Ada 11 karekteristik konselor :
1. Pengetahuan Mengenai Diri Sendiri (Self-knowledge)
Disini berarti bahwa konselor memahami dirinya dengan baik, dia memahami secara nyata apa yang dia lakukan, mengapa dia melakukan itu, dan masalah apa yang harus dia selesaikan. Pemahaman ini sangat penting bagi konselor, karena beberapa alasan sebagai berikut:
• Konselor yang memiliki persepsi yang akurat akan dirinya maka dia juga akan memiliki persepsi yang kuat terhadap orang lain.
• Konselor yang terampil memahami dirinya maka ia juga akan memahami orang lain.
2. Kompetensi (Competence)
Kompetensi dalam karakteristik ini memiliki makna sebagai kualitas fisik, intelektual, emosional, sosial, dan moral yang harus dimiliki konselor untuk membantu klien. kompetensi sangatlah penting, sebab klien yang dikonseling akan belajar dan mengembangkan kompetensi-kompetensi yang diperlukan untuk mencapai kehidupan yang efektif dan bahagia. Adapun kompetensi dasar yang seyogianya dimiliki oleh seorang konselor, antara lain :
• Penguasaan wawasan dan landasan pendidikan
• Penguasaan konsep bimbingan dan konseling
• Penguasaan kemampuan assesmen
• Penguasaan kemampuan mengembangkan program bimbingan dan konseling
• Penguasaan kemampuan melaksanakan berbagai strategi layanan bimbingan dan konseling
• Penguasaan kemampuan mengembangkan proses kelompok
• Penguasaan kesadaran etik profesional dan pengembangan profesi
• Penguasaan pemahaman konteks budaya, agama dan setting kebutuhan khusus
3. Kesehatan Psikologis yang Baik
Seorang konselor dituntut untuk dapat menjadi model dari suatu kondisi kesehatan psikologis yang baik bagi kliennya, yang mana hal ini memiliki pengertian akan ketentuan dari konselor dimana konselor harus lebih sehat kondisi psikisnya daripada klien. Kesehatan psikologis konselor yang baik sangat penting dan berguna bagi hubungan konseling. Karena apabila konselor kurang sahat psikisnya, maka ia akan teracuni oleh kebutuhan-kebutuhan sendiri, persepsi yang subjektif, nilai-nilai keliru, dan kebingungan.
4. Dapat Dipercaya (trustworthnyangess)
Konselor yang dipercaya dalam menjalankan tugasnya memiliki kecenderungan memiliki dan perilaku sebagai berikut:
• Memiliki pribadi yang konsisten
• Dapat dipercaya oleh orang lain, baik ucapannya maupun perbuatannya.
• Tidak pernah membuat orang lain kesal atau kecewa.
• Bertanggung jawab, mampu merespon orang lain secara utuh, tidak ingkar janji dan mau membantu secara penuh.
5. Kejujuran (honest)
Yang dimaksud dengan kejujuran disini memiliki pengertian bahwa seorang konselor itu diharuskan memiliki sifat yang terbuka, autentik, dan sejati dalam pemberian layanannya kepada konseli. Jujur disini dalam pengertian memiliki kongruensi atau kesesuaian dalam kualitas diri actual (real-self) dengan penilaian orang lain terhadap dirinya (public self). Sikap jujur ini penting dikarenakan:
• Sikap keterbukaan konselor dan klien memungkinkan hubungan psikologis yang dekat satu sama lain dalam kegiatan konseling.
• Kejujuran memungkinkan konselor dapat memberikan umpan balik secara objektif terhadap klien.
6. Kekuatan atau Daya (strength)
Kekuatan atau kemampuan konselor sangat penting dalam konseling, sebab dengan hal itu klien merasa aman. Klien memandang seorang konselor sebagai orang yang tabah dalam menghadapi masalah, dapat mendorong klien dalam mengatasi masalahnya, dan dapat menanggulangi kebutuhan dan masalah pribadi.
Konselor yang memilki kekuatan cenderung menampilkan kualitas sikap dan prilaku berikut:
• Dapat membuat batas waktu yang pantas dalam konseling
• Bersifat fleksibel
• Memiliki identitas diri yang jelas
7. Kehangatan (Warmth)
Yang dimaksud dengan bersikap hangat itu adalah ramah, penuh perhatian, dan memberikan kasih sayang. Klien yang datang meminta bantuan konselor, pada umumnya yang kurang memiliki kehangatan dalam hidupnya, sehingga ia kehilangan kemampuan untuk bersikap ramah, memberikan perhatian, dan kasih sayang. Melalui konseling klien ingin mendapatkan rasa hangat tersebut dan melakukan Sharing dengan konseling. Bila hal itu diperoleh maka klien dapat mengalami perasaan yang nyaman.
8. Pendengar yang Aktif (Active responsiveness)
Konselor secara dinamis telibat dengan seluruh proses konseling. Konselor yang memiliki kualitas ini akan: (a) mampu berhubungan dengan orang-orang yang bukan dari kalangannya sendiri saja, dan mampu berbagi ide-ide, perasaan, (b) membantu klien dalam konseling dengan cara-cara yang bersifat membantu, (c) memperlakukan klien dengan cara-cara yang dapat menimbulkan respon yang bermakna, (d) berkeinginan untuk berbagi tanggung jawab secara seimbang dengan klien dalam konseling.
9. Kesabaran
Melalui kesabaran konselor dalam proses konseling dapat membantu klien untuk mengembangkan dirinya secara alami. Sikap sabar konselor menunjukan lebih memperhatikan diri klien daripada hasilnya. Konselor yang sabar cenderung menampilkan sikap dan prilaku yang tidak tergesa-gesa.
10. Kepekaan (Sensitivity)
Kepekaan mempunyai makna bahwa konselor sadar akan kehalusan dinamika yang timbul dalam diri klien dan konselor sendiri. Kepekaan diri konselor sangat penting dalam konseling karena hal ini akan memberikan rasa aman bagi klien dan klien akan lebih percaya diri apabila berkonsultasi dengan konselor yang memiliki kepekaan.
11. Kesadaran Holistik (menyeluruh)
Pendekatan holistik dalam bidang konseling berarti bahwa konselor memahami secara utuh dan tidak mendekatinya secara serpihan. Namun begitu bukan berarti bahwa konselor seorang yang ahli dalam berbagai hal, disini menunjukan bahwa konselor perlu memahami adanya berbagai dimensi yang menimbulkan masalah klien, dan memahami bagaimana dimensi yang satu memberi pengaruh terhadap dimensi yang lainnya. Dimensi-dimensi itu meliputi aspek, fisik, intelektual, emosi, sosial, seksual, dan moral-spiritual.
Konselor yang memiliki kesadaran holistik cenderung menampilkan karakteristik sebagai berikut:
• Menyadari secara akurat tentang dimensi-dimensi kepribadian yang kompleks.
• Menemukan cara memberikan konsultasi yang tepat dan mempertimbangkan perlunya referal.
• Akrab dan terbuka terhadap berbagai teori.
sumber: Syamsu, Yusuf, Juntika. 2005. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Rosda.
Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 25 Januari 2014
Kostan
Haii haii,,,, postingan kali ini aku pengen aja cerita tentang Kostan ku. Saat ini aku ngekost sendirian, sungguh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya,, yah banyak pertimbangan dan kematapan serta tekat yang bulat sampe berani kost sendirian.. :D
oke gak perlu panjang lebar yokkk ini liputan nya (yaelahh) :D
hmm,, itu pojok kiri kamar.. tepat nya diujung kaki, ntah knpa tu lemari aku pindahin kesana, kemaren2 sih gak disitu, cuma dengan banyak pertimbangan akhirnya aku pindahin deh kesono.. hmmm itu sih lemari dari sebagian pakean dan pernak pernik yang gak karuan, ada satu lagi lemari yg lebih gede tapi lupa foto nya, soalnya tempatnya beda,, hehheh. tuh kegantung ada belt2 sama kalung2 ala wanita gitu :D trus kipas yang gak kepake lg (hahhahaa), dan seperangkat harta anak kostn, yaitu printer dan laptop :D wahh jadi sensus nihh... lanjut yakk
kalo yang diatas ini nih, foto ruang tengah, tempat nonto dan kadang nyantai ngabisin waktu (cielahh).. tuh setumpuk buku-buku yang berantakan,, hihihi maap yaakk... trus sama barang elektronik yang gak begitu penting buat dikostn, aya speaker, printer tua, dvd, dll. sstttttt dindingnya masih putih soalnya msh bingung mau diwarnaian apa :D lanjut lagi yaa...
Nahhhh kalo ini penampakan dapur kostn aku... sederhana banget yahh :D secara anak kostn gak punya peralatan yang lengkap, untung punya barang-barang itu, emskipun jarang dipake.. hahahah... soalnya aku karna sendirian jadi lebih sering beli makan nya, ditambah lagi kostn nya deket tempat-tempat makan,, wahhhh buat boros sih,, jangan ditiru yahh :D
itu yang kefoto cuma atas sama rak doang, kompor dan yang dbawah gak efoto,, hehhe..
nih pas mau foto rapih, eh ada raja nya negara api alias Kak Opan menyerang dapur, dan begini lah hasilnya sampe kopi nya ikutan kefoto.. hehhehe
hummmmmbbb kaya nya cukup yahhh, ini cuma postingan kurang kerjaan.. bosen sama revisi yaa gini hasilnya, rada eror gitu,, maklum yaa...
Nah ini lah kostn aku yang emang bener-bener apa adanya,, wkwkkw,, udah dlu yaa,,, kita akan sambung dengan topik lainnya :D byebyee
oke gak perlu panjang lebar yokkk ini liputan nya (yaelahh) :D
ini penampakan sebagian kostn aku
okeh temen-temen, kostn aku itu berada di sebuah kompleks perumahan, nah kebetulan aku tinggal di kos bedeng tepatnya no 6A. Nah isi ruangan nya terdiri dari teras depan, ruang tamu, toilet alias kamar mandi, kamar tidur, ruang santai (ruang nonton/keluarga) dapur dan teras belakang . yahh bisa dibilang lumayan lah apalagi aku sendirian :D
nah ini sudut kamar biru, yaa aku pecinta biru, jadi aku suka banget kalo kamar nya biru, jadi bisa buat nyaman gitu... nah itu pun Kakak tersayang yang tukang ngecat, katanya biar makin nyaman klo yang ngecat nya dia (alasan hemat buat bayar tukang).. hohohoho...
Gak cewek banget kan, biasanya ada boneka-boneka gitu kalo cewek.. ya Alhamdulillah aku gakterlalu suka boneka, jadi cuma ada satu boneka tua yang slalu setia menemani sejak 2008 lalu,, ehemmm boneka dari Kak Opan tuhh :
Oke lanjut review sudut lainnya kamar aku..
kalo yang diatas ini nih, foto ruang tengah, tempat nonto dan kadang nyantai ngabisin waktu (cielahh).. tuh setumpuk buku-buku yang berantakan,, hihihi maap yaakk... trus sama barang elektronik yang gak begitu penting buat dikostn, aya speaker, printer tua, dvd, dll. sstttttt dindingnya masih putih soalnya msh bingung mau diwarnaian apa :D lanjut lagi yaa...
Nahhhh kalo ini penampakan dapur kostn aku... sederhana banget yahh :D secara anak kostn gak punya peralatan yang lengkap, untung punya barang-barang itu, emskipun jarang dipake.. hahahah... soalnya aku karna sendirian jadi lebih sering beli makan nya, ditambah lagi kostn nya deket tempat-tempat makan,, wahhhh buat boros sih,, jangan ditiru yahh :D
itu yang kefoto cuma atas sama rak doang, kompor dan yang dbawah gak efoto,, hehhe..
nih pas mau foto rapih, eh ada raja nya negara api alias Kak Opan menyerang dapur, dan begini lah hasilnya sampe kopi nya ikutan kefoto.. hehhehe
hummmmmbbb kaya nya cukup yahhh, ini cuma postingan kurang kerjaan.. bosen sama revisi yaa gini hasilnya, rada eror gitu,, maklum yaa...
Nah ini lah kostn aku yang emang bener-bener apa adanya,, wkwkkw,, udah dlu yaa,,, kita akan sambung dengan topik lainnya :D byebyee
WISUDA 2014
hmm.. kali ini aku bener-bener bingung pemirsah. Bingung karena terlalu banyak yang mau aku tulis. hmm tapi kayanya satu-satu deh, aku mulai aja tentang skripsi..
Yapss teman-teman sekalian,,, akhirnya aku sekarang masuk kategori MAHASISWA TINGKAT AKHIR hahahhaa (mulai lebay..)... aku sudah berada di semset delapan alias gerbang peperangan menuju kehidupan nyata.
