Tampilkan postingan dengan label kuliah Deteksi Dini Prilaku Bermasalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliah Deteksi Dini Prilaku Bermasalah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 November 2011

Remaja dan Permasalahannya

Remaja dan Permasalahannya
Sofia Retnowati
Fakultas psikologi UGM
Pengantar
Masa remaja seringkali dihubungkan dengan mitos dan stereotip mengenai penyimpangan dan tidakwajaran. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya teori-teori perkembangan yang membahas ketidakselarasan, gangguan emosi dan gangguan perilaku sebagai akibat dari tekanan-tekanan yang dialami remaja karena perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya maupun akibat perubahan lingkungan
Sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri remaja, mereka juga dihadapkan pada tugas-tugas yang berbeda dari tugas pada masa kanak-kanak. Sebagaimana diketahui, dalam setiap fase perkembangan, termasuk pada masa remaja, individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi. Apabila individu mampu menyelesaikan tugas perkembangan dengan baik, maka akan tercapai kepuasan, dan kebahagian juga akan menentukan keberhasilan individu memenuhi tugas-tugas perkembangan pada fase berikutnya. Beberapa perubahan yang dialami remaja adalah perubahan fisik, psikis, dan sosial

Perkembangan fisik remaja
Masa remaja diawali dengan masa pubertas, yaitu masa terjadinya perubahan-perubahan fisik (meliputi penampilan fisik seperti bentuk tubuh dan proporsi tubuh) dan fungsi fisiologis (kematangan organ-organ seksual). Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas ini merupakan peristiwa yang paling penting, berlangsung cepat, drastis, tidak beraturan dan terjadi pada sisitem reproduksi. Hormon-hormon mulai diproduksi dan mempengaruhi organ reproduksi untuk memulai siklus reproduksi serta mempengaruhi terjadinya perubahan tubuh. Perubahan tubuh ini disertai dengan perkembangan bertahap dari karakteristik seksual primer dan karakteristik seksual sekunder. Karakteristik seksual primer mencakup perkembangan organ-organ reproduksi, sedangkan karakteristik seksual sekunder mencakup perubahan dalam bentuk tubuh sesuai dengan jenis kelamin misalnya, pada remaja putri ditandai dengan menarche (menstruasi pertama), tumbuhnya rambut-rambut pubis, pembesaran buah dada, pinggul, sedangkan pada remaja putra mengalami pollutio (mimpi basah pertama), pembesaran suara, tumbuh rambut-rambut pubis, tumbuh rambut pada bagian tertentu seperti di dada, di kaki, kumis dan sebagainya.
Sekitar dua tahun pertumbuhan berat dan tinggi badan mengikuti perkembangan kematangan seksual remaja. Anak remaja putri mulai mengalami pertumbuhan tubuh pada usia rata-rata 8-9 tahun, dan mengalami menarche rata-rata pada usia 12 tahun. Pada anak remaja putra mulai menunjukan perubahan tubuh pada usia sekitar 10-11 tahun, sedangkan perubahan suara terjadi pada usia 13 tahun.
Pada masa pubertas, hormon-hormon yang mulai berfungsi selain menyebabkan perubahan fisik/tubuh juga mempengaruhi dorongan seks remaja. Remaja mulai merasakan dengan jelas meningkatnya dorongan seks dalam dirinya, misalnya muncul ketertarikan dengan orang lain dan keinginan untuk mendapatkan kepuasan seksual.
Selama masa remaja, perubahan tubuh ini akan semakin mencapai keseimbangan yang sifatnya individual. Di akhir masa remaja, ukuran tubuh remaja sudah mencapai bentuk akhirnya dan sistem reproduksi sudah mencapai kematangan secara fisiologis, sebelum akhirnya nanti mengalami penurunan fungsi pada saat awal masa lanjut usia. Sebagai akibat proses kematangan sistem reproduksi ini, seorang remaja sudah dapat menjalankan fungsi prokreasinya, artinya sudah dapat mempunyai keturunan. Meskipun demikian, hal ini tidak berarti bahwa remaja sudah mampu bereproduksi dengan aman secara fisik.

Perkembangan Psikis Remaja
Ketika memasuki masa pubertas, setiap anak telah mempunyai sistem kepribadian yang merupakan pembentukan dari perkembangan selama ini. Di luar sistem kepribadian anak seperti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi, pengaruh media massa, keluarga, sekolah, teman sebaya, budaya, agama, nilai dan norma masyarakat tidak dapat diabaikan dalam proses pembentukan kepribadian tersebut. Pada masa remaja, seringkali berbagai faktor penunjang ini dapat saling mendukung dan dapat saling berbenturan nilai.



Perkembangan Sosial remaja
Perubahan sosial seperti adanya kecenderungan anak-anak pra-remaja untuk berperilaku sebagaimana yang ditunjukan remaja membuat penganut aliran kontemporer memasukan mereka dalam kategori remaja. Adanya peningkatan kecenderungan para remaja untuk melanjutkan sekolah atau mengikuti pelatihan kerja (magang) setamat SLTA, membuat individu yang berusia 19 hingga 22 tahun juga dimasukan dalam golongan remaja, dengan pertimbangan bahwa pembentukan identitas diri remaja masih terus berlangsung sepanjang rentang usia tersebut.

Batasan remaja menurut usia kronologis, yaitu antara 13 hingga 18 tahun. Ada juga yang membatasi usia remaja antara 11 hingga 22 tahun.
Lebih lanjut Thornburgh membagi usia remaja menjadi tiga kelompok, yaitu:
a. Remaja awal : antara 11 hingga 13 tahun
b. Remaja pertengahan: antara 14 hingga 16 tahun
c. Remaja akhir: antara 17 hingga 19 tahun.

Pada usia tersebut, tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:
1. Mencapai hubungan yang baru dan lebih masak dengan teman sebaya baik sesama jenis maupun lawan jenis
2. Mencapai peran sosial maskulin dan feminin
3. Menerima keadaan fisik dan dapat mempergunakannya secara efektif
4. Mencapai kemandirian secara emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
5. Mencapai kepastian untuk mandiri secara ekonomi
6. Memilih pekerjaan dan mempersiapkan diri untuk bekerja
7. Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan dan kehidupan keluarga
8. Mengembangkan kemampuan dan konsep-konsep intelektual untuk tercapainya kompetensi sebagai warga negara
9. Menginginkan dan mencapai perilaku yang dapat dipertanggungjawabkan secara sosial
10. Memperoleh rangkaian sistem nilai dan etika sebagai pedoman perilaku

Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja yang disertai oleh berkembangnya kapasitas intelektual, stres dan harapan-harapan baru yang dialami remaja membuat mereka mudah mengalami gangguan baik berupa gangguan pikiran, perasaan maupun gangguan perilaku. Stres, kesedihan, kecemasan, kesepian, keraguan pada diri remaja membuat mereka mengambil resiko dengan melakukan kenakalan (Fuhrmann, 1990).

Masalah-masalah remaja
Tidak semua remaja dapat memenuhi tugas-tugas tersebut dengan baik. Menurut Hurlock (1973) ada beberapa masalah yang dialami remaja dalam memenuhi tugas-tugas tersebut, yaitu:
1. Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi dan kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi, penyesuaian sosial, tugas dan nilai-nilai.
2. Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orangtua.
Elkind dan Postman (dalam Fuhrmann, 1990) menyebutkan tentang fenomena akhir abad duapuluh, yaitu berkembangnya kesamaan perlakuan dan harapan terhadap anak-anak dan orang dewasa. Anak-anak masa kini mengalami banjir stres yang datang dari perubahan sosial yang cepat dan membingungkan serta harapan masyarakat yang menginginkan mereka melakukan peran dewasa sebelum mereka masak secara psikologis untuk menghadapinya. Tekanan-tekanan tersebut menimbulkan akibat seperti kegagalan di sekolah, penyalahgunaan obat-obatan, depresi dan bunuh diri, keluhan-keluhan somatik dan kesedihan yang kronis.
Lebih lanjut dikatakan bahwa masyarakat pada era teknologi maju dewasa ini membutuhkan orang yang sangat kompeten dan trampil untuk mengelola teknologi tersebut. Ketidakmampuan remaja mengikuti perkembangan teknologi yang demikian cepat dapat membuat mereka merasa gagal, malu, kehilangan harga diri, dan mengalami gangguan emosional.
Bellak (dalam Fuhrmann, 1990) secara khusus membahas pengaruh tekanan media terhadap perkembangan remaja. Menurutnya, remaja masa kini dihadapkan pada lingkungan dimana segala sesuatu berubah sangat cepat. Mereka dibanjiri oleh informasi yang terlalu banyak dan terlalu cepat untuk diserap dan dimengerti. Semuanya terus bertumpuk hingga mencapai apa yang disebut information overload. Akibatnya timbul perasaan terasing, keputusasaan, absurditas, problem identitas dan masalah-masalah yang berhubungan dengan benturan budaya.
Uraian di atas memberikan gambaran betapa majemuknya masalah yang dialami remaja masa kini. Tekanan-tekanan sebagai akibat perkembangan fisiologis pada masa remaja, ditambah dengan tekanan akibat perubahan kondisi sosial budaya serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat seringkali mengakibatkan timbulnya masalah-masalah psikologis berupa gangguan penyesuaian diri atau ganguan perilaku. Beberapa bentuk gangguan perilaku ini dapat digolongkan dalam delinkuensi.
Perkembangan pada remaja merupakan proses untuk mencapaikemasakan dalam berbagai aspek sampai tercapainya tingkat kedewasaan. Proses ini adalah sebuah proses yang memperlihatkan hubungan erat antara perkembangan aspek fisik dengan psikis pada remaja.


