Tahap perkembangan anak baik fisik maupun emosi yang dapat mempengaruhi proses kedewasaan dan perhatian terhadap satu sama lain.
5. Anak frustasi karena merasa lapar, bosan atau letih sehingga memulai pertengkaran.
6. Kemungkinan, anak tidak tahu cara untuk mendapatkan perhatian atau memulai permainan dengan saudara mereka.
7. Dinamika keluarga dalam memainkan peran.
8. Pemikiran orang tua tentang agresi dan pertengkaran anak yang berlebihan dalam keluarga adalah normal.
9. Tidak memiliki waktu untuk berbagi, berkumpul bersama dengan anggota keluarga.
10. Orang tua mengalami stres dalam menjalani kehidupannya.
11. Anak-anak mengalami stres dalam kehidupannya.
12. Cara orang tua memperlakukan anak dan menangani konflik yang terjadi pada mereka.
Segi Positif Sibling Rivalry
Meskipun sibling rivalry mempunyai pengertian yang negatif tetapi ada segi positifnya, antara lain:
1. Mendorong anak untuk mengatasi perbedaan dengan mengembangkan beberapa keterampilan penting.
2. Cara cepat untuk berkompromi dan bernegosiasi.
3. Mengontrol dorongan untuk bertindak agresif.
Oleh karena itu agar segi positif tersebut dapat dicapai, maka orang tua harus menjadi fasilitator.
Mengatasi Sibling Rivalry
Beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua untuk mengatasi sibling rivalry, sehingga anak dapat bergaul dengan baik, antara lain:
1. Tidak membandingkan antara anak satu sama lain.
2. Membiarkan anak menjadi diri pribadi mereka sendiri.
3. Menyukai bakat dan keberhasilan anak-anak Anda.
4. Membuat anak-anak mampu bekerja sama daripada bersaing antara satu sama lain.
5. Memberikan perhatian setiap waktu atau pola lain ketika konflik biasa terjadi.
6. Mengajarkan anak-anak Anda cara-cara positif untuk mendapatkan perhatian dari satu sama lain.
7. Bersikap adil sangat penting, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan anak. Sehingga adil bagi anak satu dengan yang lain berbeda.
8. Merencanakan kegiatan keluarga yang menyenangkan bagi semua orang.
9. Meyakinkan setiap anak mendapatkan waktu yang cukup dan kebebasan mereka sendiri.
10. Orang tua tidak perlu langsung campur tangan kecuali saat tanda-tanda akan kekerasan fisik.
11. Orang tua harus dapat berperan memberikan otoritas kepada anak-anak, bukan untuk anak-anak.
12. Orang tua dalam memisahkan anak-anak dari konflik tidak menyalahkan satu sama lain.
13. Jangan memberi tuduhan tertentu tentang negatifnya sifat anak.
14. Kesabaran dan keuletan serta contoh-contoh yang baik dari perilaku orang tua sehari-hari adalah cara pendidikan anak-anak untuk menghindari sibling rivalry yang paling bagus.
http://andivan.blogdetik.com/index.php/2010/03/11/all-about-sibling-rivalry/

Sibling Rivalry
Sibling Rivalry adalah kecemburuan, persaingan dan perkelahian antara kakak dan adik dalam satu keluarga. Ini juga terjadi dalam keluarga saya, antara adik dan kakak sering sekali bertengkar, masalah sepele bisa jadi besar dihadapan anak-anak.
Beberapa sebab dasar terjadinya sibling rivalry :
Kelahiran bayi baru
Jelas ini secara otomatis perhatian yang sebelunya banyak tercurah atau tertuju pada anak pertama akan beralih pada si bayi, dan sang kakak akan merasa tersisih dan dirugikan.
Protes Kakak
Sang kakak dalam memperebutkan dan memenangkan persaingan untuk merebut perhatian orang tuan tentu akan menggangu sang adik.
Kemarahan Orang Tua
Orang tua yang memarahi sang kakak dalam beberapa kasus hanya akan tertuju pada sang kakak, tanpa menyadari si kakak akan merasa sedih. Dengan hubungan seperti ini hanya akan menambah kakak bertambah benci pada sang adik.
Penyebab Sibling Rivalry
faktor-faktor yang mempengaruhi sibling rivalry :
• Anak-anak saling berkompetisi untuk menunjukkan bahwa mereka bisa lebih baik dari saudaranya
• Anak-anak merasa mendapatkan perhatian dan penerimaan yang tidak sama dengan saudaranya
• Anak-anak mungkin merasa hubungan dengan orang tuan mereka semakin jauh dengan kehadiran saudaranya
• Anak-anak mungkin tidak tahu cara yang baik untuk memperoleh perhatian saudaranya
• Anak-anak yang marah, bosa, atau lelah mudah untuk memulai perkelahian
• Stres yang dialami orang tua akan menurunkan perhatian untuk anak-anak dan ini akan meningkatkan sibling rivalry
• Stres yang dialami anak-anak akan menimbulkan banyak masalah
• Cara oraang tua mendidik dan melatih anak-anak untuk menyelesaikan masalah akan membuat perbedaan yang besar dalam terjadinya sibling rivalry
Cara Mengatasi Sibling Rivalry
1. Orang tua jangan campur tangan langsung, campur tangan langsung diperlukan saat terdapat tanda-tanda akan terjadinya kekerasan fisik.