Yah secara saat ini sudah bener-bener sahabatan sama yang namanya SKRIPSI, aku sih lebih senang nyebutnya dengan sebutan SKRIPSWID alias Kitab Biru. Saat ini emang di semster delapan, tapi Alhamdulillah tahap awal skripswid saya yaitu judul, proposal dan seminar proposal dapat saya lalui dengan lancar di semester tujuh, di 20 Desember 2013 lalu atau satu bulan yang lalu tepatnya... yah Berkat doa mama papa dan temen-temen semua tahap pertama saya lauui dengan proses yang cukup singkat. Saya memulai sejak akhir November dan disetujui seminar di 12 Desember, dan diseminarkan tanggal 20 Desember 2013.. yah saat ini saya sedang lengket-lengketny sama laptop, dan "revisi", rencana nya nih awal februari bisa mulai peneitian dan berharap akhir februari diseminarkan dan maret awal bisa mengikuti sidang akhir,, aminn,, yah semoga ya,,
Meskipun baru mimpi yang masih dalam proses perjuangan, setidaknya aku berharap banget bisa bergelar sarjana sebelum pertengahan tahun 2014, yah bulan maret atau wisuda UNSRI ke 112 aku jadi bagian nya dan wisuda dengan selempang yang bertuliskan "DENGAN PUJIAN" :D AMIN YA RABBALALLAMIN
Doakan yahh,, nah untuk kegiatan penelitian dan penulisan bab IV dan V, nanti bakalan aku posting yah,, tunggu udah sah bergelar sarjana tapi yahh,, hehhheee....
Yapss teman-teman sekalian,,, akhirnya aku sekarang masuk kategori MAHASISWA TINGKAT AKHIR hahahhaa (mulai lebay..)... aku sudah berada di semset delapan alias gerbang peperangan menuju kehidupan nyata.
Yah secara saat ini sudah bener-bener sahabatan sama yang namanya SKRIPSI, aku sih lebih senang nyebutnya dengan sebutan SKRIPSWID alias Kitab Biru. Saat ini emang di semster delapan, tapi Alhamdulillah tahap awal skripswid saya yaitu judul, proposal dan seminar proposal dapat saya lalui dengan lancar di semester tujuh, di 20 Desember 2013 lalu atau satu bulan yang lalu tepatnya... yah Berkat doa mama papa dan temen-temen semua tahap pertama saya lauui dengan proses yang cukup singkat. Saya memulai sejak akhir November dan disetujui seminar di 12 Desember, dan diseminarkan tanggal 20 Desember 2013.. yah saat ini saya sedang lengket-lengketny sama laptop, dan "revisi", rencana nya nih awal februari bisa mulai peneitian dan berharap akhir februari diseminarkan dan maret awal bisa mengikuti sidang akhir,, aminn,, yah semoga ya,,
Meskipun baru mimpi yang masih dalam proses perjuangan, setidaknya aku berharap banget bisa bergelar sarjana sebelum pertengahan tahun 2014, yah bulan maret atau wisuda UNSRI ke 112 aku jadi bagian nya dan wisuda dengan selempang yang bertuliskan "DENGAN PUJIAN" :D AMIN YA RABBALALLAMIN
Doakan yahh,, nah untuk kegiatan penelitian dan penulisan bab IV dan V, nanti bakalan aku posting yah,, tunggu udah sah bergelar sarjana tapi yahh,, hehhheee....
Sabtu, 18 Januari 2014
SATUAN PENDUKUNG LAYANAN BK
SATUAN
KEGIATAN PENDUKUNG
APLIKASI
INSTRUMENTASI
Tugas
Perkembangan
Mencapai
kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional,
social, intelektual dan ekonomi.
Sekolah :
SMA Negeri 1 Indralaya Utara
Kelas/semester :
X.1 / Ganjil 2013/2014
Tanggal :
18 November 2013
A. Topik Permasalahan : Pelaksanaan Aum Umum
B. Bidang Bimbingan :
Pribadi
C. Jenis Kegiatan :
Aplikasi instrumentasi
D. Fungsi Kegiatan :
Pemahaman
E. Tujuan kegiatan :
Untuk mengungkap masalah belajar siswa
F. Sasaran Kegiatan : Siswa kelas X.1
G. Uraian tentang
instrument :
1. Nama
Instrumen :
Aum Umum
2. Jenis
Instrumen :
Non tes
3. Penyusunan
Instrumen :
Perencana kegiatan
4. Pokok-pokok
isi instrumen :
a) Prasyarat
penguasaan materi pelajaran
b) Keterampilan
belajar
c) Sarana belajar
d) Diri pribadi
e) Lingkungan
belajar dan sosio-emosional
5. Pola
pengerjaan
soal :
Tulisan
6. Pola
pengadministrasian :
Individual/kelompok
H. Tempat
Penyelenggaraan :
Ruang kelas VIII F
I.
Waktu : 10.25
WIB/ 15 Oktober 2011
J. Penyelenggara :
Devita Sary
K.
Konsultan :
L. Pengolahan dan Intrepetasi :
1. Pengolah :
Devita Sary
2. Pengintepretasi :
Devita Sary
M. Penggunaan hasil :
1. Di gunakan
terhadap
siapa :
Siswa
2. Di gunakan
dalam layanan BK apa : Keseluruhan layanan BK
3. Siapa
menggunakan :
Guru Pembimbing
4. Kapan di
gunakan :
5. Di mana di
gunakan :
Sekolah
N. Rencana penilaian dan tindak
lanjut : -
O. Keterkaitan layanan ini dengan Layanan/ kegiatan
pendukung lain : Konseling individual
P. Catatan
khusus :
Mengetahui, Indralaya, November 2013
Guru
Pamong Pelaksana
Layanan/ Kegiatan pendukung
Zzzzzzzzzzzzzzzzz Devita
Sary
Jumat, 17 Januari 2014
PENYESUAIAN DIRI
Penyesuaian diri dapat didefinisikan sebagai interaksi
Anda yang kontinu dengan diri Anda sendiri, dengan orang lain, dan dengan dunia
Anda (Calhoun dan Acocella dalam Sobur, 2003:526). Penyesuaian
diri yang sehat terhadap lingkungan merupakan salah satu prasyarat yang penting
bagi terciptanya kesehatan jiwa/mental individu. Banyak individu yang menderita
dan tidak mampu mencapai kebahagiaan dalam hidupnya karena ketidakmampuannya
dalam menyesuaikan diri baik dengan kehidupan keluarga, sekolah, pekerjaan,
maupun masyarakat pada umumnya (Fatimah, 2006:193).
Penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai
harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungannya. Sehingga rasa permusuhan,
dengki, iri hati, pransangka, depresi, kemarahan, dan lain-lain emosi negatif
sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis
(Kartono, 2002:56). Sedangkan menurut Fatimah (2008: 198) penyesuaian diri
adalah suatu proses alamiah dan dinamis yang bertujuan mengubah perilaku
individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai dengan kondisi lingkungannya.
Menurut Sobur (2003: 527) penyesuaian diri adalah
kemampuan untuk membuat hubungan yang memuaskan antara orang dan lingkungan. Ahli lain mengemukakan bahwa
“penyesuaian diri berarti kemampuan untuk mempertahakan eksistensinya, dan
memperoleh kesejahteraan jasmani dan rohani, dan dapat mengadakan relasi yang
memuaskan tuntutan sosial (Endra, 2008: 45)
Penyesuaian diri adalah suatu proses yang mencakup respon
mental dan tingkah laku, dimana individu berusaha untuk dapat berhasil
mengatasi kebutuhan-kebutuhan dalam dirinya, ketegangan-ketegangan,
konflik-konflik, dan frustrasi yang dialaminya, sehingga terwujud tingkat
keselarasan atau harmoni antara tuntutan dari dalam diri dengan apa yang
diharapkan oleh lingkungan dimana ia tinggal (Schneiders dalam Desmita,
2009:192). Menurut Hartinah (2008:121) penyesuaian diri merupakan salah satu
bentuk interaksi yang didasari oleh adanya penerimaan atau saling mendekatkan
diri.
Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
penyesuaian diri dapat diartikan sebagai kemampuan individu dalam menghadapi
perubahan yang terjadi dalam hidupnya, berprilaku sesuai dengan kondisi
lingkungannya, memiliki hubungan yang harmonis dengan lingkungan. Kemampuan
individu dalam menghadapi perubahan yang terjadi dalam hidupnya dapat dilihat
dari kemampuan individu dan pemikiran yang positif untuk menerima perubahan
atau peristiwa yang terjadi dalam hidupnya serta tidak mendapatkan dampak negatif
pada dirinya akibat peristiwa yang dialaminya.
Senin, 06 Mei 2013
Tugas Perkembangan siswa SMA
Tugas Perkembangan
1. : Mencapai kematangan dalam beriman dan bertaqwakepada Tuhan Yang Maha Esa TugasPerkembangan
2. : Mencapai kematangan dalam hubungan teman sebaya, serta kematangan dalam perannya sebagai pria atau wanita Tugas Perkembangan
3. : Mencapai kematangan pertumbuhan jasmaniah yang sehat Tugas Perkembangan:
4. Mengembangkan penguasaan ilmu, teknologi, dan seni sesuai dengan program kurikulum, persiapan karir dan melanjutkann pendidikan tinggi, serta berperan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas Tugas Perkembangan
5. : Mencapai kematangan dalam pilihan karir TugasPerkembangan
6. : Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan mandiri secara emosional, sosial, intelektual dan ekonomi Tugas Perkembangan
7. : Mencapai kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan berkeluarga,bermasyarakat, berbangsa dan bernegara Tugas Perkembangan
8. : Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial dan intelektualserta apresiasi seni Tugas Perkembangan 9. : Mencapai kematangan dalam sistem etika dan nilai
Selasa, 01 November 2011
Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan
Tanggung jawab ilmuwan di masyarakat adalah suatu kewajiban seorang ilmuwan untuk mengetahui masalah sosial dan cara penyelesaian permasalahan sosial tersebut. Seorang ilmuwan mempunyai tanggung jawab sosial, bukan saja karena dia adalah warga masyarakat yang kepentingannya terlibat secara langsung di masyarakat namun yang lebih penting adalah karena dia mempunyai fungsi tertentu dalam kelangsungan hidup bermasyarakat. Fungsinya selaku ilmuwan tidak berhenti pada penelaahan dan keilmuan secara individual namun juga ikut bertanggung jawab agar produk keilmuan sampai dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
bentuk tanggung jawab sosial ilmuwan, yaitu :
1. bahwa seorang ilmuwan harus mampu mengidentifikasi kemungkinan permasalahan sosial yang akan berkembang berdasarkan permalahan sosial yang sering terjadi dimasyarakat,
2. bahwa seorang ilmuwan harus mampu bekerjasama dengan masyarakat yang mana dimasyarakat tersebut sering terjadi permasalahan sosial sehingga ilmuwan tersebut mampu merumuskan jalan keluar dari permasalahan sosial tersebut,
3. seorang ilmuwan harus mampu menjadi media dalam rangka penyelesaian permasalahan sosial dimasyarakat yang mana masyarakat Indonesia yang terdiri dari keanekaragaman ras, agama, etnis dan kebudayaan sehingga berpotensi besar untuk timbulnya suatu konflik, dan
4. Membantu pemerintah untuk menemukan cara dalam rangka mempercepat proses intergrasi sosial budaya yang mana ini bertujuan untuk mempererat tali kesatuan antara masyarakat Indonesia. Hal ini juga bertujuan untuk mencegah terjadinya konflik
lmuwan mempunyai kewajiban sosial untuk menyampaikan kepada masyarakat dalam bahasa yang mudah dicerna. Tanggung jawab sosial seorang ilmuwan adalah memberikan perspektif yang benar: untung dan rugi, baik dan buruknya, sehingga penyelesaian yang objektif dapat dimungkinkan.
bentuk tanggung jawab sosial ilmuwan, yaitu :
1. bahwa seorang ilmuwan harus mampu mengidentifikasi kemungkinan permasalahan sosial yang akan berkembang berdasarkan permalahan sosial yang sering terjadi dimasyarakat,
2. bahwa seorang ilmuwan harus mampu bekerjasama dengan masyarakat yang mana dimasyarakat tersebut sering terjadi permasalahan sosial sehingga ilmuwan tersebut mampu merumuskan jalan keluar dari permasalahan sosial tersebut,
3. seorang ilmuwan harus mampu menjadi media dalam rangka penyelesaian permasalahan sosial dimasyarakat yang mana masyarakat Indonesia yang terdiri dari keanekaragaman ras, agama, etnis dan kebudayaan sehingga berpotensi besar untuk timbulnya suatu konflik, dan
4. Membantu pemerintah untuk menemukan cara dalam rangka mempercepat proses intergrasi sosial budaya yang mana ini bertujuan untuk mempererat tali kesatuan antara masyarakat Indonesia. Hal ini juga bertujuan untuk mencegah terjadinya konflik
lmuwan mempunyai kewajiban sosial untuk menyampaikan kepada masyarakat dalam bahasa yang mudah dicerna. Tanggung jawab sosial seorang ilmuwan adalah memberikan perspektif yang benar: untung dan rugi, baik dan buruknya, sehingga penyelesaian yang objektif dapat dimungkinkan.
Psikologi Pendidikan_pengajaran yang efektif
Judul : Psikologi pendidikan sebuah alat untuk pgjaran yg efekti,, benarkah ????
Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar (Whiterington, 1982:10). Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.
Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif.
A. Sejarah Psikologi Pendidikan
Psikologi pendidikan adalah cabang psikologi. Karena psikologi sebagai ilmu pengetahuan masih muda usianya, maka psikologi pendidikan sebagai cabangnya lebih-lebih masih muda usianya. Berhubung dengan itu, ia masih dalam proses perkembangan; di sana sini masih banyak problem yang masih memerlukan pemecahannya; masih banyak hal-hal yang masih perlu pengembangannya. Walaupun ditinjau dari segi ilmu pengetahuan usianya masih sangat muda, akan tetapi pemikirannya (dalam arti yang menyangkut pendidikan dan problem jiwa) telah dipikirkan oleh orang sejak dahulu kala. Demikianlah misalnya, sampai ada yang mengatakan bahwa saat timbulnya yang mula-mula tentang psikologi pendidikan dapat diikuti jejaknya kembali pada Aristoteles. Bahwa Aristoteles sebagai seorang filsuf telah menyusun periode-periode perkembangan anak, sifat-sifat anak menurut periode dan bentuk pendidikan yang perlu diselenggarakan sesuai dengan periode-periode itu. Walaupun demikian, tentu saja pemikirannya baru merupakan pemikiran secara filsafat, belum merupakan pemikiran psikologi pendidikan.
Upaya-upaya yang bersifat semi ilmiah dipelopori oleh para pendidik, seperti Pestalozzi, Herbart, Frobel dan sebagainya. Mereka itu sering disebut sebagai pendidik yang mempsikologikan pendidikan, yaitu dalam wujud upaya memperbaharui pendidikan dengan melalui bahan-bahan yang sesuai dengan tingkat usia, metode yang sesuai dengan bahan yang diajarkan dan sebagainya, dengan mempertimbangkan tingkat-tingkat usia dan kemampuan anak didik. Pestalozzi misalnya, dengan upayanya itu kemudian sampai pula pada pola tujuan pendidikannya, yang disusun dengan “bahasa” psikologi pendidikan; dikatakan olehnya bahwa tujuan pendidikan adalah tercapainya perkembangan anak yang serasi mengenai tenaga dan daya-daya jiwa. Adapun Frobel menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah terwujudnya kepribadian melalui perkembangan sendiri, aktivitas dan kerja sama sosial dengan semboyan “belajar sambil bekerja”. Herbart bahkan telah menyusun pola rangkaian cara menyampaikan bahan pelajaran, berturut-turut: persiapan, penyajian, asosiasi, generalisasi dan aplikasi. Tentu saja sifat dan luasnya usaha yang mereka hasilkan dan sumbangkan sesuai dengan zamannya, yaitu bahwa psikologi sebenarnya pada zaman itu belum berdiri sebagai ilmu pengetahuan yang otonom.
Akhir abad ke-19 penelitian-penelitian dalam lapangan psikologi pendidikan secara ilmiah sudah semakin maju. Di Eropa, Ebbinghaus mempelajari aspek daya ingatan dalam hubungannya dengan proses pendidikan. Dengan penelitiannya itu misalnya terkenallah Kurve Daya Ingatan, yang menggambarkan, bahwa kemampuan mengingat mengenai sejumlah objek kesan-kesannya semakin lama semakin berkurang (menurun), akan tetapi tidaklah hilang sama sekali.
Pada awal abad 20 pemerintah Prancis merasa perlu untuk mengetahui prestasi belajar para pelajar, yang dirasa semakin menurun. Pertanyaannya yang ingin dijawab, apakah prestasi belajar itu semata-mata hanya tergantung pada soal rajin dan malasnya si pelajar, ataukah ada faktor kejiwaan atau mental yang ikut memegang peranan. Maka untuk memecahkan problem itu ditunjuklah seorang ahli psikologi yang bernama Alfred Binet, Dengan bantuan Theodore Simon, mereka menyusun sejumlah tugas yang terbentuk dalam sebuah tes baku untuk mengetahui inteligensi para pelajar. Tes ini kemudian dikenal dengan tes inteligensi. Tes inteligensi Binet-Simon ini sangat terkenal, yang kemudian banyak dipakai di Amerika Serikat, yang di negeri itu mengalami revisi berkali-kali untuk mendapat tingkat kesesuaiannya dengan masyarakat atau orang-orang Amerika. Di antara para ahli yang mengambil bagian dalam revisi-revisi itu misalnya : Stern, Terman, Merril dan sebaagainya.
Perlu juga diketahui, bahwa laboratorium ciptaan Wundt di Leipzig juga tidak hanya melakukan aktivitas penelitian yang bersifat “psikologi umum”, melainkan juga memegang peranan dalam psikologi pendidikan. Banyak orang Amerika yang belajar di Leipzig kepada Wundt. Akibatnya setelah mereka mengembangkan psikologi itu di negaranya, termasuk psikologi pendidikan. Terkenallah psikologi pendidikan di Amerika misalnya Charles H. Judd, E.L. Thorndike, B.F. Skinner dan sebagainya. Orang-orang ini sangat besar pengaruhnya terhadap pendidikan di Amerika Serikat. Terutama E.L. Thorndike, sehingga ia dipandang sebagai Bapak Psikologi Pendidikan di Amerika Serikat. Menurut seorang pakar psikiatri dan psikologi Amerika Serikat yang bernama Perry London, yang telah meneliti tentang penggunaan jasa psikologi di Amerika Serikat, yang menggunakan jasa psikologi bagi lapangan-lapangan tertentu adalah : 25% merupakan para pendidik, 25% ahli psikologi klinis dan konsultan, 16% merupakan para peneliti psikologi sendiri, sedang yang 34% tersebar pada lapangan atau pakar yang lain.
Di Indonesia psikologi pada umumnya dan psikologi pendidikan pada khususnya sedang dalam proses perkembangan yang cepat. Pada mata pelajaran, misalnya di sekolah calon guru (HK, HIK, Hoofd Acte, dan sebagainya). Setelah merdeka dan dengan berdirinya Fakultas Psikologi di beberapa Universitas serta berdirinya FKIP atau IKIP di berbagai kota, maka psikologi pada umumnya atau psikologi pendidikan khususnya, tidak hanya dipelajari sebagai mata kuliah, melainkan juga diteliti sebagai ilmu pengetahuan. Hal ini memang amat perlu, karena psikologi atau psikologi pendidikan yang didasarkan penelitiannya pada orang-orang barat belum tentu sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia.
B. Pengertian Psikologi Pendidikan
Psikologi pendidikan adalah perkembangan dari psikologi perkembangan dan psikologi sosial, sehingga hampir sebagian besar teori-teori dalam psikologi perkembangan dan psikologi sosial digunakan di psikologi pendidikan. Psikologi pendidikan mempelajari bagaimana manusia belajar dalam setting pendidikan, keefektifan sebuah pengajaran, cara mengajar, dan pengelolaan organisasi sekolah.
Psikologi Pendidikan adalah studi, latihan atau bimbingan yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan ilmu kejiwaan. Jika dikaji lebih jauh, psikologi pendidikan berasal dari dua kata yaitu Psikologi dan Pendidikan.
Pengertian Psikologi
Psikologi secara etimologis, berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan “logos” atau ilmu. Jadi secara harfiah psikologi adalah ilmu jiwa atau bisa di sebut ilmu yang mempelajari kejiwaan.
Seorang ilmuwan Rebek, 1988 mengemukakan tentang psikologi, menurut Rebek “Psikologi pada mulanya di gunakan para ilmuwan dan para filosof untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam memahami akal pikiran dan tingkah laku aneka ragam makhluk hidup mulai dari yang primitif sampai yang modern. Namun ternyata tidak cocok, lantaran menurut para ilmuwan dan filosof, psikologi memiliki batasan-batasan tertentu yang berada di luar kaedah keilmuan dan etika falsafi. Kaidah saintifik dan patokan etika filosofi ini tak dapat di bebankan begitu saja sebagai muatan psikologi”.
William James menganggap psikologi sebagai ilmu pengetahuan tentang kehidupan mental. John B. Watson mengubah definisi psikologi menurut James menjadi ilmu pengetahuan tentang tingkah laku (behaviour) organisme.
Caplin mendefinisikan psikologi sebagai “… the science of human and animal behavior, the study of of the organisme in all its variety and complexity as it responds to the flux and flow of the physical and social events which make up the environment” (Psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai perilaku manusia dan hewan, juga penyelidikan terhadap organisme dalam segala ragam dan kerumitannya ketika mereaksi arus dan perubahan lingkungan).
Edwin G. Boring dan Herbert S. Langfeld mendefinisikan psikologi sebagai studi tentang hakikat manusia.
Poerbakawatja dan Harahap membatasi psikologi sebagai “cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan aas gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa”. Dimana gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa tersebut meliputi respon organisme dan hubungannya dengan lingkungannya.
Syah (1997:9) membuat kesimpulan tentang pengertian psikologi dari beberapa definisi di atas, dimana psikologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan membahas tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia, baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Lingkungan dalam hal ini meliputi semua orang, barang, keadaan dan kejadian yang ada di sekitar manusia.
Pengertian Pendidikan
Pendidikan berasal dari kata “didik”, Lalu kata ini mendapat awalan kata “me” sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran (Kamus Bahasa Indonesia, 2008). Pendidikan secara harfiah adalah usaha sadar yang di lakukan oleh pendidik terhadap peserta didik, untuk mewujudkan tercapainya perubahan tingkahlaku, budi pekerti, keterampilan dan kepintaran secara intelektual, emosional dan spiritual. Pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan
Menurut McLeod, dalam bahasa Inggris, education (pendidikan) berasal dari kata educate (mendidikan) artinya memberi peningkatan (to elicit, to give rise to), dan mengembangkan (to evolve, to develop). Dalam pengertian yang sempit, education atau pendidikan berarti perbuatan atau proses perbuatan untuk memperoleh pengetahuan.
Menurut Tardif, secara luas, pendidikan adalah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. Secara luas dan representatif, pendidikan ialah “… the total process of developing human abilities and behaviors, drawing on almost all life’s experience” (seluruh tahapan pengembangan kemampuan-kemampuan dan perilaku-perilaku manusia dan juga proses penggunaan hampir seluruh pengalaman kehidupan).
Menurut Poerbakawatja dan Harahap, pendidikan adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan si anak ke kedewasaan yang selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moril dari segala perbuatannya.
Menurut Dictionary of Psychology, pendidikan diartikan sebagai “… the institutional procedures which are employed in accomplishing the development of knowledge, habits, attitudes etc. Usually the term is applied to formal institution”. Jadi pendidikan berarti tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan (seperti sekolah, madrasah) yang dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu dalam menguasai pengetahuan, kebiasaan, sikap dan sebagainya. Pendidikan dapat berlangsung secara informal dan nonformal disamping secara formal seperti sekolah, madrasah dan institusi-institusi lainnya. Bahkan menurut definisi di atas, pendidikan juga dapat berlangsung dengan cara mengajar diri sendiri (self-instruction).
Pengertian Psikologi Pendidikan
Menurut Arthur S. Reber, psikologi pendidikan adalah sebuah subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal sebagai berikut :
1. Penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas
2. Pengembangan dan pembaharuan kurikulum
3. Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan
4. Sosialisasi proses-proses dan interaksi proses-proses tersebut dengan pendayagunaan ranah kognitif
5. Penyenggaraan pendidikan keguruan
Menurut Barlow, “educational psychology is a body of knowledge grounded in psychological research which provides a repertoire of resource to aid you in functioning more effectively in teaching learning process” (psikologi pendidikan adalah sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu anda melaksanakan tugas-tugas seorang guru dalam proses belajar mengajar secara efektif).
Menurut Tardif, psikologi pendidikan adalah sebuah bidang studi yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia untuk usaha-usaha kependidikan.
Menurut Witherington, psikologi pendidikan sebagai “a systematic study of process and factors involved in the education of human being” (studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia).
Psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan.
C. Ruang Lingkup Psikologi Pendidikan
Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :
• Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.
• Epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.
• Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan.
Pada dasarnya psikologi pendidikan membahas hal-hal sebagai berikut
• Hereditas dan Lingkungan
• Pertumbuhan dan Perkembangan
• Potensial dan Karakteristik Tingkah laku
• Hasil Proses Pendidikan dan Pengaruhnya Terhadap Individu yang Bersifat Personal dan Sosial
• Higiene Mental dan Pendidikan
• Evaluasi Hasil Pendidikan
Ruang lingkup psikologi pendidikan menurut Good & Broopy (1997) :
• Hubungan antara psikologi dengan guru
• Manajemen kelas : Perkembangan dan sosialisasi anak kepemimpinan dan dinamika kelompok, modelling, reward, punishment, extinction. Hasil – hasil penelitian manajemen kelas, persiapan dan pelaksanaan pengajaran yang baik.