Kutub Keluarga ( Rumah Tangga)
Dalam berbagai penelitian yang telah dilakukan, dikemukakan bahwa anak/remaja yang dibesarkan dalam lingkungan sosial keluarga yang tidak baik/disharmoni keluarga, maka resiko anak untuk mengalami gangguan kepribadian menjadi berkepribadian antisosial dan berperilaku menyimpang lebih besar dibandingkan dengan anak/remaja yang dibesarkan dalam keluarga sehat/harmonis (sakinah).
Kriteria keluarga yang tidak sehat tersebut menurut para ahli, antara lain:
a. Keluarga tidak utuh (broken home by death, separation, divorce)
b. Kesibukan orangtua, ketidakberadaan dan ketidakbersamaan orang tua dan anak di rumah
c. Hubungan interpersonal antar anggota keluarga (ayah-ibu-anak) yang tidak baik (buruk)
d. Substitusi ungkapan kasih sayang orangtua kepada anak, dalam bentuk materi daripada kejiwaan (psikologis).

Selain daripada kondisi keluarga tersebut di atas, berikut adalah rincian kondisi keluarga yang merupakan sumber stres pada anak dan remaja, yaitu:
a. Hubungan buruk atau dingin antara ayah dan ibu
b. Terdapatnya gangguan fisik atau mental dalam keluarga
c. Cara pendidikan anak yang berbeda oleh kedua orangtua atau oleh kakek/nenek
d. Sikap orangtua yang dingin dan acuh tak acuh terhadap anak
e. Sikap orangtua yang kasar dan keras kepada anak
f. Campur tangan atau perhatian yang berlebih dari orangtua terhadap anak
g. Orang tua yang jarang di rumah atau terdapatnya isteri lain
h. Sikap atau kontrol yang tidak konsisiten, kontrol yang tidak cukup
i. Kurang stimuli kongnitif atau sosial
j. Lain-lain, menjadi anak angkat, dirawat di rumah sakit, kehilangan orang tua, dan lain sebagainya.

Sebagaimana telah disebutkan di muka, maka anak/remaja yang dibesarkan dalam keluarga sebagaimana diuraikan di atas, maka resiko untuk berkepribadian anti soial dan berperilaku menyimpang lebih besar dibandingkan dengan anak/maja yang dibesarkan dalam keluarga yang sehat/harmonis (sakinah).

Kutub Sekolah
Kondisi sekolah yang tidak baik dapat menganggu proses belajar mengajar anak didik, yang pada gilirannya dapat memberikan “peluang” pada anak didik untuk berperilaku menyimpang. Kondisi sekolah yang tidak baik tersebut, antara lain;
a. Sarana dan prasarana sekolah yang tidak memadai
b. Kuantitas dan kualitas tenaga guru yang tidak memadai
c. Kualitas dan kuantitas tenaga non guru yang tidak memadai
d. Kesejahteraan guru yang tidak memadai
e. Kurikilum sekolah yang sering berganti-ganti, muatan agama/budi pekerti yang kurang
f. Lokasi sekolah di daerah rawan, dan lain sebagainya.

Kutub Masyarakat (Kondisi Lingkungan Sosial)
Faktor kondisi lingkungan sosial yang tidak sehat atau “rawan”, dapat merupakan faktor yang kondusif bagi anak/remaja untuk berperilaku menyimpang. Faktor kutub masyarakat ini dapat dibagi dalam 2 bagian, yaitu pertama, faktor kerawanan masyarakat dan kedua, faktor daerah rawan (gangguan kamtibmas). Kriteria dari kedua faktor tersebut, antara lain:
a. Faktor Kerawanan Masyarakat (Lingkungan)
1) Tempat-tempat hiburan yang buka hingga larut malambahkan sampai dini hari
2) Peredaran alkohol, narkotika, obat-obatan terlarang lainnya
3) Pengangguran
4) Anak-anak putus sekolah/anak jalanan
5) Wanita tuna susila (wts)
6) Beredarnya bacaan, tontonan, TV, Majalah, dan lain-lain yang sifatnya pornografis dan kekerasan
7) Perumahan kumuh dan padat
8) Pencemaran lingkungan
9) Tindak kekerasan dan kriminalitas
10) Kesenjangan sosial

b. Daerah Rawan (Gangguan Kantibmas)
1) Penyalahgunaan alkohol, narkotika dan zat aditif lainnya
2) Perkelahian perorangan atau berkelompok/massal
3) Kebut-kebutan
4) Pencurian, perampasan, penodongan, pengompasan, perampokan
5) Perkosaan
6) Pembunuhan
7) Tindak kekerasan lainnya
8) Pengrusakan
9) Coret-coret dan lain sebagainya

Kondisi psikososial dan ketiga kutub diatas, merupakan faktor yang kondusif bagi terjadinya kenakalan remaja.

mencuri

Kami akan menyebutkan beberapa faktor yang mendorong sang anak melakukan perbuatan mencuri;

1. Hubuingan yang gersang antara orangtua dan anak;
2. Anak tidak merasa puas keperluan emosinya;
3. Anak tidak mendapatkan perlakuan yang baik dari orangtuanya;
4. Perlakuan yang sangat keras dari orangtuanya dalam tahap awal
perkembangannya;
5. Anak merasa tertekan secara emosionalnya.
6. Karna tidak terpenuhinya keinginan anak.
7. Orang tua terlalu pelit memberikan keinginan anak.


Dalam tahap perkembangan kedua hal-hal seperti ini biasanya mendorong si anak mencuri, khususnya ketika sudah berusia 7 tahun. Ia melakukan perbuatan itu untuk membalas sakit hati kerana perlakuan keluarganya atau kerana merasa ada sesuatu yang terampas darinya secara emosional atau tidak ada kehangatan dari keluarganya.
http://iman27forever.blogspot.com/2010/12/faktor-faktor-yang-menyebabkan-anak.html


Beberapa faktor yang menjadi pendorong mengapa seseorang anak berdusta;

1. Untuk Menarik Perhatian

Ketika si anak berbicara di hadapan ibunya dalam tahap awal perkembangannya, ia mungkin akan membicarakan hal-hal yang tidak wujud, demi menarik perhatian kerana ia merasakan bahawa ayah dan ibunya tidak mahu memberi perhatian ketika ia berbicara seperti seorang dewasa.

2. Untuk Menghindari Hukuman

Kalau siibu bertanya mengapa adiknya terluka atau bajunya kotor maka mungkin ia tidak akan mengatakan perkara yang sebenarnya. Ia mengaku tidak melakukan semua hal tersebut, padahal hatinya ingin mengatakan apa yang sebenarnya. Tetapi mungkin kerana takut akan mendapat hukuman maka ia terpaksa menutupinya dengan berdusta. Semakin galak dan keras sikap orangtuanya maka semakin berani pula ia berdusta.

3. Meniru Gaya Orang Tua

Anak kecil selalu meniru dan mengikuti perilaku orangtua. Kalau ia mendengar ibunya mengatakan tidak kelaur rumah kepada ayahnya, sedangkan ia tahu ibunya keluar ke rumah jirannya. Atau ia menyaksikan ayahnya menghormati pemimpin ketika bertemu tetapi mencaci dan mencemuh ketika pemimpin itu sudah tiada. Maka perbuatan-perbuatan itu akan ditiru oleh si anak ketika ia bermasaslah dengan ayah atau ibunya.

Kesan Dari Berdusta

Mencegah anak supaya tidak berbuat dosa adalah hal yang mesti dilakukan seawal yang mungkin kerana dusta itu berbeza dengan perilaku-perilaku buruk yang lain. Dusta atau berbohong akan menyebabkan pelakunya dengan sewenang-wenangnya melakukan perbuatan tercela yang lainnya, tiada bezanya dengan penyakit Aids yang menyebabkan kehilangan kekebalan sehingga si penderita akan dijangkiti denga penyakit yang lain,
Sebagaimana ucapan Imama Hasan Askari as, “Keburukan itu disimpan di suatu tempat dan dusta adalah pembukanya.”