2. Pisahkan keduanya hingga masing-masing tenang, lalu suruh mereka kembali dengan sedikitnya satu ide tentang cara menyelesaikan masalah hingga tidak akan terulang lagi.
3. Tidak penting yang memulai siapa yang memulai masalah, karena anda tak mungkin menemukan anak mana yang bersalah, karena tak satupun dari mereka yang 100% benar ataupun salah.
4. Jika anak-anak selalu memperebutkan benda yang sama, misalnya mereka rebutan TV, ajaklah mereka dan ajari membuat jadwal daftar TV
5. Bantu anak-anak mengembangkan ketrampilan dan menyelesaikan masalah sendiri tanpa kekerasan
6. Ajari mereka bagaimana cara berkompromi, menghormati orang lain dan memutuskan sesuatu secara adil
7. Jangan berteriak teriak pada anak-anak
8. Ajaklah setiap anak untuk mengungkapkan perasaan mereka tentang saudaranya, misalnya rasa marah dan kecewa. Hal ini akan membantu mereka untuk mengenali emosi negatif dan mengatasinya dikemudian hari
9. Belajarlah mengatur kemarahan agar anak-anak bisa belajar untuk tidak mudah marah sehingga tidak ada pertengkaran
10. Tidak peru berargumen bahwa anda sudah bersikap adil, karena sebesar apapun usaha anda, anak-anak tetap menemukan ketidakadilan dari perlakuan anda
Jika diatasi dengan tepat, Sibling Rivalry juga mempunyai sisi pisitif.
http://bidandesa.com/sibling-rivalry.html

Sibling rivalry adalah persaingan antara saudara kandung dalam memperebutkan perhatian dan kasih sayang orangtua. Sibling rivalry menjadi fenomena tersendiri, karena sejatinya kita adalah mahkluk sosial yang menuntut manusia hidup berkelompok dan bermasyarakat, mulai serius nih moms.
Meskipun ruang lingkupnya kecil, keluarga adalah kumpulan orang, persaingan antara saudara kandung otomatis tidak bisa di hindarkan, baik positif ataupun negatif.

Persaingan adalah sesuatu yang alamiah, bagi anak-anak ini semacam permainan, sedangkan bermain adalah proses pembelajaran anak tentang kehidupan. Sibling rivallry menjadi momen untuk mempelajari kebersamaan, keadilan, kelapangan hati untuk memaafkan.

Faktor pemicu
Internal :
* Sifat egois yang biasanya ada pada setiap anak, seiring pertambahan umur, kadar egois anak akan berubah.
* Perbedaan umur, lebih dekat atau jauh.
External :
* Kurang diistemewakan orang tua
1. Jangan pernah membanding-bandingkan anak, wah itu susah ya moms, kadang-kadang kita tidak sadar dengan ucapan sendiri apalagi kalo lagi emosi wah susah nih.
2. sesekali dekap dan ciumlah anak-anak, yang ini harus nih moms.
3. Terapkanlah prinsip yang kepada si anak hukuman yang akan di terima kalau si anak melanggar aturan.
4. temukanlah keistimewaan anak

Solusi :
* Didik anak dengan cinta, indahnya ya moms.
* evalusi diri moms.
* perbaiki cara komunikasi dengan anak.
* Mencintai dengan adil
http://dewi-charli.blogspot.com/2009/05/sibling-rivalry.html

KONSEP DASAR EVALUASI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

DI SUSUN OLEH
Nama :Devita Sary
Prodi : Pendidikan Bimbingan dan Konseling
Dosen Pembimbing : Drs. Imron A. Hakim, MS.





FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN BIMBINGAN DAN KONSELING
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
TAHUN AKADEMIK 2011/2012

Resume Mata Kuliah Belajar dan Pembelajaran
BAB VI
KONSEP DASAR EVALUASI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Evaluasi hasil belajar menekankan kepada diperolehnya informasi tentang seberapakah perolehan siswa dalam mencapai tujuan pengajaran yang ditetapkan. Sedangkan evaluasi pembelajaran merupakan proses sistematis untuk memperoleh informasi tentang keefektifan proses pembelajaran dalam membantu siswa mencapai tujuan pengajaran yang secara optimal.
Dengan demikian evaluasi hasil belajar menetapkan baik buruknya hasil dari kegiatan pembelajaran, sedangkan evaluasi pembelajaran menetapkan baik buruknya proses dari kegiatan.
A. Pengertian, Kedudukan, dan Syarat-Syarat Umum Evaluasi
1. Pengertian Evaluasi
Davies mengemukakan bahwa evaluasi merupakan proses sederhana hanya memberikan/menetapkan nilai kepada sejumlah tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk-kerja, proses, orang,dan mash banyak yang lain (Davies, 1981:3)
Wand dan Brown mengemukakan : Evaluasi merupakan suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu (dalam Nurkanca, 1986:1). Pengertian evaluasi lebih dipertegas lagi, dengan batasan sebagai proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu (Nana Sudjana, 1990:3).
Bahwa evaluasi secara umum dapat diartikan sebagai proses sistematis untuk menentukan nilai sesuatu (tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk-kerja, proses, orang, objek, dan yang lain ) berdasarkan kriteria tertentu melalui penilaian.