• Mengurai masalah belajar : pengertian, prinsip, perbedaan individu dalam belajar, model dan desain belajar dan prinsip pengajaran
• Pertumbuhan dan perkembangan dalam pendidikan : Prinsop dalam perkembangan fisik, kognitif, sosial dan kepribadian, kreativitas dan aplikasinya dalam pendidikan
• Motivasi : Pengertian, teori dan aplikasinya dalam pendidikan
• Evaluasi dalam belajar : pengertian, macam, cara menyusun, prosedur penilaian, monitoring kemajuan siswa, validiras dan realibilitas penggunaan statistik dalam pengolahan hasil tes
Namun menurut Sumadi Suryobroto (1984) ruang lingkup psikologi pendidikan meliputi :
• Pengetahuan tentang psikologi pendidikan : pengertian ruang lingkup, tujuan mempelajari dan sejarah munculnya psikologi pendidikan
• Pembawaaan
• Lingkungan fisik dan psikologis
• Perkembangan siswa
• Proses – proses tingkah laku
• Hakekat dan ruang lingkup belajar
• Faktor yang mempengaruhi belajar
• Hukum dan teori belajar
• Pengukuran pendidikan
• Aspek praktis pengukuran pendidikan
• Transfer belajar
• Ilmu statistik dasar
• Kesehatan mental
• Pendidikan membentuk watak / kepribadian
• Kurikulum pendidikan sekolah dasar
• Kurikulum pendidikan sekolah menengah
D. Metode Psikologi Pendidikan
Metode merupakan cara yang digunakan atau jalan yang ditempuh menuju ketujuan tertentu. Maka metode psikologi pendidikan adalah cara yang digunakan atau jalan yang ditempuh untuk sampai pada tujuan psikologi pendidikan, yaitu mendapatkan asas-asas, pokok-pokok, atau prinsip-prinsip tentang tingkah laku anak didik dalam situasi pendidikan dan yang dapat membantu pendidikan. Dalam hal-hal tertentu dan dalam batas-batas tertentu, metode ini juga dapat dipergunakan oleh para pendidik atau para guru dalam memahami dan memecahkan problem-problem pendidikan.
Pada dasarnya metode itu meliputi usaha pengumpulan data, pengolahan dana penyimpulannya. Berikut ini dibahas beberapa metode yang lazim dipergunakan dalam psikologi pendidikan, dengan titik berat pada metode pengumpulan data.
Metode Observasi
Metode observasi adalah metode yang dilakukan dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap tingkah laku anak didik dalam situasi yang wajar, dilaksanakan dengan berencana, kontinyu dan sistematik, serta diikuti dengan upaya mencatat atau merekam secara lengkap. Dengan sifat wajar, berarti bahwa anak didik itu dalam keadaan tidak dibuat-buat dan tidak mengetahui anak didik itu sedang di observasi. Berencana berarti bahwa sebelum observasi dilaksanakan harus ada persiapan yang matang tentang aspek-aspek tingkah laku yang akan di observasi. Dengan kontinyu berarti bahwa dalam melaksanakan observasi harus bersambungan antara periode yang satu dengan periode yang lain. Dengan sistematik berarti bahwa aspek-aspek yang di observasi itu harus tersusun secar teratur, sehingga tidak sekedar tumpukan catatan tentang tingkah laku. Dengan upaya mencatat atau merekam tentu dengan mudah kita pahami karena jika hanya mengamati tanpa mencatat atau merekam, maka hasilnya mudah dilupakan. Dewasa ini dengan kemajuan teknologi, observasi itu semakin maju.
Metode Eksperimen dan Tes
Dengan metode eksperimen dengan sengaja diciptakan situasi buatan. Dalam pendidikan, dan pada situasi itu ditempatkan subjek penelitian tertentu. Kepada subjek di sampaikan perangsang-perangsang tentu untuk mendapatkan reaksi atau response tertentu. Kemudian respons itu di analisis untuk mendapatkan kesimpulan tertentu. Pada lazimnya digunakan dua kelompok subjek, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Mirip metode eksperimen adalah metode tes. Metode tes dilakukan dengan memberikan tugas yang dilakukan oleh subjek, baik tugas tertulis maupun tugas lisan. Perbedaannya dengan eksperimen, eksperimen akan memperoleh prinsip umum yang berkenaan dengan seluruh subjek, atau akan diperoleh suatu genelralisasi, sedangkan tes akan memperoleh perbedaan sifat-sifat individual setiap subjek. Pada eksperimen dapat digunakan tes sebagai alat, sedang pada tes digunakan item-item atau pola untuk dilakukan oleh para subjek, dan tidak mungkin test menggunakan eksperimen. Ada beberapa macam test misalnya test intelegensi, test sikap, test situasi, test kecepatan reaksi, dan test hasil belajar dan sebagainya.
Metode Kuesioner dan Interview
Kuesioner sering disebut juga angket (Prancis : enquete). Berupa daftar yang memuat sejumlah pertanyaan yang disampaikan kepada subjek untuk dikerjakan (dijawab). Jawaban-jawaban itu kemudian dianalisis dan disimpulkan. Pada umumnya jawaban itu sudah tersedia, sehingga subjek tinggal memilih jawaban yang tepat untuk setiap item. Ditinjau dari segi penjawab, dapat dibedakan atas dua macam, yaitu langsung (direct) dan tak langsung (indirect). Disebut langsung jika yang harus menjawab adalah subjek itu sendiri, dan disebut tak langsung jika yang menjawab harus menjawab adalah orang yang mengetahui hal-ihwalnya subjek itu.
Metode Ilmiah
Merupakan prosedur yang sistematik dalam memecahkan permasalahan dan merupakan suatu pendekatan objektif yang terbuka untuk dikritik, dikonfirmasikan, dimodifikasi atau bahkan mungkin ditolak kebenarannya oleh penelitian berikutnya. Digunakan untuk menyelesaikan permasalahan perilaku yang lebih kompleks yang harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Metode Diferensial
Digunakan untuk meneliti perbedaan-perbedaan individual yang terdapat di antara anak didik. Menggunakan berbagai macam teknik pengukuran (contoh: tes, angket, dsb) serta menggunakan statistik untuk menganalisis.
Metode Klinis
Digunakan untuk mengumpulkan data secara lebih rinci mengenai perilaku penyesuaian dan kasus-kasus perilaku menyimpang.
E. Peranan Psikologi Pendidikan
Menurut Moh Surya (1972), fungsi psikologi pendidikan untuk membantu para guru dalam mengembangkan pemahaman yang lebih baik mengenai pendidikan dan profesinya.
Menurut Chaplin (1972), fungsi psikologi pendidikan untuk membantu memcahkan masalah yang terdapat dalam dunia pendidikan yang meliputi guru, siswa, materi, metode, dalam masalah belajar-mengajar.
Terdapat beberapa macam-macam kegiatan yang memerlukan prinsip psikologis :
• Seleksi penerimaan siswa baru
• Perencanaan pendidikan
• Penyusun kurikulum
• Penelitian kependidikan
• Administrasi kependidikan
• Pemilihan materi pelajaran
• Interaksi belajar-mengajar
• Pelayanan bimbingan dan konseling
• Evaluasi belajar
Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari psikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Proses Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupakan beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya tidak bisa dilepaskan dari psikologi.
Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogyanya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilakunya secara efektif.
Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing, pendidik dan pelatih bagi para peserta didiknya, tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya, terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya, sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah.
Di sinilah arti penting Psikologi Pendidikan bagi guru. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru, yakni kompetensi pedagogik. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa “diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik”.
Dengan memahami psikologi pendidikan, seorang guru melalui pertimbangan-pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat :
1. Merumuskan tujuan pembelajaran secara tepat
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru akan dapat lebih tepat dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran. Misalnya, dengan berusaha mengaplikasikan pemikiran Bloom tentang taksonomi perilaku individu dan mengaitkannya dengan teori-teori perkembangan individu.
2. Memilih strategi atau metode pembelajaran yang sesuai
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru dapat menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami siswanya.
3. Memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling
Tugas dan peran guru, di samping melaksanakan pembelajaran, juga diharapkan dapat membimbing para siswanya. Dengan memahami psikologi pendidikan, tentunya diharapkan guru dapat memberikan bantuan psikologis secara tepat dan benar, melalui proses hubungan interpersonal yang penuh kehangatan dan keakraban.
4. Memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik
Memfasilitasi artinya berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa, seperti bakat, kecerdasan dan minat. Sedangkan memotivasi dapat diartikan berupaya memberikan dorongan kepada siswa untuk melakukan perbuatan tertentu, khususnya perbuatan belajar. Tanpa pemahaman psikologi pendidikan yang memadai, tampaknya guru akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator maupun motivator belajar siswanya.
5. Menciptakan iklim belajar yang kondusif
Efektivitas pembelajaran membutuhkan adanya iklim belajar yang kondusif. Guru dengan pemahaman psikologi pendidikan yang memadai memungkinkan untuk dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas, sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan.
6. Berinteraksi secara tepat dengan siswanya
Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan memungkinkan untuk terwujudnya interaksi dengan siswa secara lebih bijak, penuh empati dan menjadi sosok yang menyenangkan di hadapan siswanya.
7. Menilai hasil pembelajaran yang adil
Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan dapat mambantu guru dalam mengembangkan penilaian pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis penilaian, pemenuhan prinsip-prinsip penilaian maupun menentukan hasil-hasil penilaian.
Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar (Whiterington, 1982:10). Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.
Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif.
A. Sejarah Psikologi Pendidikan
Psikologi pendidikan adalah cabang psikologi. Karena psikologi sebagai ilmu pengetahuan masih muda usianya, maka psikologi pendidikan sebagai cabangnya lebih-lebih masih muda usianya. Berhubung dengan itu, ia masih dalam proses perkembangan; di sana sini masih banyak problem yang masih memerlukan pemecahannya; masih banyak hal-hal yang masih perlu pengembangannya. Walaupun ditinjau dari segi ilmu pengetahuan usianya masih sangat muda, akan tetapi pemikirannya (dalam arti yang menyangkut pendidikan dan problem jiwa) telah dipikirkan oleh orang sejak dahulu kala. Demikianlah misalnya, sampai ada yang mengatakan bahwa saat timbulnya yang mula-mula tentang psikologi pendidikan dapat diikuti jejaknya kembali pada Aristoteles. Bahwa Aristoteles sebagai seorang filsuf telah menyusun periode-periode perkembangan anak, sifat-sifat anak menurut periode dan bentuk pendidikan yang perlu diselenggarakan sesuai dengan periode-periode itu. Walaupun demikian, tentu saja pemikirannya baru merupakan pemikiran secara filsafat, belum merupakan pemikiran psikologi pendidikan.
Upaya-upaya yang bersifat semi ilmiah dipelopori oleh para pendidik, seperti Pestalozzi, Herbart, Frobel dan sebagainya. Mereka itu sering disebut sebagai pendidik yang mempsikologikan pendidikan, yaitu dalam wujud upaya memperbaharui pendidikan dengan melalui bahan-bahan yang sesuai dengan tingkat usia, metode yang sesuai dengan bahan yang diajarkan dan sebagainya, dengan mempertimbangkan tingkat-tingkat usia dan kemampuan anak didik. Pestalozzi misalnya, dengan upayanya itu kemudian sampai pula pada pola tujuan pendidikannya, yang disusun dengan “bahasa” psikologi pendidikan; dikatakan olehnya bahwa tujuan pendidikan adalah tercapainya perkembangan anak yang serasi mengenai tenaga dan daya-daya jiwa. Adapun Frobel menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah terwujudnya kepribadian melalui perkembangan sendiri, aktivitas dan kerja sama sosial dengan semboyan “belajar sambil bekerja”. Herbart bahkan telah menyusun pola rangkaian cara menyampaikan bahan pelajaran, berturut-turut: persiapan, penyajian, asosiasi, generalisasi dan aplikasi. Tentu saja sifat dan luasnya usaha yang mereka hasilkan dan sumbangkan sesuai dengan zamannya, yaitu bahwa psikologi sebenarnya pada zaman itu belum berdiri sebagai ilmu pengetahuan yang otonom.
Akhir abad ke-19 penelitian-penelitian dalam lapangan psikologi pendidikan secara ilmiah sudah semakin maju. Di Eropa, Ebbinghaus mempelajari aspek daya ingatan dalam hubungannya dengan proses pendidikan. Dengan penelitiannya itu misalnya terkenallah Kurve Daya Ingatan, yang menggambarkan, bahwa kemampuan mengingat mengenai sejumlah objek kesan-kesannya semakin lama semakin berkurang (menurun), akan tetapi tidaklah hilang sama sekali.
Pada awal abad 20 pemerintah Prancis merasa perlu untuk mengetahui prestasi belajar para pelajar, yang dirasa semakin menurun. Pertanyaannya yang ingin dijawab, apakah prestasi belajar itu semata-mata hanya tergantung pada soal rajin dan malasnya si pelajar, ataukah ada faktor kejiwaan atau mental yang ikut memegang peranan. Maka untuk memecahkan problem itu ditunjuklah seorang ahli psikologi yang bernama Alfred Binet, Dengan bantuan Theodore Simon, mereka menyusun sejumlah tugas yang terbentuk dalam sebuah tes baku untuk mengetahui inteligensi para pelajar. Tes ini kemudian dikenal dengan tes inteligensi. Tes inteligensi Binet-Simon ini sangat terkenal, yang kemudian banyak dipakai di Amerika Serikat, yang di negeri itu mengalami revisi berkali-kali untuk mendapat tingkat kesesuaiannya dengan masyarakat atau orang-orang Amerika. Di antara para ahli yang mengambil bagian dalam revisi-revisi itu misalnya : Stern, Terman, Merril dan sebaagainya.