Kebohongan, samada yang kecil ataupun besar sememangnya tidak boleh dianggap kecil/enteng kerana dampaknya amat dahsyat. Orangtua hendaknya tidak memberi contoh yang buruk dan tidak memberi jalan supaya ia mahu melakukan dosa. Imam Sajjad as mengatakan, “Waspadailah dusta kecil dan besar baik ketika serius atau sambil main-main kerana jika seseorang tidak malu melakukan dusta kecil maka ia akan berani melakukan dusta besar.”

Mengapa Anak-Anak Suka Mencuri

Mencuri adalah perbuatan yang burukl baik menurut pandangan umum atau agama. Jika anda memiliki anak-anak yang suka melakukan perbuatan sedemikian maka yang utama kita harus membezakan usia anak, antara yang baru berusia 3 tahun dan yang berusia di atas 5 tahun. Anak berusia 3 tahun belum dapat membezakan antara yang baik dengan yang buruk. Kerana ketika se usia sebegitu ia mencuri masih bisa dianggap bukan perbuatan buruk.

Untuk anak-anak yang baru berumur 3 tahun belum tiba masanya untuk dimaki dan dimarahi selama mereka belum memahami erti dari perbuatan mencuri dan ia tidak tahu bahawa barang yang diambil itu perlu mendapat izin dari tuan empunya. Atau katakan bahawa tidak baik mengambil barang orang lain tanpa keizinan, seperti juga kita tidak ingin orang lain mengambil barang dari kita.
Sementara bagi anak yang berumur di atas 5 tahun, maka itu juga tidak bererti ia tidak mendapatkan pendidikan yang baik. Kerana mungkin sahaja orang tuanya pelit.
Kalau begitu faktor apa sahaja yang membuuat si anak mendorong si anak melakukan kegiatan mencuri?
Kami akan menyebutkan beberapa faktor yang mendorong sang anak melakukan perbuatan mencuri;
1. Hubuingan yang gersang antara orangtua dan anak;
2. Anak tidak merasa puas keperluan emosinya;
3. Anak tidak mendapatkan perlakuan yang baik dari orangtuanya;
4. Perlakuan yang sangat keras dari orangtuanya dalam tahap awal perkembangannya;
5. Anak merasa tertekan secara emosionalnya.
Dalam tahap perkembangan kedua hal-hal seperti ini biasanya mendorong si anak mencuri, khususnya ketika sudah berusia 7 tahun. Ia melakukan perbuatan itu untuk membalas sakit hati kerana perlakuan keluarganya atau kerana merasa ada sesuatu yang terampas darinya secara emosional atau tidak ada kehangatan dari keluarganya.

Merasakan Dikucilkan

Perasaan diabaikan atau dikucilkan dalam tahap kedua dari perkembangan anak adalah perkara yang gawat kerana saat-saat itu ia harus mendapatkan tempat di tengah-tengah orang-orang dan teman-temannya. Ia mencuri untuk menyenangkan sahabat atau menarik simpati dan kasih sayang dari mereka kerana ia merasa lemah. Atau ia mencuri juga untuk membanggakan diri di hadapan teman-temannya supaya dianggap sebagai orang yang berani sebagaimana yang ia sangkakan.

Apakah sikap kita terhadap anak-anak yang suka mencuri?

Anak-anak yang suka mencuri dalam tahap kedua dari perkembangannya, selama ia masih tinggal bersama orangtua yang tidak pelit, maka anak-anak seperti ini sangat mudah untuk diatasi dengan mencegahnya dari awal, memberikan perhatian, kehangatan dan kelimpahan emosional serta membantu berinteraksi dan bergaul dengan teman-teman yang baik akhlak untuknya.
Para orangtua harus memberikan perhatian yang sangat besar kepada anak-anak mereka yang telah mencapai usia 5 tahun. Tidak perlu memperlakukan mereka dengan kasar dan keras tetapi cukup dengan hanya memberikan pengertian bahawa perbuatan tersebut sangat tidak terpuji. Berikan penjelasan bahawa barang yang mereka ambil itu harus dikembalikan kepada tuan empunya.
Adalah merupakan satu kesalahan besar mempermalukan anak yang melakukan pencurian dengan mengumumkannya atau menyebarkan kepada orang lain, kerana perbuatan itu hanya akan mendorong si anak itu untuk mencuri dengan skala yang lebih besar dan ia lebih terdorong untuk membalas dendam kepada orang yang merendah-rendahkannya, mempermalukannya atau menuduhnya.
Sumber: Syiar edisi Muharram 1427H; terjemahan Nano Warno dari Asbabul Kidzi’inda ‘Athfal dan Asbabul Kidzbi ‘inda ‘Athful.

penanganan - Membangkang

Cara Mengatasi Anak Yang Membangkang Atau Melawan
Hati siapa yang tidak sakit, jika seorang anak selalu saja suka melawan? Begitu juga siapa yang tidak kesal, kalau anak selalu membangkang, jika disuruh, diperintah, apalagi dinasihati orangtua?

Sebelum kita bertanya bagaimana cara menghadapi anak yang seperti itu, ada hal yang harus diperhatikan oleh orangtua apa sich yang menjadi penyebab anak suka membangkang atau melawan. Ada beberapa faktor yang menjadi pencetus munculnya sikap menentang anak, antara lain :
1. Orangtua yang terlalu menekan anak
2. Berkembang dari rasa iri hati anak
3. Suasana hati anak yang lagi tertekan (bermasalah)
4. Berbicara pada anak pada waktu yang tidak tepat
5. Keinginan anak yang berlebihan dan tidak terpenuhi
6. Hubungan orangtua dengan anak kurang harmonis
7. Orangtua kurang peka terhadap kebutuhan anak
8. Anak dibiarkan tumbuh tanpa bimbingan dan pengarahan
9. Orangtua kurang memperhatikan tipe kepribadian anak
10.Pengaruh pergaulan anak.

Itulah ke 10 faktor yang menyebabkan anak melawan kepada orangtua. Oleh karena itu, kita selaku orangtua diharapkan agar dapat menghindari ke 10 faktor tersebut.

Selanjutnya, bagaimana cara kita untuk mengatasi anak yang suka melawan tersebut tentulah tidak sesulit yang kita bayangkan. Ada beberapa pendekatan yang dapat kita lakukan yakni :
1. Lakukan pendekatan kasih sayang terhadap anak
2. Kita harus memahami watak atau tipe kepribadian anak
3. Menggerakkan anak untuk berpikir dan berbuat dengan menyentuh titik peka anak
4. Sediakan waktu, perhatian dan kepedulian pada anak
5. Menggunakan cara menyampaikan maksud yang komunikatif
6. Perhatikan dan arahkan kualitas pergaulan anak

Demikianlah 6 langkah yang cukup efektif untuk kita gunakan dalam mengatasi anak yang suka membangkang atau melawan. Selamat mencoba....
http://mr-rahman.blogspot.com/2010/07/cara-mengatasi-anak-yang-membangkang.html

BAGAIMANA CARA MENGATASI PERILAKU ANAK YANG MEMBANGKANG
Posted by admin on Dec 19, 2007

Munculnya perilaku membangkang pada anak merupakan bentuk penolakan yang dilakukan oleh anak terhadap perintah dan panggilan yang tidak disukai. Dalam kehidupan sehari-hari, ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan penolakan anak pada anak yang membangkang, yaitu ketika panggilan atau perintah dilakukan kepada anak yang sedang dalam kondisi serius atau asyik dengan aktifitasnya (asyik menonton TV atau asyik bermain video game atau permainan lainnya).
Anak yang memang pada dasarnya tidak memahami perintah atau permintaan orang lain pada dirinya, dan ada juga penolakan yang terjadi dalam bentuk pengendalian emosi pada anak yang sedang menghadapi pencarian jati diri.
Ada beberapa bentuk penolakan atau pembangkangan yang dilakukan oleh anak biasanya diperlihatkan dalam beberapa sikap, antara lain misalnya dengan cara membanting pintu, cemberut, menyentak-nyentakkan kaki, diam atau tidak bereaksi ketika dipanggil, dan cuek ketika sedang diajak bicara. Kejadian atas perilaku penolakan anak tersebut pasti akan menimbulkan perasaan orang lain menjadi ingin marah, menyerang, dan memaksakan kehendak agar anak mau melakukan apa yang diperintahkan olehnya.
Dalam hal ini sebagai orangtua yang bijaksana tentulah tidak akan menanggapi penolakan anak dengan spontan dan tergesa-gesa. Dengan timbulnya perdebatan dan pertentangan yang tak terkendali berakibat semakin parahnya penolakan yang dilakukan oleh anak akan membuat situasi semakin tegang dan ini dapat membahayakan, terutama jika terjadi kontak fisik/kekerasan antara orangtua dan anak.
Marilah kita bertindak dengan tenang dalam menghadapi kejadian penolakan anak ini, dengan demikian orangtua pasti akan dapat memahami latar belakang apa yang menyebabkan anak mereka membangkang pada kita atau menolak panggilan dan perintah kita.
Banyak sekali kemungkinan kenapa anak menolak perintah atau panggilan orangtua. Mungkin karena anak kita ingin mendapatkan perhatian. Mungkin juga anak menginginkan sentuhan yang dapat membuatnya merasa tentram dan dimengerti seperti pelukan, ciuman, dan usapan kepala yang penuh kehangatan.
Kemungkinan yang lainnya anak sedang marah kepada orangtua terhadap sesuatu yang ia inginkan tetapi tidak dipenuhi oleh orang tua. Atau juga bisa saja penolakan yang terjadi hanya karena sekedar meniru perilaku penolakan seseorang dan yang sangat sering di tiru adalah kedua orang tuanya sendiri.
Dengan menciptakan suasana yang lebih menyenangkan dengan cara mengganti ucapan orang tua yang bernada perintah maupun paksaan diganti dengan sebuah ’ajakan’ yang tentu akan lebih menyenangkan.
Sehingga anak akan merasa senang sekali melakukan apa yang menjadi harapan dan keinginan orangtuanya dan mereka pun akan merasa nyaman menerima kehadiran orangtuanya.
Dengan cara memahami kondisi anak dengan cara pendekatan yang menyenangkan dan dengan sentuhan fisik yang penuh kelembutan sebelum memerintah atau memanggilnya, ini akan dapat mengurangi konflik atau ketegangan di antara orangtua dengan anak.
http://www.namaislami.com/2007633-bagaimana-cara-mengatasi-perilaku-anak-yang-membangkang.html