Dengan demikian evaluasi tidak selalu melalui proses mengukur (pengukuran) baru melakukan proses menilai (penilaian ) tetapi dapat pula evaluasi langsung melalui penilaian saja.
Pengukuran lebih menekankan kepada proses penentuan kuantitas sesuatu melalui membandingkan dengan satuan ukuran tertentu (Arikunto, 1990:3; Nurkancana, 1986:2). Sedangkan penilaian menekankan kepada proses pembuatan keputusan terhadap sesuatu ukuran baik-buruk yang bersifat kualitatif (Arikunto, 1990:3; Nurkancana, 1968:2).
Pengertian evaluasi belajar dan pembelajaran adalah proses untuk melalui kegiatan penilaian dan/atau pengukuran belajar dan pembelajaran.
Pengertian penilaian belajar dan pembelajaran adalah proses pembuatan keputusan nilai keberhasilan belajar dan pembelajaran secara kualitatif.

2. Kedudukan Evaluasi dalam Proses Pendidikan
Proses pendidikan merupakan proses pemanusiaan manusia, dimana di dalamnya terjadi proses membudayakan dan memberadabkan manusia. Sebagai proses transformasi, proses pendidikan dapat didiagramkan sebagai berikut:
Transformasi dalam proses pendidikan adalah proses untuk membudayakan dan memberadabkan siswa. Unsur-unsur transformasi proses pendidikan, meliputi :
a. Pendidik dan personal lainnya,
b. Isi pendidikan,
c. Teknik,
d. Sistem evaluasi,
e. Sarana pendidikan, dan
f. Sistem administrasi.
Keluaran dalam proses pendidikan adalah siswa yang semakin berbudaya dan beradab sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Umpan balik dalam proses pendidikan adalah segala informasi yang berhasil diperoleh selama proses pendidikan yang digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk perbaikan masukan dan transformasi yang ada dalam proses.
3. Syarat-Syarat Umum Evaluasi
Syarat-syarat umum yang harus dipenuhi dalam mengadakan kegiatan evaluasi dalam proses pendidikan terurai berikut ini :
a. Kesahihan
Kesahihan menggantikan kata validitas (validity) yang dapat diartikan sebagai ketepatan evaluasi mengevaluasi apa yang seharusnya dievaluasi. Dapat diterjemahkan pula sebagai kelayakan interpretasi terhadap hasil dari suatu instrument evaluasi atau tes, dan tidak terhadap instrument itu sendiri (Gronlund, 1985: 57).
Kesahihan juga dapat dikatakan lebih menekankan pada hasil/ perolehan evaluasi, bukan pada kegiatan evaluasinya.
Kesahihan instrument evaluasi diperoleh melalui hasil pengalaman. Dari dua cara tersebut, diperoleh empat macam kesahihan yang terdiri dari : (i) kesahihan isi (content validation), (ii) kepentingan konstruksi (construction validity), (iii) kesahihan ada sekarang (concurrent validity), dan (iv) kesahihan prediksi (prediction validity) (Arikunto , 1990: 64).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesahihan hasil evaluasi meliputi :
1. Faktor instrumen evaluasi itu sendiri.
2. Faktor-faktor administrasi evaluasi dan penskoran juga merupakan faktor-faktor yang mempunyai suatu pengaruh yang menganggu kesahihan interpretasi hasil evaluasi.
3. Faktor-faktor dalam respons-respons siswa merupakan faktor-faktor yang lebih banyak mempengaruhi kesahihan daripada faktor yang ada instrumental evaluasi atau pengadministrasiannya.
b. Keterandalan
Keterandalan evaluasi berhubungan dengan masalah kepercayaan, yakni tingkat kepercayaan bahwa suatu instrument evaluasi mampu memberikan hasil yang tepat (Arikunto, 1990:81).
Keterandalan menunjukan kepada konsistensi (keajegan) pengukuran yakni bagaimanakah keajegan skor tes atau hasil evaluasi lain yang berasal dari pengukuran yang satu ke pengukuran yang lain.
Juga berhubungan erat dengan kesahihan, karena keterandalan menyediakan (Arikunto, 1990: 81; Gronlund, 1985:87). Tidak selalu menjamin bahwa hasil evaluasi yang andal (reliable) akan selalu menjawab bahawa hasil evaluasi sahih (valid).
Untuk memperjelas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi keterandalan akan diuraikan berikut ini.
1. Panjang tes (length of test). Tes ini dilakukan dengan tidak banyak menebak, maka keterandalan hasil evaluasi semakin tinggi.
2. Sebaran skor (spread of scores). Karena koefisien keterlandan yang lebih besar dihasilkan pada saat orang perorang tetap pada posisi yang relative sama dalam satu kelompok dari satu pengujian ke pengujian lainnya, itu berarti selisih yang dimungkinkan dari perubahan posisi dalam kelompok juga menyumbang memperbesar koefisien keterandalan.
3. Tingkat kesulitan tes (difficulty of tes). Tes acuan norma (norm reference test). Tingkat kesulitan tes yang ideal untuk meningkatkan koefisien keterandalan adalah tes yang menghasilkan sebaran skor berbentuk atau kurva normal.