Perlu juga diketahui, bahwa laboratorium ciptaan Wundt di Leipzig juga tidak hanya melakukan aktivitas penelitian yang bersifat “psikologi umum”, melainkan juga memegang peranan dalam psikologi pendidikan. Banyak orang Amerika yang belajar di Leipzig kepada Wundt. Akibatnya setelah mereka mengembangkan psikologi itu di negaranya, termasuk psikologi pendidikan. Terkenallah psikologi pendidikan di Amerika misalnya Charles H. Judd, E.L. Thorndike, B.F. Skinner dan sebagainya. Orang-orang ini sangat besar pengaruhnya terhadap pendidikan di Amerika Serikat. Terutama E.L. Thorndike, sehingga ia dipandang sebagai Bapak Psikologi Pendidikan di Amerika Serikat. Menurut seorang pakar psikiatri dan psikologi Amerika Serikat yang bernama Perry London, yang telah meneliti tentang penggunaan jasa psikologi di Amerika Serikat, yang menggunakan jasa psikologi bagi lapangan-lapangan tertentu adalah : 25% merupakan para pendidik, 25% ahli psikologi klinis dan konsultan, 16% merupakan para peneliti psikologi sendiri, sedang yang 34% tersebar pada lapangan atau pakar yang lain.
Di Indonesia psikologi pada umumnya dan psikologi pendidikan pada khususnya sedang dalam proses perkembangan yang cepat. Pada mata pelajaran, misalnya di sekolah calon guru (HK, HIK, Hoofd Acte, dan sebagainya). Setelah merdeka dan dengan berdirinya Fakultas Psikologi di beberapa Universitas serta berdirinya FKIP atau IKIP di berbagai kota, maka psikologi pada umumnya atau psikologi pendidikan khususnya, tidak hanya dipelajari sebagai mata kuliah, melainkan juga diteliti sebagai ilmu pengetahuan. Hal ini memang amat perlu, karena psikologi atau psikologi pendidikan yang didasarkan penelitiannya pada orang-orang barat belum tentu sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia.
B. Pengertian Psikologi Pendidikan
Psikologi pendidikan adalah perkembangan dari psikologi perkembangan dan psikologi sosial, sehingga hampir sebagian besar teori-teori dalam psikologi perkembangan dan psikologi sosial digunakan di psikologi pendidikan. Psikologi pendidikan mempelajari bagaimana manusia belajar dalam setting pendidikan, keefektifan sebuah pengajaran, cara mengajar, dan pengelolaan organisasi sekolah.
Psikologi Pendidikan adalah studi, latihan atau bimbingan yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan ilmu kejiwaan. Jika dikaji lebih jauh, psikologi pendidikan berasal dari dua kata yaitu Psikologi dan Pendidikan.
Pengertian Psikologi
Psikologi secara etimologis, berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan “logos” atau ilmu. Jadi secara harfiah psikologi adalah ilmu jiwa atau bisa di sebut ilmu yang mempelajari kejiwaan.
Seorang ilmuwan Rebek, 1988 mengemukakan tentang psikologi, menurut Rebek “Psikologi pada mulanya di gunakan para ilmuwan dan para filosof untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam memahami akal pikiran dan tingkah laku aneka ragam makhluk hidup mulai dari yang primitif sampai yang modern. Namun ternyata tidak cocok, lantaran menurut para ilmuwan dan filosof, psikologi memiliki batasan-batasan tertentu yang berada di luar kaedah keilmuan dan etika falsafi. Kaidah saintifik dan patokan etika filosofi ini tak dapat di bebankan begitu saja sebagai muatan psikologi”.
William James menganggap psikologi sebagai ilmu pengetahuan tentang kehidupan mental. John B. Watson mengubah definisi psikologi menurut James menjadi ilmu pengetahuan tentang tingkah laku (behaviour) organisme.
Caplin mendefinisikan psikologi sebagai “… the science of human and animal behavior, the study of of the organisme in all its variety and complexity as it responds to the flux and flow of the physical and social events which make up the environment” (Psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai perilaku manusia dan hewan, juga penyelidikan terhadap organisme dalam segala ragam dan kerumitannya ketika mereaksi arus dan perubahan lingkungan).
Edwin G. Boring dan Herbert S. Langfeld mendefinisikan psikologi sebagai studi tentang hakikat manusia.
Poerbakawatja dan Harahap membatasi psikologi sebagai “cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan aas gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa”. Dimana gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa tersebut meliputi respon organisme dan hubungannya dengan lingkungannya.
Syah (1997:9) membuat kesimpulan tentang pengertian psikologi dari beberapa definisi di atas, dimana psikologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan membahas tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia, baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Lingkungan dalam hal ini meliputi semua orang, barang, keadaan dan kejadian yang ada di sekitar manusia.
Pengertian Pendidikan
Pendidikan berasal dari kata “didik”, Lalu kata ini mendapat awalan kata “me” sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran (Kamus Bahasa Indonesia, 2008). Pendidikan secara harfiah adalah usaha sadar yang di lakukan oleh pendidik terhadap peserta didik, untuk mewujudkan tercapainya perubahan tingkahlaku, budi pekerti, keterampilan dan kepintaran secara intelektual, emosional dan spiritual. Pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan
Menurut McLeod, dalam bahasa Inggris, education (pendidikan) berasal dari kata educate (mendidikan) artinya memberi peningkatan (to elicit, to give rise to), dan mengembangkan (to evolve, to develop). Dalam pengertian yang sempit, education atau pendidikan berarti perbuatan atau proses perbuatan untuk memperoleh pengetahuan.
Menurut Tardif, secara luas, pendidikan adalah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. Secara luas dan representatif, pendidikan ialah “… the total process of developing human abilities and behaviors, drawing on almost all life’s experience” (seluruh tahapan pengembangan kemampuan-kemampuan dan perilaku-perilaku manusia dan juga proses penggunaan hampir seluruh pengalaman kehidupan).
Menurut Poerbakawatja dan Harahap, pendidikan adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan si anak ke kedewasaan yang selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moril dari segala perbuatannya.
Menurut Dictionary of Psychology, pendidikan diartikan sebagai “… the institutional procedures which are employed in accomplishing the development of knowledge, habits, attitudes etc. Usually the term is applied to formal institution”. Jadi pendidikan berarti tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan (seperti sekolah, madrasah) yang dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu dalam menguasai pengetahuan, kebiasaan, sikap dan sebagainya. Pendidikan dapat berlangsung secara informal dan nonformal disamping secara formal seperti sekolah, madrasah dan institusi-institusi lainnya. Bahkan menurut definisi di atas, pendidikan juga dapat berlangsung dengan cara mengajar diri sendiri (self-instruction).
Pengertian Psikologi Pendidikan
Menurut Arthur S. Reber, psikologi pendidikan adalah sebuah subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal sebagai berikut :
1. Penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas
2. Pengembangan dan pembaharuan kurikulum
3. Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan
4. Sosialisasi proses-proses dan interaksi proses-proses tersebut dengan pendayagunaan ranah kognitif
5. Penyenggaraan pendidikan keguruan
Menurut Barlow, “educational psychology is a body of knowledge grounded in psychological research which provides a repertoire of resource to aid you in functioning more effectively in teaching learning process” (psikologi pendidikan adalah sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu anda melaksanakan tugas-tugas seorang guru dalam proses belajar mengajar secara efektif).
Menurut Tardif, psikologi pendidikan adalah sebuah bidang studi yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia untuk usaha-usaha kependidikan.
Menurut Witherington, psikologi pendidikan sebagai “a systematic study of process and factors involved in the education of human being” (studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia).
Psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan.
C. Ruang Lingkup Psikologi Pendidikan
Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :
• Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.
• Epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.
• Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan.
Pada dasarnya psikologi pendidikan membahas hal-hal sebagai berikut
• Hereditas dan Lingkungan
• Pertumbuhan dan Perkembangan
• Potensial dan Karakteristik Tingkah laku
• Hasil Proses Pendidikan dan Pengaruhnya Terhadap Individu yang Bersifat Personal dan Sosial
• Higiene Mental dan Pendidikan
• Evaluasi Hasil Pendidikan
Ruang lingkup psikologi pendidikan menurut Good & Broopy (1997) :
• Hubungan antara psikologi dengan guru
• Manajemen kelas : Perkembangan dan sosialisasi anak kepemimpinan dan dinamika kelompok, modelling, reward, punishment, extinction. Hasil – hasil penelitian manajemen kelas, persiapan dan pelaksanaan pengajaran yang baik.
• Mengurai masalah belajar : pengertian, prinsip, perbedaan individu dalam belajar, model dan desain belajar dan prinsip pengajaran
• Pertumbuhan dan perkembangan dalam pendidikan : Prinsop dalam perkembangan fisik, kognitif, sosial dan kepribadian, kreativitas dan aplikasinya dalam pendidikan
• Motivasi : Pengertian, teori dan aplikasinya dalam pendidikan
• Evaluasi dalam belajar : pengertian, macam, cara menyusun, prosedur penilaian, monitoring kemajuan siswa, validiras dan realibilitas penggunaan statistik dalam pengolahan hasil tes
Namun menurut Sumadi Suryobroto (1984) ruang lingkup psikologi pendidikan meliputi :
• Pengetahuan tentang psikologi pendidikan : pengertian ruang lingkup, tujuan mempelajari dan sejarah munculnya psikologi pendidikan
• Pembawaaan
• Lingkungan fisik dan psikologis
• Perkembangan siswa
• Proses – proses tingkah laku
• Hakekat dan ruang lingkup belajar
• Faktor yang mempengaruhi belajar
• Hukum dan teori belajar
• Pengukuran pendidikan
• Aspek praktis pengukuran pendidikan
• Transfer belajar
• Ilmu statistik dasar
• Kesehatan mental
• Pendidikan membentuk watak / kepribadian
• Kurikulum pendidikan sekolah dasar
• Kurikulum pendidikan sekolah menengah
D. Metode Psikologi Pendidikan
Metode merupakan cara yang digunakan atau jalan yang ditempuh menuju ketujuan tertentu. Maka metode psikologi pendidikan adalah cara yang digunakan atau jalan yang ditempuh untuk sampai pada tujuan psikologi pendidikan, yaitu mendapatkan asas-asas, pokok-pokok, atau prinsip-prinsip tentang tingkah laku anak didik dalam situasi pendidikan dan yang dapat membantu pendidikan. Dalam hal-hal tertentu dan dalam batas-batas tertentu, metode ini juga dapat dipergunakan oleh para pendidik atau para guru dalam memahami dan memecahkan problem-problem pendidikan.
Pada dasarnya metode itu meliputi usaha pengumpulan data, pengolahan dana penyimpulannya. Berikut ini dibahas beberapa metode yang lazim dipergunakan dalam psikologi pendidikan, dengan titik berat pada metode pengumpulan data.
Metode Observasi
Metode observasi adalah metode yang dilakukan dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap tingkah laku anak didik dalam situasi yang wajar, dilaksanakan dengan berencana, kontinyu dan sistematik, serta diikuti dengan upaya mencatat atau merekam secara lengkap. Dengan sifat wajar, berarti bahwa anak didik itu dalam keadaan tidak dibuat-buat dan tidak mengetahui anak didik itu sedang di observasi. Berencana berarti bahwa sebelum observasi dilaksanakan harus ada persiapan yang matang tentang aspek-aspek tingkah laku yang akan di observasi. Dengan kontinyu berarti bahwa dalam melaksanakan observasi harus bersambungan antara periode yang satu dengan periode yang lain. Dengan sistematik berarti bahwa aspek-aspek yang di observasi itu harus tersusun secar teratur, sehingga tidak sekedar tumpukan catatan tentang tingkah laku. Dengan upaya mencatat atau merekam tentu dengan mudah kita pahami karena jika hanya mengamati tanpa mencatat atau merekam, maka hasilnya mudah dilupakan. Dewasa ini dengan kemajuan teknologi, observasi itu semakin maju.
Metode Eksperimen dan Tes
Dengan metode eksperimen dengan sengaja diciptakan situasi buatan. Dalam pendidikan, dan pada situasi itu ditempatkan subjek penelitian tertentu. Kepada subjek di sampaikan perangsang-perangsang tentu untuk mendapatkan reaksi atau response tertentu. Kemudian respons itu di analisis untuk mendapatkan kesimpulan tertentu. Pada lazimnya digunakan dua kelompok subjek, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Mirip metode eksperimen adalah metode tes. Metode tes dilakukan dengan memberikan tugas yang dilakukan oleh subjek, baik tugas tertulis maupun tugas lisan. Perbedaannya dengan eksperimen, eksperimen akan memperoleh prinsip umum yang berkenaan dengan seluruh subjek, atau akan diperoleh suatu genelralisasi, sedangkan tes akan memperoleh perbedaan sifat-sifat individual setiap subjek. Pada eksperimen dapat digunakan tes sebagai alat, sedang pada tes digunakan item-item atau pola untuk dilakukan oleh para subjek, dan tidak mungkin test menggunakan eksperimen. Ada beberapa macam test misalnya test intelegensi, test sikap, test situasi, test kecepatan reaksi, dan test hasil belajar dan sebagainya.