penanganan - Membangkang

Beberapa hal berikut ini mungkin dapat dilakukan oleh orangtua untuk menangani anak yang membangkang:

1. Persiapkan diri untuk menerima reaksi yang tidak diharapkan. Anak yang membangkang memiliki ketrampilan untuk melawan pada waktu yang tidak bisa ditentukan. Jadi orangtua harus mempersiapkan diri untuk mengatasi perlawanan dari sang anak.

2. Hindari memberikan argumen balik ke anak. Perang argumen bisa memicu timbulnya masalah yang lebih rumit. Kadang anak pembangkang menemukan argumen yang tak terduga dan bisa memicu orangtua untuk memberikan argumen balik.

3. Fokus tentang apa yang harus dilakukan. Untuk itu hindari pernyataan yang tidak bisa dikontrol oleh orangtua. Jika ingin menyuruh anak mengerjakan tugas sekolah, fokuslah pada masalah tugas sekolah saja. Misalnya katakan, "Tugas sekolah lebih penting untuk dikerjakan sebelum menonton televisi, jika tidak mau mengerjakan tugas maka televisi akan dimatikan".

4. Ambillah sedikit waktu untuk menenangkan diri. Hal ini sangat diperlukan ketika orangtua mulai kehilangan kendali. Berseteru dengan anak bisa menghabiskan energi yang luar biasa besar. Jika orangtua tidak tenang dan tidak bisa mengontrol diri, maka perseteruan tersebut bisa melukai hati orangtua dan anak itu sendiri.

5. Pertahankan sikap positif. Anak harus diajarkan untuk memikirkan dampak dari sikapnya terhadap kehidupan dan hubungannya dengan orang lain. Hal ini akan melatih keterampilan anak untuk berfikir positif dan fokus terhadap pilihannya.

6. Hindari penggunaan sindiran yang tajam. Banyak orangtua yang belum puas bila belum berteriak dan menyindir anak dengan kata-kata yang tajam yang sesungguhnya dapat melukai perasaan anak. Kata-kata sindiran dan teriakan saat berseteru bisa membahayakan hubungan antara orangtua dengan anak.

7. Beri penghargaan yang positif. Penghargaan yang positif sangat diperlukan saat anak mau mendengarkan kata-kata orangtuanya. Penghargaan tidak harus bersifat fisik, bahkan seringkali penghargaan yang bersifat emosional seperti pujian dan ekspresi cinta dari orangtua jauh lebih berarti buat anak. Bila itu dilakukan, maka dapat menjadi awal yang baik dalam membangun hubungan yang lebih baik antara orangtua dan anak.

Mengidentifikasi Aspek-Aspek Perkembangan

Mengidentifikasi Aspek-Aspek Perkembangan
1. Perkembangan Fisik (Motorik)
Perkembangan fisik (motorik) merupakan proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak. Setiap gerakan yang dilakukan anak merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak.
Perkembangan fisik (motorik) meliputi perkembangan motorik kasar dan motorik halus.
o Perkembangan Motorik Kasar
Kemampuan anak untuk duduk, berlari, dan melompat termasuk contoh perkembangan motorik kasar. Otot-otot besar dan sebagian atau seluruh anggota tubuh digunakan oleh anak untuk melakukan gerakan tubuh.
Perkembangan motorik kasar dipengaruhi oleh proses kematangan anak. Karena proses kematangan setiap anak berbeda, maka laju perkembangan seorang anak bisa saja berbeda dengan anak lainnya.
o Perkembangan Motorik halus
Adapun perkembangan motorik halus merupakan perkembangan gerakan anak yang menggunakan otot-otot kecil atau sebagian anggota tubuh tertentu.
Perkembangan pada aspek ini dipengaruhi oleh kesempatan anak untuk belajar dan berlatih. Kemampuan menulis, menggunting, dan menyusun balok termasuk contoh gerakan motorik halus.




2. Perkembangan Emosi
Perkembangan pada aspek ini meliputi kemampuan anak untuk mencintai; merasa nyaman, berani, gembira, takut, dan marah; serta bentuk-bentuk emosi lainnya. Pada aspek ini, anak sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan orangtua dan orang-orang di sekitarnya.
Emosi yang berkembang akan sesuai dengan impuls emosi yang diterimanya. Misalnya, jika anak mendapatkan curahan kasih sayang, mereka akan belajar untuk menyayangi.
3. Perkembangan Sosial
Aspek sosial berkaitan dengan kemampuan anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Misalnya, kemampuan anak untuk menyapa dan bermain bersama teman-teman sebayanya.
Dengan mengetahui aspek-aspek perkembangan anak, orangtua dan pendidik bisa merancang dan memberikan rangsangan serta latihan agar keempat aspek tersebut berkembang secara seimbang.
Rangsangan atau latihan tidak bisa terfokus hanya pada satu atau sebagian aspek. Tentunya, rangsangan dan latihan tersebut diberikan dengan tetap memerhatikan kesiapan anak, bukan dengan paksaan.

menggigit kuku

MENGGIGIT KUKU
Anak yang menggigit kuku biasanya sedang merasa tak nyaman, entah dia sedih, marah, jengkel, bosan, dll. Pertama pastinya coba dicek dulu apa yang sedang terjadi pada dia ketika sedang menggigit kuku. Cara paling cepat untuk mengatasi adalah mengalihkan tangannya (tanpa dia sadari) untuk melakukan hal lain, misalnya nih Bunda, langsung saja anak dipanggil untuk membantu Bunda memegang sayur atau mengajak main. Semakin sering dinasehati sambil diancam, dia mungkin akan merasa takut dan justru jadi merasa semakin perlu menggigit kuku. Juga kalau sering dikomentari soal gigit kukunya.
Nah, perlu dicari tahu juga apa sebetulnya yang si kecil rasakan sampai ia menggigit kuku. Tentunya ini perlu pengamatan dan sensitivitas Bunda. Tapi nggak usah terlalu khawatir, yang penting adalah membuka mata dan hati, biasanya anaklah yang akan menunjukkannya pada Bunda.

Kebiasaan Menggigit Kuku Rentan Turunkan IQ Anak! - Thread Not Solved Yet
Bagi Anda yang memiliki anak yang terbiasa menggigit kuku berhati-hatilah! Sebenarnya menggigit kuku merupakan hal yang lumrah dilakukan apabila seseorang, tidak hanya anak kecil tetapi juga otang dewasa merasa gugup. Tetapi sebuah penelitian yang dilakukan di Rusia baru-baru ini mengatakan bahwa kebiasaan menggigit kuku khususnya pada anak kecil pada menyebabkan kemunduran intelejensi Alias IQ anak dipastikan bisa turun secara drastis!