4. Objektivitas (objectivity). Objektivitas suatu tes menunjuk kepada tingkat skor kemampuan yang sama (yang dimiliki oleh siswa satu dengan siswa yang lain) memperoleh hasil yang sama dalam mengerjakan tes.
Uraian faktor-faktor yang mempengaruhi keterandalan yang disadur dari Groundlund (1985 : 100-104) mencakup juga faktor-faktor yang mempengaruhi keterandalan yang dikemukakan oleh Arikunto.
c. Kepraktisan
Kepraktisan evaluasi dapat diartikan sebagai kemudahan-kemudahan yanga da pada instrument evaluasi baik dalam mempersiapkan, menggunakan, menginterpretasi/memperoleh hasil, maupun kemudahan dalam menyimpannya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepraktisan instrument evaluasi meliputi:
1. Kemudahan mengadministrasi :
2. Waktu yang disediakan untuk melancarkan evaluasi
3. Kemudahan menskor
4. Kemudahan interpretasi dan aplikasi
5. Tersedianya bentuk instrument evaluasi yang ekuivalen

B. Evaluasi Hasil Belajar
1. Fungsi dan Tujuan Hasil Belajar
Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu kegiatan pembelajaran, dimana tingkat keberhasilan tersebut kemudian ditandai dengan skala nilai berupa huruf atau kata atau symbol. Apabila tujuan utamanya kegiatan evaluasi hasil belajar ini sudah terealisasi, maka hasilnya dapat difungsikan dan ditujukan untuk berbagai keperluan.
Hasil dari kegiatan evaluasi hasil belajar pada akhirnya difungsikan dan ditujukan untuk keperluan berikut ini.
a. Untuk diagnostic dan pengembangan.
b. Untuk seleksi
c. Untuk kenaikan kelas.
d. Untuk penempatan.
2. Sasaran Evaluasi Hasil Belajar
Ranah tujuan pendidikan adalah berdasarkan hasil belajar siswa secara umum dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yakni : ranah kognitif, ranah afektif, ranah psikomotorik (Davies, 1986:97;Jarolimek dan Foster, 1981 : 1981 148). Taksonomi tujuan ranah kognitif dikemukakan oleh Bloom (1956), merupakan hal yang amat penting diketahui oleh guru sebelum melaksanakan evaluasi. Ranah afektif dari taksonomi tujuan pendidikan dikemukakan pada tahun 1964 Krathwohl, Bloom, dan Masia. Taksonomi tujuan pendidikan ranah psikomotorik dikemukakan oleh Harrow pada tahun 1972.
Taksonomi atau penggolongan tujuan ranah kognitif oleh Bloom, mengemukakan adanya 6 (enam) tingkat/kelas, yakni:
1. Pengetahuan berupa pengenalan dan pengingatan kembali\
Contoh :
Dalam pengenalan, siswa diminta untuk memilih salah satu dari dua atau lebih pilihan jawaban (Arikunto, 1990 : 113)
Kelompok padi yang tumbuh pada sebidang sawah berdasarkan konsep ekologi merupakan …
A. Species
B. Ekosistem
C. Komunitas
D. Populasi
Sedangkan dalam pengingatan kembali siswa diminta untuk mengingat kembali satu atau lebih fakta-fakta yang sederhana (Arikunto, 1990 : 113)
Makhluk hidup dan faktor abiotik yang membentuk suatu kesatuan yang terkoordinasi dan saling membutuhkan disebut …
2. Pemahaman berupa kemampuan memahami/mengerti tentang isi pelajaran yang dipelajari tanpa perlu menghubungkannya dengan isi pelajaran lainnya ( Davies, 1986 ; 100 )
Diantara gambar-gambar dibawah ini, yang disebut sebagai segi tiga tiga sama sisi adalah :
3. Penggunaan.penerapan, merupakan kemampuan menggunakan generalisasi atau abstraksi lainnya yang sesuai dalam situasi konkret dan/atau situasi baru (Davies, 1986 : 100)
Contoh :
Jika x dan y anggota himpunan bilangan real, gambarlah garis dengan persamaan y = ½ x + 5
4. Analisis merupakan kemampuan menjabarkan isi pelajaran ke bagian-bagian yang menjadi unsur pokok
Contoh :
Mengapa tidak semua getaran atau bunyi dapat didengar oleh telinga manusia? (sebelumnya telah disampaikan pelajaran tentang getaran/bunyi)
5. Sintesis merupakan kemampuan menggabungkan unsure-unsur pokok ke dalam struktur yang baru (Davies, 1986 :100)
Contoh :
Apabila kamu diberi beberapa alat berikut:
a. Cermin cekung f = 10 cm (satu buah)
b. Mistar (100 cm)
c. Sumber cahaya berupa sebuah lilin, dan
d. Tempat lensa.
Coba kamu lakukan kegiatan sehingga dapat mengisi kolom berikut :
6. Evaluasi merupakan kemampuan menilai isi pelajaran untuk suatu maksud atau tujuan tertentu (Davies, 1986 : 100)
Contoh :
Apabila magnesium hidroksida direaksikan dengan sulfur trioksida hasilnya hanya garam saja, benarkah ?