Metode Kuesioner dan Interview
Kuesioner sering disebut juga angket (Prancis : enquete). Berupa daftar yang memuat sejumlah pertanyaan yang disampaikan kepada subjek untuk dikerjakan (dijawab). Jawaban-jawaban itu kemudian dianalisis dan disimpulkan. Pada umumnya jawaban itu sudah tersedia, sehingga subjek tinggal memilih jawaban yang tepat untuk setiap item. Ditinjau dari segi penjawab, dapat dibedakan atas dua macam, yaitu langsung (direct) dan tak langsung (indirect). Disebut langsung jika yang harus menjawab adalah subjek itu sendiri, dan disebut tak langsung jika yang menjawab harus menjawab adalah orang yang mengetahui hal-ihwalnya subjek itu.
Metode Ilmiah
Merupakan prosedur yang sistematik dalam memecahkan permasalahan dan merupakan suatu pendekatan objektif yang terbuka untuk dikritik, dikonfirmasikan, dimodifikasi atau bahkan mungkin ditolak kebenarannya oleh penelitian berikutnya. Digunakan untuk menyelesaikan permasalahan perilaku yang lebih kompleks yang harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Metode Diferensial
Digunakan untuk meneliti perbedaan-perbedaan individual yang terdapat di antara anak didik. Menggunakan berbagai macam teknik pengukuran (contoh: tes, angket, dsb) serta menggunakan statistik untuk menganalisis.
Metode Klinis
Digunakan untuk mengumpulkan data secara lebih rinci mengenai perilaku penyesuaian dan kasus-kasus perilaku menyimpang.
E. Peranan Psikologi Pendidikan
Menurut Moh Surya (1972), fungsi psikologi pendidikan untuk membantu para guru dalam mengembangkan pemahaman yang lebih baik mengenai pendidikan dan profesinya.
Menurut Chaplin (1972), fungsi psikologi pendidikan untuk membantu memcahkan masalah yang terdapat dalam dunia pendidikan yang meliputi guru, siswa, materi, metode, dalam masalah belajar-mengajar.
Terdapat beberapa macam-macam kegiatan yang memerlukan prinsip psikologis :
• Seleksi penerimaan siswa baru
• Perencanaan pendidikan
• Penyusun kurikulum
• Penelitian kependidikan
• Administrasi kependidikan
• Pemilihan materi pelajaran
• Interaksi belajar-mengajar
• Pelayanan bimbingan dan konseling
• Evaluasi belajar
Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari psikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Proses Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupakan beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya tidak bisa dilepaskan dari psikologi.
Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogyanya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilakunya secara efektif.
Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing, pendidik dan pelatih bagi para peserta didiknya, tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya, terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya, sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah.
Di sinilah arti penting Psikologi Pendidikan bagi guru. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru, yakni kompetensi pedagogik. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa “diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik”.
Dengan memahami psikologi pendidikan, seorang guru melalui pertimbangan-pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat :
1. Merumuskan tujuan pembelajaran secara tepat
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru akan dapat lebih tepat dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran. Misalnya, dengan berusaha mengaplikasikan pemikiran Bloom tentang taksonomi perilaku individu dan mengaitkannya dengan teori-teori perkembangan individu.
2. Memilih strategi atau metode pembelajaran yang sesuai
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru dapat menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami siswanya.
3. Memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling
Tugas dan peran guru, di samping melaksanakan pembelajaran, juga diharapkan dapat membimbing para siswanya. Dengan memahami psikologi pendidikan, tentunya diharapkan guru dapat memberikan bantuan psikologis secara tepat dan benar, melalui proses hubungan interpersonal yang penuh kehangatan dan keakraban.
4. Memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik
Memfasilitasi artinya berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa, seperti bakat, kecerdasan dan minat. Sedangkan memotivasi dapat diartikan berupaya memberikan dorongan kepada siswa untuk melakukan perbuatan tertentu, khususnya perbuatan belajar. Tanpa pemahaman psikologi pendidikan yang memadai, tampaknya guru akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator maupun motivator belajar siswanya.
5. Menciptakan iklim belajar yang kondusif
Efektivitas pembelajaran membutuhkan adanya iklim belajar yang kondusif. Guru dengan pemahaman psikologi pendidikan yang memadai memungkinkan untuk dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas, sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan.
6. Berinteraksi secara tepat dengan siswanya
Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan memungkinkan untuk terwujudnya interaksi dengan siswa secara lebih bijak, penuh empati dan menjadi sosok yang menyenangkan di hadapan siswanya.
7. Menilai hasil pembelajaran yang adil
Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan dapat mambantu guru dalam mengembangkan penilaian pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis penilaian, pemenuhan prinsip-prinsip penilaian maupun menentukan hasil-hasil penilaian.
Tipologi Spranger
A. Pokok-pokok Tipologi Spranger
Pokok-pokok pikiran Spranger mengenai kepribadian manusia adalah sebagai yang dikemukakan berikut ini:
1. Dua Macam Roh (Gest)
Spranger membedakan adanya dua macam roh (Gaits) yaitu:
1). Roh subjektif atau roh individual (subjektive geits, individualis gaits) yaitu roh yang terdapat pada manusia masing-masing (individual). Roh ini merupakan struktur yang bertujuan.
• Roh individual itu merupakan struktur, karena roh individual itu harus dapat dipahami kalau dapat ditinjau sebagai anggota dari pada struktur yang lebih tinggi, yaitu kebudayaan.
• Roh individual itu bertujuan, yaitu mencapai atau menjelmakan nilai tertentu, dan karenaitu juga hanya dapat dipahami dengan jalan memahami sistem nilai-nilai tertentu.struktur nilai yang lebih tinggi adalah roh subjektif.
2) Roh sebjektif atau roh supra-individual, atau kebudayaan (objective Geist, Ubar indivisdualle Geits, kultur) yaitu roh seluruh umat manusia, yang dalam concreto-nya merupakan kebudayaan yang telah terjelma dalam berkembang selama berabad-abad bersama-sama manusia-manusia individual.
2. Hubungan antara Roh Subjektif dan Roh Objektif
Roh sebjektif dan roh objektif sangat berhubungan secara timbal balik. Roh subjektif atau roh individual, yang mengandung nilai-nilai yang terdapat pada masing-masing individu, dibentuk dan dipupuk dengan acuan roh objektif. Individu tidak dapat mengelak atau melepaskan diri dari pengaruh roh objektif, dalam roh objektif juga tidak dapat dipisahkan dari roh subjektif atau roh individual. Sebab individu-individualah yang dari abab keabad menciptakan nilai budaya itu. Nilai-nilai budaya akan lenyap jika sekiranya manusia-manusia sebagai individu tidak mendukungnya serta menghayatinya, karena itu bagaimanapun juga dalam saling hubungan antara roh subjektif dan roh objektif tetap primer dan, dan roh objektif tetap sekunder. Manusia menerima kebudayaan yang telah ada dan mengembangkan kebudayaan itu dengan penciptaan-penciptaan baru. Jadi manusia sebagai penduking roh senjektif dalam hubunganya dengan kebudayaan tempat dia ada.
3. Lapangann-lapangan Hidup
Kebudayaan oleh Spranger dipandang sebagai sistem nilai-nilai, karena kebudayaan itu tidak lain adalah kumpulan nilai-nilai kebudayaan yang tersusun atau diatur menurut struktur tertentu. Kebudatyaan sebagai sistem atau struktur nilai-nilai ini oleh spranger digolongkan menjadi enam lapangan nillai
1. Ekonomi
2. Politik
3. Social
4. Ilmu pengetahuan
Keenam nilai ini atau lapangan hidup masih dikelompok-kelompokkan lagi menjadi dua kelompok:
a. Nilai yang bersangkitan dengan manusia sebagai individ, yang meliputi empat lapangan nilai, yaitu nilai pengerahuan,nilai ekonomi, nilai kesenian, dan nilai keagamaan.
b. Nilai yang bersangkutan dengan manusia sebagai anggota masyarakat. Lapangan nilai ini mengangkut manusia dengan kekuatan cinta (macht der leabe) dan cinta akan kekuasaan (liabe zur macht). Kelompok ini mencakup dua nilai yaitu nilai kemasyarakatan dan nilai politik.
4.Tipologi Spranger roh
a. Enam tipe manusia
Roh subjektif, sebagi srtuktur atau system nilai dalam masing-masing individu yang terbentuk dan berkembang olen pengaruh-pengaruh dasar, pendidikan dan pedoman kepada roh subjektif sebagai cita-cita yang harus dicapai juga mangandung keenam nilai kebudayaan. Walau pun roh subjektif mengandung enam nilai kebudayaan itu, nilai yang dominan inilah yang member corak atau bentuk kepada kepribadian. Maka spinger menggolongkan manusia menjadi enam ayau emnam tipe yaitu:
1) Manusia ekonomi
Adapun sifat-sifatnya: Senang bekerja,Senang mengumpulkan harta, Agak karir, Bangga dengan hartanya
2) Manusia politik
Adapu sifat-sifatnaya: Ingin berkuasa, Tidak ingin kaya, Berusaha menguasai orang lain, Kurang mencintai kebenaran
3) Manusia social
Adapun sifat-sifatnya; Senang berkorban, Senang mengabdi kepada Tuhan,Mencintai masyarakat, Pandai bergaul .
4) Manusia pengetahuan
Adapun sfiat-sifanya: senang membaca, gemar berfikir dan belajar, tidak ingin kaya, ingin serba tahu
5. Manusia agama
Adapun sifat-sifatnya, Hidupnya untuk Tuhan dan akhirat, Senang memuja, Kurang seneng harta, Senang menolong orang lain
6. Manusia seni
Adapun sifat-sifatnya ; Hidup bersahaja, Senang menikmati keindahan, Gemar mencipta, Mudah bergaul dengan siapa saja.
Tipe-tipe yang dikemukakan oleh spranger itu hanyalah merupakan tipe–tipe pokok atai ideal. Akan tetapi menurut spinger dengan tipe-tipe ideal ini orang dapat cepat menetapkan individu yang dihadapinya paling dekat dengan tipe yang mana.
b. Pencenraan tipe-tipe
1. Manusia teori adalah seorang itelektualis sejati, manusia ilmu. Cita-cita utamanya adalah mencapai kebenarannya dan hakikatnya daripada benda-benda. Tujuan yang dikejar oleh manusia teori adalah pengetahuan yang ojektif,
2. Manusia ekinomi adalah manusia yang selalu kaya akan gagasan-gagasan yang praktis kurangg memperhatikan bentuk tindakan yang dilakukanya.
3. Manusia estetis adalah manusia yang menghayati kehidupan seakan-akan tidak sebagai pemain tetapi sebagaii penonton. Manusia estetis ini cenderung kearah individualis
.4. Manusia agama adalah menurut spinger inti dari halo keagamaan itu terletak dalam pecarian terhadap nilai tertinggi daripada keberadaan ini , siapa yang belum mantap akan hal ini belumlah mencapai apa yang seharusnya dikejarnya,, dia belum sembunyi dasar yang kuat bagi hidupnya.
5. Manusia sosial, sifat utama dari pada manusia golongan tipe ini adalah besar kebutuhanya akan ada resonansi dari semua manusia.nilai yang dipandangnya sebagai nilai yang palingtinggi adalah “cinta terhadap manusia” baik yang tertuju kepada individu tertentu maupun yang tertuju kepada kelompok manusia.
6. Manusia kuasa, manusia kuasa bertujuan untuk mengejar kesenangan dan kesadaran akan kekuasaanya sendiri.
c. diferensiansi tipe-tipe
Keenam tipe yang baru saja dikemukakan pencanreaanya itu adalah tipe-tipe pokok. Spranger tidak berhenti dengan mengemukakan tipe-tipe pokok itu saja, tetapi dia masih mengemukakan diferensiasi tipetipe dan kombinasi tipe-tipe.
B. ARTI TEORI SPANGER
1. Teori spranger walaupun banyak mengandung kelemahan, namun dalam kenyataanya besar pengaruknya. Banyak para ahli yang memilih teori spranger untuk bahan penyusunan konsepsinya. Pengaruh itu tidak terbatas pada lapanganpsikologi kepribadian saja, tapi juga meluas kepada psikologi yang lainya.
2. Disampi segi positifnya itu teori sepranger tidak luput dari kelemahan-kelemahan
Tipologi Spranger
1. Dua macam rohk (Geist)
Pertama-tama spranger membedakan adanya dua macam rokh (Geist), yaitu:
a) Rokh subjektif atau rokh individual, yaitu rokh yang terdapat pada manusia masing-masing (individu)
b) Rokh objektif atau rokh supra individual, yaitu rokh seluruh umat manusia, yang dalam keadaan konkritnya merupakan kebudayaan yang telah terjelma selama berabad-abad.