Mengapa Bisa Terjadi?
Tangan dan kuku yang kotor membuat zat timah secara cepat dapat mengendap dibawah kuku. Timah tersebut dapat merusak menghambat pertumbuhan dan perkembangan otak anak karena paparan timah pada tubuh manusia yang masih dalam masa pertumbuhan dapat merusak sistem saraf. Karena hal tersebut, seorang anak yang sering menggigit kuku diyakini akan mengalami kemunduran dalam hal perkembangan otaknya.
Tidak hanya pada tanah dan debu yang masuk ke dalam kuku, timah sebenarnya juga dapat ditemui di buah-buahan atau sayuran yang tidak dicuci dengan bersih. Oleh sebab itu, pastikan anak Anda selain menghentikan kebiasaan menggigit kuku juga terjaga kehigienisan makanannya.
Nah, jika anak Anda termasuk anak yang sering bermain dengan tanah atau cat berhati-hatilah, paling tidak biasakan agar mereka selalu mencuci tangan dengan sabun hingga bersih dan berikan pengertian dengan bahasa yang mudah dimengerti sedini mungkin bahwa memiliki kebiasaan menggigit kuku selain akan membuat kuku tampak jelek juga dapat membuat tubuh mereka tidak sehat. (Nae).hanyawanita.com
Kebiasaan Gigit Kuku, Dapat Mengganggu Intelijensi Anak
RUSIA (Berita SuaraMedia) - Seorang peneliti Rusia menyatakan, kebiasaan menggigiti kuku jari bisa beresiko besar membuat si kecil mengalami keracunan timah hitam. Timah hitam atau timbel dengan mudah menumpuk di bawah kuku ketika anak-anak bermain di tempat berdebu, baik itu di dalam maupun di luar rumah. Paparan timah pada tubuh bisa memengaruhi perkembangan anak-anak yang disebabkan kerusakan sistem saraf.
Tinggi rendahnya kadar timah hitam di dalam tubuh anak bervariasi, tergantung pada apakah anak-anak itu tinggal di rumah yang tertelak di pinggir jalan besar dan berdebu ataukah mereka punya kebiasaan bermain dengan tanah atau benda yang mengandung cat bertimbel.
Tak hanya itu, ternyata menggigit kuku juga menyebabkan kutikula mengelupas sehingga menimbulkan rasa perih dan membuka peluang infeksi. Selain itu, kuku si kecil tampak tidak cantik karena grepes.
Bukti-bukti menunjukkan, aktivitas menggigit kuku lebih banyak dilakukan anak perempuan. Mungkin karena anak perempuan lebih tidak ditabukan untuk melakukannya dibandingkan anak laki-laki.
Masyarakat lebih bisa memaklumi bila aktivitas tersebut dilakukan oleh anak perempuan. Akibatnya bila merasa cemas atau tidak nyaman, anak perempuan cenderung menggigiti kuku, sedangkan anak laki-laki akan mencari bentuk aktivitas lain yang lebih bisa "diterima", misalnya menggigit pensil atau mengeretakkan gigi.
Menggigit kuku atau benda-benda lain seperti pensil, pulpen, dan lain-lain, merupakan kebiasaan saat seseorang merasa stres, senang, bosan, atau tak ada kegiatan. Kebiasaan yang oleh para ahli disebut "perilaku cemas" ini dilakukan tanpa sadar hingga kukunya jadi pendek sekali, bahkan daging di bawah kuku ikut berdarah karena tergigit. Kebiasaan yang "menurun" pada anggota keluarga ini termasuk menggaruk hidung, memainkan rambut, atau menggertakkan gigi. Separuh pelakunya adalah anak-anak dan 23 persen remaja.
Berikut ini ulasan dr Sri H Andayani SpA, dari Omni Hospital, Pulo Mas, Jakarta dan Herlina Liem Psi, dari Fakultas Psikologi (Bagian Psikologi Anak) Universitas Indonesia.
Alasan Menggigit Kuku
Ada banyak alasan mengapa si kecil suka menggigit kuku. Mulai dari sekadar rasa ingin tahu seperti apa rasanya, mengatasi rasa bosan, cemas, hingga usaha menutupi rasa takut. Yang jelas, kebiasaan ini dikenal dengan sebutan nervous habit, alias kebiasaan yang disebabkan oleh perasaan cemas atau gelisah. Celakanya, jika tak cepat-cepat ditangani, kebiasaan ini kerap terbawa hingga si anak tumbuh dewasa.
Bila si kecil melakukan kebiasaan ini secara tidak berlebihan (dan tidak melukai dirinya), juga secara tidak sadar (misalnya selagi menonton televisi), atau bila dia cenderung menggigit sebagai respon terhadap situasi tertentu (ketika sedang rebutan mainan dengan kakak atau adiknya), maka Moms tak perlu cemas berlebihan. Itu hanyalah cara anak mengatasi stres ringan. Kemungkinan besar kebiasaan ini akan berhenti dengan sendirinya.
Cari Sebabnya
Akan tetapi, bila kebiasaan menggigit kuku atau mengisap ibu jari tetap berlangsung, ada beberapa langkah untuk membantu si kecil menghentikan kebiasaannya tersebut. Tanyakan kepadanya, apakah ada hal yang membuatnya gelisah, takut atau cemas.

Jika sudah tahu apa yang membuat anak gelisah, bisa karena baru pindah rumah, perceraian orangtua, teman baru, kelahiran adik baru, bantu anak untuk mengungkapkan kekhawatirannya. Setelah itu, baru lakukan langkah-langkah seperti dalam tip.
Berikut sejumlah trik untuk menghentikan kebiasaan buruk menggigit kuku:
1. Menenangkan diri
Kecemasan seringkali menjadi pemicu seseorang tanpa sadar menggigiti kukunya. Secara psikologis, aktivitas itu dilakukan untuk menenangkan diri. Namun, cobalah cara lain. Misalnya, ambil napas panjang atau melakukan beberapa latihan stretching saat anda merasa stres.
Atau coba trik ini: Tutup mata dan bayangkan aktivitas yang menyenangkan, seperti berlibur di suatu pantai. Fokuskan pikiran seolah Anda berada di lokasi itu. Anda juga dapat mencoba menuliskan apa yang membuat Anda cemas atau menelepon teman dekat untuk bicarakan tentang hal itu.
2. Buat kesibukan baru
Menggigit kuku juga cenderung dilakukan banyak orang saat sedang bosan dan lesu. Jika itu terjadi, tandanya Anda sedang berusaha mengalihkan perhatian. Cobalah ganti kebiasaan menggigit kuku dengan kebiasaan lain yang membuat tangan sibuk, seperti menulis, merajut, minum secangkir teh, atau memilah-milah cucian.
3. Meminta pendukung
Minta teman-teman dekat dan keluarga untuk memberi peringatan lembut ketika Anda mulai menggigit kuku. "Sering kali orang tidak menyadari jari-jari mereka ada di mulut mereka," kata Donnenfeld. "Memiliki seseorang yang mengingatkan Anda dengan lembut akan sangat membantu."

RASA TIDAK AMAN
Kebutuhan Rasa Aman Pada Anak
Nilai terpenting dari rasa aman seseorang adalah diberikannya kasih sayang,ketentraman dan penerimaan dirinya.Bisa kita lihat,anak-anak yang merasa sungguh-sungguh dicintai oleh orang tua dan keluarganya akan merasa bahagia dan aman.
Sebagai orang tua,kita bisa mewujudkan rasa aman pada anak-anak kita,dengan cara memperhatikan kepentingan-kepentingannya,kita ciptakan hubungan yang erat antara anak-anak dan keluarga.Suasana yang tenang dalam kehidupan rumah tangga sangat penting untuk menjadiakan anak merasa aman.Cara mendidik yang berbeda antara ayah dan ibu juga berpengaruh dalam kejiwaan anak.
Kehilangan rasa aman saat masa kanak-kanak sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup anak nantinya,kehilangan rasa aman menimbulkan gejolak disaat dia dewasa nanti,walaupun situasi nantinya jauh lebih baik,tapi rasa itu akan terus membekas.
Bukan hanya memberikan makanan,pakaian dan perawatan kesehatan yang cukup kepada anak,tugas orang tua sudah selesai?tentu tidak.
Sebenarnya segala jenis perlakuan yang diterima anak dari orang tua,hingga ia merasa di sayangi,diperhatikan dan di indahkan dalam keluarga ini kelanjutan dari tugas orang tua.
Kita harus sadari,kenakalan anak muncul karena dia merasa tidak nyaman dengan kondisi saat itu,perasaan tertekan karena tidak adanya perhatian dari orang tua,sehingga anak akan menjadi lebih agresif dengan mencari perhatian,tentunya dengan cara berlebih.
Untuk mengatasi masalah ini,ada baiknya kita sebagai orang tua ikut serta dalam pengisian waktu luang anak-anak,bukan berarti waktu tersebut digunakan untuk melakukan hal-hal yang sebagian dipikir oleh orang tua positif,misal belajar,membantu orang tua dalam urusan rumah.Sedangkan saat untuk menyalurkan hobby anak,orang tua menganggap ini bukan sesuatu yang baik,atau tidak penting.Justru inilah yang menyebabkan anak menggerutu,melawan,bahkan malas untuk belajar.Berilah waktu untuk anak saat dia ingin melakukan kesenangannya sejauh itu adalah wajar,dan sekali lagi,tugas orang tua tetap mengawasi,untuk memberi pertimbangan antara baik dan buruk,karena anak kurang mengetahui akan hal itu.
I gave the name of my children into your hands O Lord,
do not let the world harm, such as wheat ungodly
hold his hand my children, when one day have to let go,
keep him for life,
in your hands I leave the names of my children.