Menurut Krathwol, Bloom, dan Masia mengemukakan taksonomi tujuan ranah afektif
1. Menerima
2. Merespon
3. Menilai
4. Mengorganisasi
5. Karakterisasi
Menurut Kibler, Barket, dan Miles (1970) mengemukakan taksonomi ranah tujuan psikomotorik sebagai berikut :
1. Gerakan tubuh yang mencolok
2. Kecepatan gerakan yang dikoordinasikan
3. Perangkat komunikasi nonverbal
4. Kemampuan berbicara.
Tiga ranah tujuan pendidikan yang menjadi sasaran evaluasi, harus dijabarkan dulu ke dalam tujuan instruksional. Adapun tujuan instruksional sendiri terjabar menjadi Tujuan Instruksional Umum (TIU) dan Tujuan Instruksional Khusus (TIK). Ranah-ranah yang terdapat dalam TIK inilah yang kemudian diukur dan dinilai untuk memperoleh kesimpulan hasil evaluasi yaitu berupa nilai.\
3. Prosedur Evaluasi Hasil Belajar
Berdasarkan pengertian evaluasi hasil belajar kita mendapatkan bahwa hasil belajar merupakan suatu proses yang sistematis. Berikut ini merupakan penjelasan dari masing-masing tahapan prosedur evaluasi hasil belajar.
a. Persiapan
Pada tahapan persiapan ini terdapat tiga kegiatan yang harus dilakukan evaluator, yakni :
1. Menetapkan pertimbangan dan keputusan yang dibutuhkan,
2. Menggambarkan informasi yang dibutuhkan, dan
3. Menetapkan informasi yang sudah tersedia
(Terry D. Ten Brink dalam Indung, 1992 : 13)
b. Penyusunan Insrumen Evaluasi
Berikut ini akan diuraikan prosedur penyusunan alat penilaian secara garis besar.
Prosedur yang perlu ditempuh untuk menyusun alat penilaian tes adalah sebagai berikut:
1. Menentukan bentuk tes yang akan disusun, bentuk tes ada dua yakni tes objektif dan tes esai (tes subjektif).
Bentuk tes objektif terdiri dari:
- Tes benar-salah
- Tes pilihan ganda
- Tes menjodohkan
- Tes melengkapi
Tes subjektif /esai merupakan bentuk tes yang terdiri dari suatu pertanyaan atau perintah yang memerlukan jawaban bersifat pembahasan atau uraian kata-kata yang relative panjang (Arikunto, 1990 : 161; Nurkancana, 1986 : 41-42).
Ciri-ciri pertanyaan atau perintah tes-esai diawali dengan kata-kata seperti jelaskan, bagaimana, mengapa, bandingkan, jabarkan, kemukakan, dan yang lainnya.
Bentuk tes juga dibagi menjadi jenis butir soal memberikan jawaban (supply-type items) dan jenis butir soal pilihan (selection type items).
2. Membuat kisi-kisi butir soal, terdiri dari ruang lingkup isi pelajaran, proposi jumlah item dan tiap-tiap sub-isi pelajaran, aspek intelekttual, dan bentuk soal.
3. Menulis butir soal, yakni kegiatan yang dilaksanakan evaluator setelah membuat kisi-kisi soal.
Empat hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan soal seprti diuraikan diatas merupakan kaidah penulisan soal secara umum.
Ada kaidah-kaidah penulisan butir soal benar-salah meliputi :
- Meyakinkan sepenuhnya bahwa butir soal tersebut dapat dipastikan benar atau salah
- Jangan menulis butir soal yang memindahkan satu kalimat secara harfiah dari teks.
- Jangan menulis butir soal yang memperdayakan.
(Bloom, 1981 : 189-190).
Kaidah yang harus diperhatikan dalam penulisan soal pilihan ganda meliputi :
- Pokok soal (stem) yang merupakan permasalahan harus dirumuskan secara jelas.
- Perumusan pokok soal dan alternative jawaban hendaknya merupakan pernyataan yang diperlukan saja.
- Untuk satu soal hanya ada satu jawaba yang benar atau paling benar.
Kaidah penulisan bentuk soal menjodohkan meliputi :
- Meyakinkan bahwa premis dan pilihan yang dijodohkan keduanya homogeny.
- Menggunakan bentuk yang cocok.
- Dasar untuk menjodohkan setiap premis dan ;pilihan dibuat secara jelas
(Bloom, 1981 : 191)
Kaidah penulisan untuk bentuk soal melengkapi meliputi :
- Menggunakan bentuk yang cocok.
- Jangan memutus-mutus butir soal melengkapi.
- Menghindari pemberian petunjuk ke arah jawaban yang benar.
(Bloom, 1981 -188-190).
Kaidah dalam penulisan bentuk esai meliputi :
- Meyakinkan bahwa pertanyaan telah terarah.
- Jangan memberikan izin atau memerintah peserta ujian untuk memilih di antara beberapa pertanyaan esai yang akan mereka jawab.
- Terlebih dahulu memutuskan cara memberikan skor pada pertanyaan esai (Bloom, 1981 : 185-186).