2. Hubungan antara rokh subjektif dan rokh abjektif
Rokh subjektif dan objektif itu berhubungan secara timbal balik. Rokh subjektif atau roh individual, yang mengandung nilai-nilai yang terdapat pada masing-masing individu, dibentuk dan dipupuk dengan rokh objektif, artinya rokh subjektif tersebut berbentuk dan berkembang dengan memakai rokh objektif sebagai norma.
3. Lapangan-lapangan hidup
Kebudayaan oleh Spranger dipandang sebagai sistem nilai-nilai, karena kebudayaan itu tidak lain adalah kumpulan nilai-nilai kebudayaan yang tersusun menurut sistem atau struktur tertentu.
a) Lapangan pengetahuan (ilmu, teori)
b) Lapangan ekonomi
c) Lapangan kesenian
d) Lapangan keagamaan
e) Lapangan kemasyarakatan
f) Lapanagan politik
Pokok-pokok pikiran Spranger mengenai kepribadian manusia adalah sebagai yang dikemukakan berikut ini:
1. Dua Macam Roh (Gest)
Spranger membedakan adanya dua macam roh (Gaits) yaitu:
1). Roh subjektif atau roh individual (subjektive geits, individualis gaits) yaitu roh yang terdapat pada manusia masing-masing (individual). Roh ini merupakan struktur yang bertujuan.
• Roh individual itu merupakan struktur, karena roh individual itu harus dapat dipahami kalau dapat ditinjau sebagai anggota dari pada struktur yang lebih tinggi, yaitu kebudayaan.
• Roh individual itu bertujuan, yaitu mencapai atau menjelmakan nilai tertentu, dan karenaitu juga hanya dapat dipahami dengan jalan memahami sistem nilai-nilai tertentu.struktur nilai yang lebih tinggi adalah roh subjektif.
2) Roh sebjektif atau roh supra-individual, atau kebudayaan (objective Geist, Ubar indivisdualle Geits, kultur) yaitu roh seluruh umat manusia, yang dalam concreto-nya merupakan kebudayaan yang telah terjelma dalam berkembang selama berabad-abad bersama-sama manusia-manusia individual.
2. Hubungan antara Roh Subjektif dan Roh Objektif
Roh sebjektif dan roh objektif sangat berhubungan secara timbal balik. Roh subjektif atau roh individual, yang mengandung nilai-nilai yang terdapat pada masing-masing individu, dibentuk dan dipupuk dengan acuan roh objektif. Individu tidak dapat mengelak atau melepaskan diri dari pengaruh roh objektif, dalam roh objektif juga tidak dapat dipisahkan dari roh subjektif atau roh individual. Sebab individu-individualah yang dari abab keabad menciptakan nilai budaya itu. Nilai-nilai budaya akan lenyap jika sekiranya manusia-manusia sebagai individu tidak mendukungnya serta menghayatinya, karena itu bagaimanapun juga dalam saling hubungan antara roh subjektif dan roh objektif tetap primer dan, dan roh objektif tetap sekunder. Manusia menerima kebudayaan yang telah ada dan mengembangkan kebudayaan itu dengan penciptaan-penciptaan baru. Jadi manusia sebagai penduking roh senjektif dalam hubunganya dengan kebudayaan tempat dia ada.
3. Lapangann-lapangan Hidup
Kebudayaan oleh Spranger dipandang sebagai sistem nilai-nilai, karena kebudayaan itu tidak lain adalah kumpulan nilai-nilai kebudayaan yang tersusun atau diatur menurut struktur tertentu. Kebudatyaan sebagai sistem atau struktur nilai-nilai ini oleh spranger digolongkan menjadi enam lapangan nillai
1. Ekonomi
2. Politik
3. Social
4. Ilmu pengetahuan
Keenam nilai ini atau lapangan hidup masih dikelompok-kelompokkan lagi menjadi dua kelompok:
a. Nilai yang bersangkitan dengan manusia sebagai individ, yang meliputi empat lapangan nilai, yaitu nilai pengerahuan,nilai ekonomi, nilai kesenian, dan nilai keagamaan.
b. Nilai yang bersangkutan dengan manusia sebagai anggota masyarakat. Lapangan nilai ini mengangkut manusia dengan kekuatan cinta (macht der leabe) dan cinta akan kekuasaan (liabe zur macht). Kelompok ini mencakup dua nilai yaitu nilai kemasyarakatan dan nilai politik.
4.Tipologi Spranger roh
a. Enam tipe manusia
Roh subjektif, sebagi srtuktur atau system nilai dalam masing-masing individu yang terbentuk dan berkembang olen pengaruh-pengaruh dasar, pendidikan dan pedoman kepada roh subjektif sebagai cita-cita yang harus dicapai juga mangandung keenam nilai kebudayaan. Walau pun roh subjektif mengandung enam nilai kebudayaan itu, nilai yang dominan inilah yang member corak atau bentuk kepada kepribadian. Maka spinger menggolongkan manusia menjadi enam ayau emnam tipe yaitu:
1) Manusia ekonomi
Adapun sifat-sifatnya: Senang bekerja,Senang mengumpulkan harta, Agak karir, Bangga dengan hartanya
2) Manusia politik
Adapu sifat-sifatnaya: Ingin berkuasa, Tidak ingin kaya, Berusaha menguasai orang lain, Kurang mencintai kebenaran
3) Manusia social
Adapun sifat-sifatnya; Senang berkorban, Senang mengabdi kepada Tuhan,Mencintai masyarakat, Pandai bergaul .
4) Manusia pengetahuan
Adapun sfiat-sifanya: senang membaca, gemar berfikir dan belajar, tidak ingin kaya, ingin serba tahu
5. Manusia agama
Adapun sifat-sifatnya, Hidupnya untuk Tuhan dan akhirat, Senang memuja, Kurang seneng harta, Senang menolong orang lain
6. Manusia seni
Adapun sifat-sifatnya ; Hidup bersahaja, Senang menikmati keindahan, Gemar mencipta, Mudah bergaul dengan siapa saja.
Tipe-tipe yang dikemukakan oleh spranger itu hanyalah merupakan tipe–tipe pokok atai ideal. Akan tetapi menurut spinger dengan tipe-tipe ideal ini orang dapat cepat menetapkan individu yang dihadapinya paling dekat dengan tipe yang mana.
b. Pencenraan tipe-tipe
1. Manusia teori adalah seorang itelektualis sejati, manusia ilmu. Cita-cita utamanya adalah mencapai kebenarannya dan hakikatnya daripada benda-benda. Tujuan yang dikejar oleh manusia teori adalah pengetahuan yang ojektif,
2. Manusia ekinomi adalah manusia yang selalu kaya akan gagasan-gagasan yang praktis kurangg memperhatikan bentuk tindakan yang dilakukanya.
3. Manusia estetis adalah manusia yang menghayati kehidupan seakan-akan tidak sebagai pemain tetapi sebagaii penonton. Manusia estetis ini cenderung kearah individualis
.4. Manusia agama adalah menurut spinger inti dari halo keagamaan itu terletak dalam pecarian terhadap nilai tertinggi daripada keberadaan ini , siapa yang belum mantap akan hal ini belumlah mencapai apa yang seharusnya dikejarnya,, dia belum sembunyi dasar yang kuat bagi hidupnya.
5. Manusia sosial, sifat utama dari pada manusia golongan tipe ini adalah besar kebutuhanya akan ada resonansi dari semua manusia.nilai yang dipandangnya sebagai nilai yang palingtinggi adalah “cinta terhadap manusia” baik yang tertuju kepada individu tertentu maupun yang tertuju kepada kelompok manusia.
6. Manusia kuasa, manusia kuasa bertujuan untuk mengejar kesenangan dan kesadaran akan kekuasaanya sendiri.
c. diferensiansi tipe-tipe
Keenam tipe yang baru saja dikemukakan pencanreaanya itu adalah tipe-tipe pokok. Spranger tidak berhenti dengan mengemukakan tipe-tipe pokok itu saja, tetapi dia masih mengemukakan diferensiasi tipetipe dan kombinasi tipe-tipe.
B. ARTI TEORI SPANGER
1. Teori spranger walaupun banyak mengandung kelemahan, namun dalam kenyataanya besar pengaruknya. Banyak para ahli yang memilih teori spranger untuk bahan penyusunan konsepsinya. Pengaruh itu tidak terbatas pada lapanganpsikologi kepribadian saja, tapi juga meluas kepada psikologi yang lainya.
2. Disampi segi positifnya itu teori sepranger tidak luput dari kelemahan-kelemahan
Tipologi Spranger
1. Dua macam rohk (Geist)
Pertama-tama spranger membedakan adanya dua macam rokh (Geist), yaitu:
a) Rokh subjektif atau rokh individual, yaitu rokh yang terdapat pada manusia masing-masing (individu)
b) Rokh objektif atau rokh supra individual, yaitu rokh seluruh umat manusia, yang dalam keadaan konkritnya merupakan kebudayaan yang telah terjelma selama berabad-abad.
2. Hubungan antara rokh subjektif dan rokh abjektif
Rokh subjektif dan objektif itu berhubungan secara timbal balik. Rokh subjektif atau roh individual, yang mengandung nilai-nilai yang terdapat pada masing-masing individu, dibentuk dan dipupuk dengan rokh objektif, artinya rokh subjektif tersebut berbentuk dan berkembang dengan memakai rokh objektif sebagai norma.
3. Lapangan-lapangan hidup
Kebudayaan oleh Spranger dipandang sebagai sistem nilai-nilai, karena kebudayaan itu tidak lain adalah kumpulan nilai-nilai kebudayaan yang tersusun menurut sistem atau struktur tertentu.
a) Lapangan pengetahuan (ilmu, teori)
b) Lapangan ekonomi
c) Lapangan kesenian
d) Lapangan keagamaan
e) Lapangan kemasyarakatan
f) Lapanagan politik
KOGNITIF dan BAHASA
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Perkembangan merupakan perubahan yang bersifat kualitatif yaitu sifat perubahan yang tidak bisa diukur secara kuantiti tetapi ternyata peubahan sudah berlaku yang melihatkan sifat berlainan dari pada peringkat terdahulu. Perkembangan kognitif dan bahasa tidak berkembang dalam suatu situasi sosial yang hampa. Perkembangan kognitif terjadi secara bertahap dan dicirikan dengan gaya berfikir yang berbeda-beda. Bahasa merupakan urutan respon, atau sebuah imitasi. Bahasa dipahami dalam suatu urutan tertentu.
Oleh kerena itu, pada setiap taham di dalam tahap perkembangan, interaksi linguistik anak. Pekembangan pemahaman bahasa pada anak bukan hanya dipengaruhi oleh kondisi biologis anak, tetapi lingkungan bahasa disekitar anak sejak usia dini jauh lebih penting. Bahasa baru tampil ketika anak sudah mencapai tahap perkembanagn yang cukup maju. Pengalaman berbahasa anak tergantung pada tahap perkembangan kognitif saat itu,
Selain itu, anak-anak lahir dengan fungsi mental yang relatif dasar seperti kemampuan untuk memahami dunia luar dan memusatkan perhatian. Sehingga untuk dapat memahami perkembangan kognitif dan bahasa peserta didik maka pendidikan menyediakan organisasi dan alat-alat yang berguna bagi aktivitas kognitif seperti: sekolah, perguruan tinggi, dan instansi-instansi yang lain.
2. Permasalahan
1. Apa yang dimaksud dengan kognitif dan bahasa
2. Bagaimana perkembangan kognitif dan bahasa
3. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui tentang bagaimana perkembangan kognisi dan bahasa
2. Memahami konsep perkembangan kognisi dan bahasa
3. Mengetahui manfaat mempelajari perkembangan kognisi dan bahasa
PEMBAHASAN
A. PERKEMBANGAN KOGNITIF
1. Pengertian kognitif
Perkembangan kognitif merupakan salah satu perkembangan manusia yang berkaitan dengan pengetahuan, yakni semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individeu mempelajari dan memikirkan lingkungannya.
Menurut Drever (Kuper & Kuper, 2000) disebutkan bahwa ” kognisi adalah istilah umumyang mencakup segenap model pemahaman, yakni persepsi, imajinasi, penangkapan makna, penialain, dan penalaran”.
Sedangkan menurut Piaget (Hetherington & Parke, 1975) menyebutkan bahwa ” kognitif adalah bagaimana anak beradaptasi dan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian di sekitarnya”. Pieget memandang bahwa anak memainkan peran aktif di dalam menyusunpengetahuannya mengenai realitas, anak tidak pasif menerima informasi. Selanjutnya walaupun proses berpikir dan konsepsi anak mengenai realitas telah dimodifikasi oleh pengalamannya dengan dunia sekitar dia, namun anak juga aktif menginterpretasikan informasi yang ia peroleh dari pengalaman, serta dalam mengadaptasikannya pada pengetahuan dan konsepsi.