Pentingnya Membangun Rasa Aman Untuk Belajar
14 02 2008
Edisi 5 Tahun 2007
Bermain adalah dunia anak. Setiap anak akan meluangkan sebagian besar waktunya untuk bermain. Hal ini terbentuk secara insting. Nalurinya akan menggerakkan dia untuk bermain dan mencari tahu berbagai hal yang dilihat dan didengarnya. Lalu dia mencari tahu apakah hal baru itu bisa menyenangkan baginya.
Jika menyenangkan, ia akan menerima dan mempelajarinya. Jika ternyata tidak mengasyikkan, ia akan segera mengalihkan perhatiannya pada hal lainnya. Begitu selanjutnya, dia akan mencoba segala sesuatu secara trial and error sampai terpuaskan rasa ingin tahunya.
Anak belum dapat memilih mana permainan yang cocok untuknya. Karena menentukan pilihan juga merupakan hal yang dipelajari oleh anak-anak, maka orang tua perlu memilihkan permainan yang cocok untuk kebutuhannya.
Orang tua harus tahu manfaat dari berbagai jenis permainan bagi kebutuhan anaknya atau mereka dapat mengambil hikmah dari suatu permainan yang sedang dilakukan anak.
Jadi tidak perlu bingung bila anak anda yang berusia 2 tahun membanting atau melempar mobil-mobilan atau handphone yang dipegangnya. Dia membutuhkan sarana melatih otot lengannya. Nalurinya menggerakkan dia untuk melempar benda apa saja
sekuat tenaga. Kebetulan saja ayahnya memberikan handphone yang bobotnya pas untuk melatih otot lengannya, jadi dilemparnya HP itu sampai rusak.
Kalau saja ayahnya mengerti kebutuhannya, bukan HP yang masih bagus tetapi barang-barang yang dapat dilempar sekuat tenaga oleh anaknya. Atau HP yang sudah rusak total yang diberikan untuk dilempar.
Sangat penting bagi orang tua untuk mengetahui kebutuhan dasar anak untuk belajar serta motivasi yang sedang menggerakkannya.
Rasa aman untuk melakukan berbagai hal yang ingin dilakukan merupakan salah satu faktor utama dalam belajar.
Jika saja sang ayah dalam cerita di atas memarahi si anak karena merusakkan handphonenya. Si anak akan berhenti melempar barang-barang lagi karena takut dimarahi, tetapi dia juga berhenti belajar menggunakan lengannya untuk melempar. Jika salah satu bakatnya ternyata melempar pisau, maka ayahnya telah membuat dia kehilangan salah satu
bakatnya yang berguna baginya untuk bertahan hidup di masa depan. Karena saat marah atau membentak, ayahnya menciptakan rasa tidak aman bagi si anak yang merusak semangat belajarnya.
Akibat negatif lain, si ayah telah mengajarkan rasa takut pada si anak. Padahal Allah telah memerintahkan agar kita hanya takut pada Allah, bukan yang lain. Rasa takut pada hal selain Allah akan menimbulkan rasa tidak aman yang menjadikan kita tidak membuat kemajuan.
Ketidakmampuan menumbuhkan rasa aman bagi seorang anak berakibat banyak hal negatif. Anak-anak nakal, pemalas, hingga pelaku kriminal adalah sebagian contohnya.
Rasa aman akan menumbuhkan percaya diri untuk berekspresi. Jadi mampukah kita merasakan jika anak sedang merasa tidak aman, lalu memberikan rasa aman yang dibutuhkannya?

Agresif - Onar

Anak Agresif? Sebab, Perilaku, dan Penanganannya
________________________________________
Sebab Perilaku Agresif Anak dan Penanganannya (Cara Mengatasi Anak Yang Agresif dan Aktif)
midwifery-online.blogspot.com
Sering kita jumpai ada seorang anak yang berperilaku agresif. Serba salah memang saat kita menghadapi anak seperti ini. Bila kita menggunakan “kekerasan”, hati nurani kita mengatakan TIDAK. Tapi kalau dilembutin, lha kok malah tambah keterlaluan dan mengganggu atau memberikan pengaruh buruk pada anak yang lain. Sebelum kita menuju pada cara menanganinya, alangkah lebih baik bila kita mengetahu faktor-faktor yang menyebabkan anak menjadi berperilaku agresif.

1. Faktor Orang Tua
Pola asuh orang tua kepada anak, akan sangat mempengaruhi perilaku anak di “dunia luar”. Mengapa? Karena seorang anak akan sangat merindukan suasana rumah yang bahagia untuknya bisa bertumbuh secara fisik maupun mental. Oleh karena itu, pola asuh yang baik dan benar akan sangat dibutuhkan oleh sang anak. Bila suasa rumah, atau tempat orang tua mengasuh anak, tidak mendukung, maka hal ini bisa memicu sifat agresif anak. Sikap agresif anak pertama-tama disebabkan oleh adanya hal-hal yang dirindukan sang anak, namun sang anak tidak bisa mendapatkannya. Amarah yang “tidak terkendali” karena sifat yang masih kekanak-kanakan atau kedewasaan yang belum matang, bisa menyebabkan anak menjadi agresif. Biasanya sifat seperti ini disebabkan oleh keadaan rumah yang terlalu “kering” bagi sang anak. Sang anak merasa tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang cukup dari kedua orang tuanya.
Sikap agresif, juga bisa terbentuk dari pola asuh orang tua yang terlalu memanjakan. Sikap orang tua yang terlalu memanjakan sang anak dan selalu memberikan apa yang menjadi kemauan sang anak, juga bisa menjadi salah satu sebab anak menjadi agresif. Biasanya anak yang seperti ini, area kemandirian sang anak belum terbentuk dengan baik. Sehingga saat dia mengalami masalah kecil saja, bisa menjadi sebuah masalah yang besar bagi dia.

2. Faktor Sekolah
Sekolah juga bisa menjadi salah satu penyebab anak menjadi agresif. Biasanya, salah satu penyebabnya adalah “masalah dari rumah” juga. Orang tua yang terlalu menginginkan anaknya untuk menjadi anak yang berprestasi, bisa menjadi salah satu penyebab anak menjadi agresif. Karena tingginya tuntutan orang tua, maka anak yang masih ingin banyak bermain menjadi tertekan. Tekanan inilah yang menyebabkan anak menjadi agresif. Apalagi bila anak terlalu banyak diberikan materi-materi yang berat dari sekolah. Faktor yang lain adalah pengaruh dari teman-temannya di sekolah. Bila seorang anak memiliki teman-teman yang cenderung agresif, maka ada kemungkinan anak tersebut tertular teman yang lain.

3. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan bisa didapat dari teman-teman bermain di lingkungan rumah. Yang pasti, teman yang baik, akan bisa mengubah seorang anak menjadi seorang yang baik pula. Begitu pula sebaliknya. Dalam hal ini, kita kembali pada orang tua, bagaimana memberikan anak lingkungan bermain yang baik dan mengenalkan pada teman-teman yang baik. Faktor lingkungan juga bisa dipengaruhi oleh media komunikasi. Misalnya adalah media televisi. Banyak sekali kita temukan adegan kekerasan di media televise dan tontonan-tontonan yang tidak layak bagi anak usia dini.

Berkaitan dengan faktor-faktor di atas, penangangan pada anak yang agresif adalah perkara yang gampang-gampang susah. Akan menjadi gampang, bila kita tahu caranya. Dan akan menjadi susah bila kita terlalu cuek dan tidak peduli atau malah merasa “malu” untuk membicarakan hal buruk yang terjadi pada anak sendiri. Untuk bisa menyelesaikan masalah ini memang sangat dibutuhkan sebuah keterbukaan, khususnya bagi orang tua. Komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak, orang tua dengan sekolah, orang tua dengan lingkangan, dan sekolah dengan orang tua perlu terjalin dengan baik. Mengapa? Kadang kita jumpai anak yang terlihat baik di hadapan orang tuanya, namun di luar rumah atau di sekolah, dia adalah anak yang bandel. Biasanya hal ini terjadi karena adanya miskomunikasi antara orang tua dengan salah satu lingkungan tersebut. Hal ini menyebabkan anak menjadi memiliki dunia yang berbeda-beda dan terkotak-kotak. Andaikan anak mendapatkan segala apa yang dia inginkan di rumah, dengan pola asuh yang baik, maka dia tidak akan mencari di luar rumah. Dan kalau toh sudah terlanjut anak mencari di “tempat lain” karena ada kebutuhannya yang tidak terpenuhi, misalnya dengan membuat onar di sekolah”, maka semua akan lebih cepat dan mudah didapatkan solusinya.
Jadi komunikasi adalah hal yang sangat penting, dan semua kembali pada orang tua. (Kak Zepe, Pencipta Lagu Anak)