4. Menata dan mengadministrasikan lembar soal dan lembar jawaban siswa untuk memudahkan penskoran.
c. Pelaksanaan Pengukuran
Pelaksanaan pengukuran untuk teknik tes maupun teknik non tes hampir sama, oleh karena itu akan diuraikan pelaksanaan secara umum. Adapun prosedur pelaksanaan pengukuran adalah sebagai berikut:
1. Persiapan tempat pelaksanaan pengukuran, yakni suatu kegiatan untuk mempersiapkan ruangan yang memenuhi syarat-syarat pelaksanaan pengukuran yang meliputi syarat penerangan, luas ruangan, dan tingkat kebisingan.
2. Melancarkan pengukuran, yakni kegiatan evaluasi yang melaksanakan pengukuran terhadap siswa dengan bentuk kegiatan sebagai berikut:
- Memberitahukan peraturan pelaksanaan pengukuran
- Membagikan lembar soal dan lembar jawaban atau melakukan pengamatan, atau melakukan wawancara, atau membagikan daftar cocok,
- Mengawasi kedisplinan siswa dalam mematuhi peraturan pelaksanaan pengukuran, dan
- Mengumpulkan lembar jawaban dan lembar soal.
3. Menata dan mengadministrasikan lembar soal dan lembar jawaban siswa untuk memudahkan penskoran.
d. Pengolahan Hasil penilaian
Kegiatan mengolah data yang berhasil dikumpulkan melalui kegiatan

penilaian inilah yang disebut kegiatan pengolahan hasil penilaian.
Prosedur pelaksanaan pengolahan hasil penilaian adalah sebagai berikut :
1. Menskor, yakni kegiatan memberikan skor pada hasil penilaian yang dapat dicapai oleh responden (siswa).
2. Mengubah skor mentah menjadi skor standar
3. Mengkonversikan skor standar ke dalam nilai.
e. Penafsiran Hasil Penilaian
Penafsiran terhadap hasil penilaian individual dapat kita bedakan menjadi dua, yakni penafsiran yang bersifat individual dan penafsiran yang bersifat klasikan (Nurkancana, 1986 : 113)
Penafsiran hasil penilaian yang bersifat individual yakni penafsiran terhadap keadaan/kondisi seorang siswa berdasarkan perolehan penilaian hasil belajarnya.
Ada tiga jenis penafsiran penilaian hasil belajar yang bersifat individual, yakni :
1. Penafsiran tentang tingkat kesiapan, yakni tentang kesiapan siswa untuk mengikuti pelajaran yang berikutnya untuk naik kelas atau untuk lulus.
2. Penafsiran tentang kelemahan individual yakni tentang kelemahan seorang siswa pada subtes tertentu, pada suatau mata pelajaran atau keseluruhan mata pelajaran.
3. Penafsiran tentang kemajuan belajar individual yakni tentang kemajuan seoarang siswa pada satu periode pembelajaran atau pada satu periode kelas atau pada satu periode sekolah.
Adapun penafsiran yang bersifat klasikal terdiri dari :
1. Penafsiran tentang kelemahan-kelemahan kelas.
2. Penafsiran tentang prestasi kelas.
3. Penafsiran tentang perbandingan anatarkelas.
4. Penafsiran tentang susunan kelas.
f. Pelaporan dan Penggunaan Hasil Evaluasi
Pelaporan ini dimaksudkan untuk memberikan umpan balik kepada semua pihak yang terlibat dalam pembelajaran secara langsung maupun tidak langsung.
Pihak-pihak yang perlu memperoleh laporan tentang hasil belajar siswa adalah : siswa, guru yang mengajar, guru lain, petugas lain di sekolah, orang tua siswa, dan pemakai lulusan (Arikunto, 1990 : 289). Adapun prinsip-prinsip yang hendaknya dipatuhi dalam pembuatan laporan adalah:
i. Memuat informasi lengkap dari yang bersifat umum(nilai) hingga bersifat factual (skor)
ii. Mudah dipahami maknanya dan tidak memberi kesan yang terlalu bervariasi
iii. Mudah dibuat, dan
iv. Dapat dipakai oleh yang bersangkutan
(Indung, 1991 : 140)
Sehubungan dengan penggunaan hasil evaluasi Julian C.Stanley (1964) berpendapat bahwa : ”Just what is to be done, of course depends on the purpose of the program” (Nurkancana, 1986 ; 121)
Secara umum kita dapat menandai bahwa penggunaan hasil evaluasi meliputi:
1. Untuk menentukan kenaikan kelas atau kelulusan seoarang siswa yang terlibat dalam evaluasi hasil belajar tersebut.
2. Untuk mengadakan diagnosis dan remedial terhadap siswa yang membutuhkan.
3. Untuk menentukan perlu tidaknya suatu penyajian isi pelajaran/ sub-isi pelajaran ternteu diulang.
4. Untuk menentukan pengelompokkan dan penempatan dan penempatan pada siswa.
5. Untuk membuat laporan hasil belajar.
C. Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran merupakan suatu proses untuk menentukan jasa, nilai atau manfaat kegiatan pembelajaran melalui kegiatan penilaian dan atau pengukuran.
Pembahasan evaluasi pembelajaran dalam uraian berikut ini akan dibatasi pada : fungsi dan tujuan evaluasi pembelajaran, sasaran evaluasi pembelajaran, dan prosedur evaluasi pembelajaran.
1. Fungsi dan Tujuan Evaluasi Pembelajaran.
Sejumlah informasi atau data yang diperoleh melalui evaluasi pembelajaran inilah yang kemudian difungsikan dan ditujukan untuk pengembangan pembelajaran dan akreditasi.
a. Fungsi dan tujuan evaluasi pembelajaran untuk pengembangan.
Fungsi dan tujuan evaluasi pembelajaran untuk pengembangan pembelajaran dilaksanakan apabila hasil kegiatan evaluasi pembelajaran digunakan sebagai dasar pengembangan pembelajaran.
b. Fungsi dan tujuan evaluasi pembelajaran untuk akreditasi
Pengertian akreditasi sebagai suatu penilaian yang dilakukan oleh pemerintah terhadap sekolah swasta untuk menentukan peringkat pengakuan pemerintah pengakuan pemerintah terhadap sekolah tersebut (Arikunto, 1990 : 186). Juga dapat diartikan sebagai suatu proses dengan mana suatu program atau institusi (lembaga) diakui sebagai badan yang sesuai dengan beberapa standar yang telah disetujui (Scravia B. Anderson dalam Arikunto, 1990 : 186).
Ada berbagai aspek yang dinilai dalam menentukan akreditasi suatu lembaga pendidikan \, salah satu aspek/komponen yang dinilai sebagai pembelajaran.
2. Sasaran Evaluasi Pembelajaran
Sasaran evaluasi pembelajaran adalah aspek-aspek yang terkandung dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian sasaran evaluasi pembelajaran meliputi : tujuan pengajaran, unsur dinamis pembelajaran, pelaksanan pembelajaran, dan kurikulum.
a. Tujuan pembelajaran
Hal-hal yang perlu dievaluasi pada tujuan pengajaran adalah penjabaran tujuan pengajaran, rumusan tujuan pengajaran, dan unsure-unsur-unsur tujuan pengajaran.
Penjabaran dimulai dari tujuan pengajaran tertinggi sampai tujuan pengajaran yang terendah seringkali disebut hieraki tujuan. Tujuan pengajaran yang tertinggi adalah tujuan pendidikan nasional. Tujuan kelembagaan, tujuan kurikuler, tujuan umum pengajaran, dan terakhir tujuan khusus pengajaran, semakin kebawah semakin rinci unsur-unsur yang ada dirumusan tersebut.
b. Unsur dinamis pembelajaran
Yang dimaksud dengan unsur dinamis pembelajaran adalah sumber belajar atau komponen sistem instruksional yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Sumber belajar meliputi: pesan orang, bahan, alat, teknik, dan latar (AECT, 1986 : 2).
Sumber-sumber belajar dibedakan menjadi dua jenis: (i) sumber belajar yang diranvang (by design) yakni sumber belajar yang secara khusus telah dikembangkan sebagai komponen pembelajaran untuk memberikan kemudahan /fasilitas belajar yang terarah dan bersifat normal, dan (ii) sumber belajar karena dimanfaatkan (by utilization) yakni sumber belajar yang tidak secara khusus dirancang untuk keperluan pembelajaran namun dapat ditemukan diterapkan, dan digunakan untuk keperluan belajar (AECT, 1986 : 9).
Sumber belajar disebut unsur dinamis pembelajaran karena setiap perubahan yang terjadi pada salah satu sumber belajar akan mengakibatkan terjadinya perubahan pada kegiatan pembelajaran.
Pesan dapat diartikan sebagai informasi yang disampaikan oleh sumber belajar atau komponen sistem instruksional yang lain dan berbentuk gagasan, fakta, ,makna dan data (AECT, 1986 : 195).
Orang sebagai sumber belajar adalah orang bertindak sebagai penyimpanan dan atau penyalur pesan (AECT, 1986 : 10).
Bahan adalah barang-barang (lazim disebut perangkat lunak) yang biasanya berisikan pesan untuk disampaikan dengan menggunakan peralatan, kadang-kadang bahan itu sendiri sudah merupakan bentuk penyajian (AECT, 1986 : 10).
Alat merupakan barang-barang (lazim disebut perangkat keras) yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang terdapat dalam bahan (AECT, 1986 : 10).
Teknik adalah prosedur atau langkah-langkah tertentu dalam menggunakan bahan, alat, tata tempat, dan orang untuk menyampaikan pesan (AECT, 1986 : 10)
Latar merupakan sumber belajar berupa lingkungan tempat pesan diterima oleh siswa ( AECT, 1986 : 10).
Adanya interaksi antara sumber sebagai unsur dinamis pembelajaran dengan siswa akan mewujudkan pelaksanaan pembelajaran.
c. Pelaksanaan pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran diartikan sebagai interaksi antara sumber belajar dengan siswa. Sasarn evaluasi pembelajaran dalam pelaksanaan pembelajaran secara lebih terperinci diantaranya adalah :
- Kesesuaian pesan dengan tujuan pengajaran.
- Kesesuaian sekuensi penyajian pesan kepada siswa.
- Kesesuaian bahan dan alat dengan pesan dan tujuan pengajaran.
- Kemampuan guru menggunakan bahan dan alat dalam pembelajaran.
- Kemampuan guru menggunakan teknik pembelajaran.
- Kesesuaian teknik pembelajaran dengan pesan dan tujuan pengajaran.
- Interaksi siswa dengan siswa lain.