Sumber: lagu2anak.blogspot.com

Secara umum, yang dimaksud dengan gangguan emosi dan perilaku adalah ketidakmampuan yang ditunjukan dengan respons emosional atau perilaku yang berbeda dari usia sebayanya, budaya atau norma sosial.
Ketidakmampuan tersebut akan mempengaruhi prestasi sekolah yaitu prestasi akademik, interaksi sosial dan ketrampilan pribadinya. Ketidakmampuan ini sifatnya menetap dan akan lebih tampak bila sang anak berada dalam situasi yangdirasakan menegangkan olehnya.
Gangguan emosi dan perilaku dapat saja muncul bersama gangguan psikologis lain, misalnya ADD ( Attention Deficit Disorder) yaitu gangguan pemusatan pikiran (GPP) atau ADHD ( Attention Dificit and Hyperactive Disorder)yaitu gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas ( GPPH) ataupun retardasi mental.
Karakteristik dari masalah perilaku dan emosional ini sangat bervariasi. Berikut ini akan digambarkan karakteristik perilaku agresif menurut Masykouri (2005) :
• Perilaku agresif dapat bersifat verbal maupun nonverbal.
Bersifat verbal biasanya lebih tergantung pada situasional bersifat nonverbal yakni perilaku agresif yang merupakan respons dari keadaan frustasi, takut atau marah dengan cara mencoba menyakiti orang lain.
Bentuk-bentuk perilaku agresif ini yang paling tampak adalah memukul, berkelahi, mengejek, berteriak, tidak mau mengikuti perintah atau permintaan, menangis atau merusak. Anak yang menunjukan perilaku ini biasanya kita anggap sebagai pengganggu atau pembuat onar. Sebenarnya, anak yang tidak mengalami masalah emosi atu perilaku juga menampilkan perilaku seperti yang disebutkan diatas, tetapi tidak sesering atau seimpulsif anak yang memiliki masalah emosi atau perilaku. Anak dengan perilaku agresif biasanya mendapatkan masalah tambahan seperti tidak terima oleh teman-temannya (dimusuhi, dijauhi, tidak diajak bermain) dan dianggap sebagai pembuat masalah oleh guru. Perilaku agresif semacam itu biasanya diperkuat dengan didapatkan penguatan dari lingkungan berupa status, dianggap hebat oleh teman sebaya, atau didapatkannya sesuatu yang diinginkan, termasuk melihat temannya menangis saat dipukul olehnya.
• Perilaku agresif merupakan bagian dari perilaku antisosial.
Perilaku anti sosial sendiri mencakup berbagai tindakan seperti tindakan agresif, ancaman secara verbal terhadap orang lain, perkelahian, perusakan hak milik, pencurian, suka merusak (vandalis), kebohongan, pembakaran, kabur dari rumah, pembunuhan dan lain-lain. Menurut buku panduan diagnostik (dalam Masykouri, 2005: 12.4) untuk gangguan mental, seseorang dikatakan mengalami gangguan perilaku antisosial (termasuk agresif) bila tiga di antara daftar perilaku khusus berikut terdapat dalam seseorang secara bersama-sama paling tidak selama enam bulan. Perilaku tersebut sebagi berikut.
1. Mencuri tanpa menyerang korban lebih dari satu kali.
2. Kabur dari rumah semalam paling tidak dua kali selama tinggal di rumah orang tua.
3. Sering berbohong.
4. Dengan sengaja melakukan pembakaran.
5. Sering bolos sekolah.
6. Memasuki rumah, kantor, mobil, orang lain tanpa izin.
7. Mengonarkan milik oranglain dengan sengaja.
8. Menyiksa binatang.
9. Menggunakan senjata lebih dari satu kali dalam perkelahian.
10. Sering memulai berkelahi.
11. Mencuri dengan menyerang korban.
12. Menyiksa orang lain.
Meskipun dari ciri-ciri tersebut tampaknya sangat jarang dilakukan anak usia sekolah, namun sebagai orang tua khususnya pendidik, perlu mewaspadai agar perilaku-perilaku tersebut jangan sampai muncul ketika anak beranjak remaja atau masa perkembangan remaja.
Jadi seorang pendidik perlu jeli untuk mengenali gejala perilaku yang tidak umum pada anak didiknya sedini mungkin, sehingga kasus tersebut dapat ditangani lebih awal.
http://belajarpsikologi.com/karakteristik-perilaku-agresif/

Komunikasi Efektif untuk Anak Pembuat Onar
SEMARANG -Perilaku anak pembuat onar dapat disebabkan oleh kemauan dari dalam diri sendiri atau dari luar. Bisa jadi anak ingin sekali berubah namun pada kenyataannya ia tetap terjebak untuk terus membuat onar. Hal itulah yang harus disadari guru agar tidak menjadi korban keonaran siswa atau siswa yang menjadi korban kemarahan guru.

Menurut Dra Endang Sri Indrawati MSi, Ketua Lembaga Bantuan Hukum untuk Wanita dan Keluarga (LBHuWK), anak menjadi pembuat onar akibat dari ketidakmampuannya beradaptasi karena gangguan perkembangan sosial dan emosi.

“Sehingga terciptalah tingkah laku anak yang bisa membuat dia puas tapi lingkungan sosial tidak bisa menerimanya,” ujarnya dalam seminar pendidikan “Bagaimana Menjadi Seorang Guru Profesional, Trik Cerdas Berkomunikasi Efektif Menghadapi Siswa Trouble Maker” di Hotel Telomoyo, baru-baru ini.
Acara itu juga dihadiri pembicara Drs Sugiyo MSi (Unnes) dan Dra Endang Purwaningtyas T (pengawas bimbingan konseling SMA).
Ciri-ciri Anak trouble maker (pembuat onar), lanjut Endang Sri Indrawati, biasanya memiliki ciri-ciri suka berbohong, sulit mengambil keputusan, sering cemas, depresi, merasa diperlakukan tidak adil, suka mencari kambing hitam, suka mengadu untuk mendapat perhatian, sering bertengkar, dan sering merusak.
“Oleh karena itu, bila bertemu dengan anak trouble maker, jangan menyelesaikan dengan cara marah. Jengkel saja tidak cukup,” kata dosen Undip itu.

Prinsipnya, tambah dia, ciptakan lingkungan sosial yang kondusif untuk mendukung perbaikan diri anak. Selain itu, ciptakan komunikasi efektif dengan cara pengertian, kesenangan, perubahan pada sikap, hubungan yang makin baik dan tindakan yang diharapkan.

“Semuanya harus dilakukan tanpa paksaan. Kalau anak berubah karena motivasi internal, itu betul. Tapi kalau berubah karena disiplin sekolah, itu yang tidak benar,” tuturnya.

Sementara itu Sugiyo mengatakan, selama ini guru masih dalam fokus mengajar saja. Hanya menyampaikan materi, tidak peduli pada tingkah laku anak. “Padahal guru yang profesional seharusnya memperhatikan betul perilaku apa yang berubah pada si anak,” katanya.

Ia menyarankan, sebaiknya anak trouble maker tak dijauhkan dengan anak-anak pintar dan berkelakuan baik. “Bagaimanapun juga mereka butuh sosialisasi. Jika dijauhkan, mereka akan semakin merasa bodoh, dan yang pintar akan semakin merasa leboh eksekutif,” papar dia.

Menurut Endang Purwaningtyas, melakukan pendekatan secara persuasif adalah jalan keluar yang efektif. “Sebagai guru, cobalah untuk memosisikan diri sebagai orang yang dekat dengan si anak. Misalnya, si anak dekat dengan ibunya, ya coba posisikan diri sebagi ibunya,” kata Endang.