- Interaksi guru dengan siswa.
d. Kurikulum
Kurikulum dipandang sebagai rencana tertulis yakni seperangkat komponen pembelajaran yang diuraikan secara tertulis pada bahan tercetak atau buku. Kurikulum sebagai sasaran evaluasi pembelajaran akan meliputi:
- Tersedianya dan sekaligus kelengkapan komponen kurikulum.
- Pemahaman terhadap prinsip-prinsip pengembangan dan pelaksanaan kurikulum.
- Pemahaman terhadap tujuan kelembagaan atau tujuan institusional sekolah.
- Pemahaman terhadap strukur program kurikulum.
- Pemahaman terhadap GBPP.
- Pemahaman terhadap teknik pembelajaran.
- Pemahaman terhadap sistem evaluasi.
- Pemahaman terhadap pembinaan guru.
- Pemahaman terhadap bimbingan siswa.
3. Prosedur Evaluasi Pembelajaran
Bahwa evaluator dalam evaluasi pembelajaran adalah suatu tim yang mempunyai peran penting dalam memberikan informasi mengenai keberhasilan pembelajaran (Arikunto, 1988:7) yang berhak menjadi evaluator adalah orang-orang yang telah memenuhi berbagai pesyaratan yang ditentukan. Adapun lima tahapan prosedur evaluasi pembelajaran sebagai berikut :
a. Penyusunan Rancangan
Desain evaluasi pembelajaran berisi hal-hal yang sama dengan yang tertera dalam desain penelitian yakni meliputi latar belakang, problematika, tujuan evaluasi, populasi, dan sampel, instrument dan sumber data serta teknik analisis data (Arikunto, 1988 : 44).
Ada beberapa langkah-langkah kegiatannya;
1. Menyusun latar belakang yang berisikan dasar pemikiran dan atau rasional penyelenggara evaluasi.
2. Problematika berisikan rumusan permasalahan/problematika yang akan dicari jawabannya baik secara umum maupun terperinci.
3. Tujuan evaluasi merupakan rumusan yang sesuai dengan problematika evaluasi pembelajaran.
4. Populasi dan sampel
5. Instrumen
6. Teknik analisis data
(Arikunto, 1988 : 44-47)
b. Penyusunan Instrumen.
Menurut Arikunto (1988 : 88-89) langkah-langkah penyusunan instrumen adalah :
i. Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan instrumen yang akan disusun.
ii. Membuat kisi-kisi yang mencanangkan tentang perincian variabel dan jenis yang akan digunakan untuk mengukur bagian variebel yang bersangkutan.
iii. Membuat butir-butir instrumen evaluasi pembelajaran yang dibuat berdasarkan kisi-kisi,
iv. Menyunting instrument evaluasi pembelajaran.
c. Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data dapat diterapkan berbagai teknik pengumpulan data diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Kuesioner yakni seperangkat pertanyaan tertulis yang diberikan kepada seseorang untuk mengungkap pendapat, keadaan, kesan yang ada pada diri orang tersebut maupun diluar dirinya (Arikunto, 1988 : 53)
2. Wawancara yakni suatu teknik pengumpulan data yang menuntut adanya pertemuan langsung atau komunikasi langsung antara evaluator dengan sumber data.
3. Pengamatan yakni teknik pengumpulan data melalui kegiatan mengamati yang dilakukan oleh evaluator terhadap kegiatan pembelajaran.
4. Studi kasus yakni teknik pengumpulan data berdasarkan kasus-kasus yang ada dan didokumentasikan.
d. Analisis Data
Analisis data dapat dilakukan secara individual dan berkelompok. Apabila data diolah dan dianalisis secara individual maka hasilnya menunjuk kepada seseorang atau suatu keadaan. Sedangkan pengolahan dan penganalisisan secara kelompok , hasilnyta menunjuk kepada suatu bagian data atau keseluruhan.
e. Penyusunan Laporan
Dalam laporan evaluasi pembelajaran harus berisikan pokok-pokok berikut.
1. Tujuan evaluasi, yakni didahului dengan latar belakang dan alasan dilaksanakannya evaluasi.
2. Problematika berupa pertanyaan-pertanyaan yang telah dicari jawabnya melalui pengetahuan evaluasi pembelajaran.
3. Lingkup dan metodologi evaluasi pembelajaran yang dicantumkan di sini adalah unsur-unsur yang dinilai dan hubungan antarvariabel, metode pengumpulan data, instrument pengumpulan data, teknik analisis data.
4. Pelaksanaan evaluasi pembelajaran, meliputi:
- Siapa tim evaluator selengkapnya dan jika perlu dengan pembagian tanggung jawaba,
- Penjadwalan pelaksanaan evaluasi, dan
- Kegiatan penyusunan laporan
5. Hasil evaluasi pembelajaran yakni berisi tujuan pengajaran, tolak ukur, data diperoleh, dan dilengkapi dengan sejumlah informasi yang mendorong penemuan evaluasi pembelajaran sehingga dengan mudah pembuat keputusan dapat memahami tingkat keberhasilan pembelajaran (Arikunto, 1988 : 117-118)



















Daftar Pustaka
Dimyati, Dr. Mudjiono, Drs. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. RINEKA CIPTA.