Atau bisa juga, lanjutnya, berkunjung ke rumah orang tua anak trouble maker. “Kalau kita dekat dengan orang tua si anak, berbicara apapun yang menyangkut masalah anak akan jadi lebih enak,” imbuhnya. (J8-45)

Sibling Rivalry

Dari hasil googling, istilah persaingan antar saudara kandung ini adalah
1. Kamus kedokteran Dorland (Suherni, 2008): sibling (anglo-saxon sib dan ling bentuk kecil) anak-anak dari orang tua yang sama, seorang saudara laki-laki atu perempuan. Disebut juga sib. Rivalry keadaan kompetisi atau antagonisme. Sibling rivalry adalah kompetisi antara saudara kandung untuk mendapatkan cinta kasih, afeksi dan perhatian dari satu kedua orang tuanya, atau untuk mendapatkan pengakuan atau suatu yang lebih.
2. Sibling rivalry adalah kecemburuan, persaingan dan pertengkaran antara saudara laki-laki dan saudara perempuan. Hal ini terjadi pada semua orang tua yang mempunyai dua anak atau lebih.
Penyebab Sibling Rivalry
Banyak faktor yang menyebabkan sibling rivalry, antara lain:
1. Masing-masing anak bersaing untuk menentukan pribadi mereka, sehingga ingin menunjukkan pada saudara mereka.
2. Anak merasa kurang mendapatkan perhatian, disiplin dan mau mendengarkan dari orang tua mereka.
3. Anak-anak merasa hubungan dengan orang tua mereka terancam oleh kedatangan anggota keluarga baru/ bayi.
4. Tahap perkembangan anak baik fisik maupun emosi yang dapat mempengaruhi proses kedewasaan dan perhatian terhadap satu sama lain.
5. Anak frustasi karena merasa lapar, bosan atau letih sehingga memulai pertengkaran.
6. Kemungkinan, anak tidak tahu cara untuk mendapatkan perhatian atau memulai permainan dengan saudara mereka.
7. Dinamika keluarga dalam memainkan peran.
8. Pemikiran orang tua tentang agresi dan pertengkaran anak yang berlebihan dalam keluarga adalah normal.
9. Tidak memiliki waktu untuk berbagi, berkumpul bersama dengan anggota keluarga.
10. Orang tua mengalami stres dalam menjalani kehidupannya.
11. Anak-anak mengalami stres dalam kehidupannya.
12. Cara orang tua memperlakukan anak dan menangani konflik yang terjadi pada mereka.
Segi Positif Sibling Rivalry
Meskipun sibling rivalry mempunyai pengertian yang negatif tetapi ada segi positifnya, antara lain:
1. Mendorong anak untuk mengatasi perbedaan dengan mengembangkan beberapa keterampilan penting.
2. Cara cepat untuk berkompromi dan bernegosiasi.
3. Mengontrol dorongan untuk bertindak agresif.
Oleh karena itu agar segi positif tersebut dapat dicapai, maka orang tua harus menjadi fasilitator.
Mengatasi Sibling Rivalry
Beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua untuk mengatasi sibling rivalry, sehingga anak dapat bergaul dengan baik, antara lain:
1. Tidak membandingkan antara anak satu sama lain.
2. Membiarkan anak menjadi diri pribadi mereka sendiri.
3. Menyukai bakat dan keberhasilan anak-anak Anda.
4. Membuat anak-anak mampu bekerja sama daripada bersaing antara satu sama lain.
5. Memberikan perhatian setiap waktu atau pola lain ketika konflik biasa terjadi.
6. Mengajarkan anak-anak Anda cara-cara positif untuk mendapatkan perhatian dari satu sama lain.
7. Bersikap adil sangat penting, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan anak. Sehingga adil bagi anak satu dengan yang lain berbeda.
8. Merencanakan kegiatan keluarga yang menyenangkan bagi semua orang.
9. Meyakinkan setiap anak mendapatkan waktu yang cukup dan kebebasan mereka sendiri.
10. Orang tua tidak perlu langsung campur tangan kecuali saat tanda-tanda akan kekerasan fisik.
11. Orang tua harus dapat berperan memberikan otoritas kepada anak-anak, bukan untuk anak-anak.
12. Orang tua dalam memisahkan anak-anak dari konflik tidak menyalahkan satu sama lain.
13. Jangan memberi tuduhan tertentu tentang negatifnya sifat anak.
14. Kesabaran dan keuletan serta contoh-contoh yang baik dari perilaku orang tua sehari-hari adalah cara pendidikan anak-anak untuk menghindari sibling rivalry yang paling bagus.
http://andivan.blogdetik.com/index.php/2010/03/11/all-about-sibling-rivalry/

Sibling Rivalry
Sibling Rivalry adalah kecemburuan, persaingan dan perkelahian antara kakak dan adik dalam satu keluarga. Ini juga terjadi dalam keluarga saya, antara adik dan kakak sering sekali bertengkar, masalah sepele bisa jadi besar dihadapan anak-anak.
Beberapa sebab dasar terjadinya sibling rivalry :
Kelahiran bayi baru
Jelas ini secara otomatis perhatian yang sebelunya banyak tercurah atau tertuju pada anak pertama akan beralih pada si bayi, dan sang kakak akan merasa tersisih dan dirugikan.
Protes Kakak
Sang kakak dalam memperebutkan dan memenangkan persaingan untuk merebut perhatian orang tuan tentu akan menggangu sang adik.
Kemarahan Orang Tua
Orang tua yang memarahi sang kakak dalam beberapa kasus hanya akan tertuju pada sang kakak, tanpa menyadari si kakak akan merasa sedih. Dengan hubungan seperti ini hanya akan menambah kakak bertambah benci pada sang adik.
Penyebab Sibling Rivalry
faktor-faktor yang mempengaruhi sibling rivalry :
• Anak-anak saling berkompetisi untuk menunjukkan bahwa mereka bisa lebih baik dari saudaranya
• Anak-anak merasa mendapatkan perhatian dan penerimaan yang tidak sama dengan saudaranya
• Anak-anak mungkin merasa hubungan dengan orang tuan mereka semakin jauh dengan kehadiran saudaranya
• Anak-anak mungkin tidak tahu cara yang baik untuk memperoleh perhatian saudaranya
• Anak-anak yang marah, bosa, atau lelah mudah untuk memulai perkelahian
• Stres yang dialami orang tua akan menurunkan perhatian untuk anak-anak dan ini akan meningkatkan sibling rivalry
• Stres yang dialami anak-anak akan menimbulkan banyak masalah
• Cara oraang tua mendidik dan melatih anak-anak untuk menyelesaikan masalah akan membuat perbedaan yang besar dalam terjadinya sibling rivalry
Cara Mengatasi Sibling Rivalry
1. Orang tua jangan campur tangan langsung, campur tangan langsung diperlukan saat terdapat tanda-tanda akan terjadinya kekerasan fisik.
2. Pisahkan keduanya hingga masing-masing tenang, lalu suruh mereka kembali dengan sedikitnya satu ide tentang cara menyelesaikan masalah hingga tidak akan terulang lagi.
3. Tidak penting yang memulai siapa yang memulai masalah, karena anda tak mungkin menemukan anak mana yang bersalah, karena tak satupun dari mereka yang 100% benar ataupun salah.
4. Jika anak-anak selalu memperebutkan benda yang sama, misalnya mereka rebutan TV, ajaklah mereka dan ajari membuat jadwal daftar TV
5. Bantu anak-anak mengembangkan ketrampilan dan menyelesaikan masalah sendiri tanpa kekerasan
6. Ajari mereka bagaimana cara berkompromi, menghormati orang lain dan memutuskan sesuatu secara adil
7. Jangan berteriak teriak pada anak-anak
8. Ajaklah setiap anak untuk mengungkapkan perasaan mereka tentang saudaranya, misalnya rasa marah dan kecewa. Hal ini akan membantu mereka untuk mengenali emosi negatif dan mengatasinya dikemudian hari
9. Belajarlah mengatur kemarahan agar anak-anak bisa belajar untuk tidak mudah marah sehingga tidak ada pertengkaran
10. Tidak peru berargumen bahwa anda sudah bersikap adil, karena sebesar apapun usaha anda, anak-anak tetap menemukan ketidakadilan dari perlakuan anda
Jika diatasi dengan tepat, Sibling Rivalry juga mempunyai sisi pisitif.
http://bidandesa.com/sibling-rivalry.html

Sibling rivalry adalah persaingan antara saudara kandung dalam memperebutkan perhatian dan kasih sayang orangtua. Sibling rivalry menjadi fenomena tersendiri, karena sejatinya kita adalah mahkluk sosial yang menuntut manusia hidup berkelompok dan bermasyarakat, mulai serius nih moms.
Meskipun ruang lingkupnya kecil, keluarga adalah kumpulan orang, persaingan antara saudara kandung otomatis tidak bisa di hindarkan, baik positif ataupun negatif.

Persaingan adalah sesuatu yang alamiah, bagi anak-anak ini semacam permainan, sedangkan bermain adalah proses pembelajaran anak tentang kehidupan. Sibling rivallry menjadi momen untuk mempelajari kebersamaan, keadilan, kelapangan hati untuk memaafkan.

Faktor pemicu
Internal :
* Sifat egois yang biasanya ada pada setiap anak, seiring pertambahan umur, kadar egois anak akan berubah.
* Perbedaan umur, lebih dekat atau jauh.
External :
* Kurang diistemewakan orang tua
1. Jangan pernah membanding-bandingkan anak, wah itu susah ya moms, kadang-kadang kita tidak sadar dengan ucapan sendiri apalagi kalo lagi emosi wah susah nih.
2. sesekali dekap dan ciumlah anak-anak, yang ini harus nih moms.
3. Terapkanlah prinsip yang kepada si anak hukuman yang akan di terima kalau si anak melanggar aturan.
4. temukanlah keistimewaan anak

Solusi :
* Didik anak dengan cinta, indahnya ya moms.
* evalusi diri moms.
* perbaiki cara komunikasi dengan anak.
* Mencintai dengan adil
http://dewi-charli.blogspot.com/2009/05/sibling-rivalry.html