2. Teori Perkembangan Kognitif
Dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Untuk pengembangan teori ini, Piaget memperoleh Erasmus Prize. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:
• Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
• Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
• Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
• Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
a. Periode sensorimotor
Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:
1. Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
2. Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
3. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
4. Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
5. Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
6. Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.
b. Periode praoperasional
Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.
c. Periode operasional konkrit
Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:
Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.
d. Periode operasional formal
Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.
3. Informasi umum mengenai tahapan-tahapan
Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
• Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.
• Universal (tidak terkait budaya)
• Bisa digeneralisasi: representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan
• Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis
• Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi)
• Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif
4. Proses perkembangan
Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan lingkungan. Dengan berinteraksi tersebut, seseorang akan memperoleh skema. Skema berupa kategori pengetahuan yang membantu dalam menginterpretasi dan memahami dunia. Skema juga menggambarkan tindakan baik secara mental maupun fisik yang terlibat dalam memahami atau mengetahui sesuatu. Sehingga dalam pandangan Piaget, skema mencakup baik kategori pengetahuan maupun proses perolehan pengetahuan tersebut. Seiring dengan pengalamannya mengeksplorasi lingkungan, informasi yang baru didapatnya digunakan untuk memodifikasi, menambah, atau mengganti skema yang sebelumnya ada. Sebagai contoh, seorang anak mungkin memiliki skema tentang sejenis binatang, misalnya dengan burung. Bila pengalaman awal anak berkaitan dengan burung kenari, anak kemungkinan beranggapan bahwa semua burung adalah kecil, berwarna kuning, dan mencicit. Suatu saat, mungkin anak melihat seekor burung unta. Anak akan perlu memodifikasi skema yang ia miliki sebelumnya tentang burung untuk memasukkan jenis burung yang baru ini.
- Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya. Dalam contoh di atas, melihat burung kenari dan memberinya label "burung" adalah contoh mengasimilasi binatang itu pada skema burung si anak.
- Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali. Dalam contoh di atas, melihat burung unta dan mengubah skemanya tentang burung sebelum memberinya label "burung" adalah contoh mengakomodasi binatang itu pada skema burung si anak.
Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.
Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya.
5. Isu dalam perkembangan kognitif
Isu utama dalam perkembangan kognitif serupa dengan isu perkembangan psikologi secara umum.
a. Tahapan perkembangan
- Perbedaan kualitatif dan kuantitatif
Terdapat kontroversi terhadap pembagian tahapan perkembangan berdasarkan perbedaan kualitas atau kuantitas kognisi.
- Kontinuitas dan diskontinuitas
Kontroversi ini membahas apakah pembagian tahapan perkembangan merupakan proses yang berkelanjutan atau proses terputus pada tiap tahapannya.
- Homogenitas dari fungsi kognisi
Terdapat perbedaan kemampuan fungsi kognisi dari tiap individu
b. Natur dan nurture
Kontroversi natur dan nurtur berasal dari perbedaan antara filsafat nativisme dan filsafat empirisme. Nativisme mempercayai bahwa pada kemampuan otak manusia sejak lahir telah dipersiapkan untuk tugas-tugas kognitif. Empirisme mempercayai bahwa kemampuan kognisi merupakan hasil dari pengalaman.
c. Stabilitas dan kelenturan dari kecerdasan
Secara relatif kecerdasan seorang anak tetap stabil pada suatu derajat kecerdasan, namun terdapat perbedaan kemampuan kecerdasan seorang anak pada usia 3 tahun dibandingkan dengan usia 15 tahun.
6. Sudut pandang lain
Pada saat ini terdapat beberapa pendekatan yang berbeda untuk menjelaskan perkembangan kognitif.
a. Teori perkembangan kognitif neurosains
Kemajuan ilmu neurosains dan teknologi memungkinkan mengaitkan antara aktivitas otak dan perilaku. Biologis menjadi dasar dari pendekatan ini untuk menjelaskan perkembangan kognitif. Pendekatan ini memiliki tujuan untuk dapat mengantarai pertanyaan mengenai umat manusia yaitu :
- Apakah hubungan antara pemikiran dan tubuh, khususnya antara otak secara fisik dan mental proses
- Apakah filogeni atau ontogeni yang menjadi awal mula dari struktur biologis yang teratur
e. Teori Konstruksi pemikiran-sosial
Selain biologi, konteks sosial juga merupakan salah satu sudut pandang dari perkembangan kognitif. Perspektif ini menyatakan bahwa lingkungan sosial dan budaya akan memberikan pengaruh terbesar terhadap pembentukan kognisi dan pemikiran anak. Teori ini memiliki implikasi langsung pada dunia pendidikan. Teori Vygotsky menyatakan bahwa anak belajar secara aktif lebih baik daripada secara pasif. Tokoh-tokohnya diantaranya Lev Vygotsky, Albert Bandura, Michael Tomasello
f. Teori Theory of Mind (TOM)
Teori perkembangan kognitif ini percaya bahwa anak memiliki teori maupun skema mengenai dunianya yang menjadi dasar kognisinya. Tokoh dari ToM ini diantaranya adalah Andrew N. Meltzoff.
B. BAHASA
1. Pengertian bahasa
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri; percakapan (perkataan) yang baik, tingkah laku yang baik, sopan santun.Sumber : S.S, Daryanto. 1997. Kamus Besar Indonesia
2. Perkembangan bahasa dalam sejarah
Abad Permulaan bahasa merupakan perjanjian yang disengaja antar manusia. Pandangan ini dianut oleh aliran sofisme. Yang bertentangan dengan padangan ini adalah aliran stoicijn yang memandang bahasa sebagai kecakapan alamiah.
Pandangan Plato dan Aristoteles menjembatani kedua pandangan tersebut diatas. Filsafat bahasa sebagai suatu disiplin sendiri dalam filsafat baru timbul sejak Wilhelm Von Humboldt pada tahun 1966-1835. Dengan adanya perbandingan ilmu-ilmu bahasa, maka studi yang sistemtis mengenai susunan bahasa yaitu hubungan antara berpikir dan berbahasa antara fungsi ekspresi dan fungsi untuk melukiskan dalam berbahasa.
Bagi Psikologi yang sebagian berakar pada filsafat, maka bahasa sejak mula merupakan objek studi yang pokok. Para pioneer dalam psikologi perkembangan telah memberikan sumbangan yang sangat penting mengenai pengertian perkembangan bahasa.
Dengan bukunya Die Krise der Psychologie yang pada tahun 1965, Buhler ingin mengajukan kritik untuk dapat mengatasi krisis dalam psikologi. Ia mendasarkan diri pada arti kata Yunani Krino = Saya membedakan. Dia membuat teorinya yang merupakan reaksi yang beralasan terhadap pendekatan-pendekatan behavioristik serta pendekatan Wundt bersifat bewusst sein psychologysch. Wundt mendasarkan teori bahasanya pada aksiom parallel, artinya bahwa gerakan-gerakan fisik merupakan pernyataan gerakan-gerakan psikis, jadi paralelisme antara gejala batin dan gejala luar.
Buhler memberikan kritik terhadap pendapat Wundt ini. Wundt selanjutnya mengatakan ada perbedaan dalam gerakan-gerakan ekspresi hewan dan manusia. Bahasa yang terdiri dari suara-suara tadi berkembang menjadi sektor sendiri melepaskan dari gerakan-gerakan ekspresi.
Buhler menentukan 3 macam faktor yg menentukan dalam teori bahasa :
1. Appell, yaitu apabila kita ingin menyatakan sesuatu harus ada orang lain yang dapat dicapai oleh pernyataan tadi.
2. Ausdruck, yaitu bahasa mempunyai fungsi ekspresif.
3. Darstellung, yaitu bahasa memiliki fungsi untuk melukiskan sesuatu, meletakkan atau mengerti hubungan antara yang satu dengan ang lain, dapat memformulasi ide-ide.
Semantik menunjukkan adanya dwi – tunggal : Seorang yang memberikan tanda dan seorang yang menerima tanda atau si pemberi tanda dan si penerima tanda. Bahasa sebagai alat komunikasi mempunyai fungsi social. Fungsi sosialnya ada dalam semantik. Bahasa selalu termasuk dalam jaringan social dan bahasa mempunyai fungsi – fungsi ekspresif.
3. Keadaan sekitar 1965
Ahli linguistic Chomsky tahun 1959 mengenai “Verbal Behavior” nya Skinner mempublikasikan bukunya “Syntactic Structuress” dalam publikasi ini banyak diskusi, hasil-hasil penelitian di tinjau dari sudut pandangan yang lain, penelitian-penelitian baru mulai diadakan dan pandngan-pandangan baru yang berbeda-beda timbul. Chomsky tidak hanya menyelidiki :
1. Perkembangan bahasa
2. Epistemologi filsafat
3. Perkembangan kognitif
Berdasarkan Ceramah Frank Kessel 28–10-1974 maka perhatian pada sekitar tahun 1965 tertuju pada hal-hal dan pernyataan-pernyataan :
1. Sintaksis anak
2. Produksi kata-kata anak
3. Muncul pengertian : perkembangan bahasa yang sesungguhnya dimulai sekitar umur 1½ tahun selesai pada kurang lebih tahun ke 4 dan ke 5
4. Kemungkinan linguistik apa ? ; struktur semantik apa ?
5. Apakah ada stadium-stadium yang universal dalam bahasa ?
6. Keyakinan bahwa peranan lingkungan sangat kecil dalam perkembangan bahasa
7. Perhatian ditujukan pada bahasa egosentrik anak
8. Timbul Head Start Project
Perlu dikemukakan bahwa dari kedelapan hal yang dikemukakan tersebut masih ada satu yang menjadi pusat perhatian : kemungkinan-kemungkinan linguistik dan yang berhubungan dengan itu : struktur semantik, perkembangan semantik, dan arti bahasanya.
4. Pandangan yang Nativisme
Menurut pandangan yang nativistik atau organismis maka struktur bahasa telah ditentukan secara biologis. Tokoh yang penting dari pandangan ini adalah ahli linguistic : Chomsky. Masih sedikit penelitian yang menguji hipotesis ini. Pendapat ini didukung oleh hasil penelitian :
1. Penelitian mengenai timbulnya kalimat negative pertama
2. Bentuk pertanyaan pertama
3. Penelitian mengenai relasi dasar tata bahasa
Mengenai butir yang pertama, dapat dikatakan bahwa pada kalimat pertama yang berstruktur tata bahasa sudah ada kalimat negatifnya. Misalnya suatu kalimat yang menunjukkan sesuatu diberi suatu morfeem yang menunjukkan negasi, misalnya kalimat : makan pisang diberi morfeem tidak menjadi atau tidak makan pisang. Di duga bahwa pada bahasa-bahasa lain juga terdapat cara pengingkaran seperti itu. Peningkatan dalam bahasa anak mempunyai persamaan dengan pengingkaran yang terdapat pada struktur dalam atau struktur inti kalimat orang dewasa.
Mengenai butir yang kedua kalimat pertanyaan juga sudah nampak dalam perkembangan bahasa anak sejak awal. Dalam sementara buku pelajaran masih dikemukakan bahwa umur 3 tahun dianggap sebagai umur bertanya, karena sekitar umur ini anak selalu ingin bertanya dan selalu ingin mengerti segalanya, mengapa itu, begini atau begitu. Juga dalam hal ini bentuk kalimat pertanyaannya menunjukkan persamaan dengan struktur dalam atau struktur inti kalimat orang dewasa.
Mengenai butir yang ketiga, pertanyaan yang tetap mengenai fungsi bagian kalimatnya, baru dapat dilakukan bila bagian itu mempunyai hubungan dengan struktur dalamnya suatu kalimat. Dari struktur luarnya atau struktur permukaannya, fungsi-fungsi tersebut belum dalam diketahui. Dalam hubungan ini telah diadakan analisis mengenai berbagai relasi dalam tata bahasa yang selalu ada hubungannya dengan struktur dalamnya suatu kalimat yang diduga bersifat universal bagi bahasa yang berbeda-beda.
5. Pandangan Empiris
Pandangan ini bertitik tolak pada pendapat bahwa anak dilahirkan tidak membawa kemampuan apa-apa. Ia masih perlu banyak belajar, juga belajar berbahasa yang dilakukan anak melalui imitasi, belajar model, belajar dgn reinforcement (Skinner), teori stimulus respons untuk menerangkan perkembangan bahasa teori belajar sosial (Bandura), mencoba menerangkannya dari sudut pandangan teori sosial belajarnya. Dia berpendapat bahwa anak belajar bahasa karena menirukan suatu model. Tingkah laku imitasi ini tidak mesti harus menerima reinforcement, sebab belajar model dalam prinsipnya lepas dari reinforcement dari luar. Pendapat–pendapat ini belum dapat menerangkan mengapa anak-anak pada suatu saat membuat kalimat-kalimat baru yang belum pernah dibuat sebelumnya dan mengapa anak membuat suara-suara baru dalam awal perkembangan bahasa yang tidak dipelajari melalui imitasi dari luar.
Memang teori belajar dapat memberikan pengertian mengenai peranan interaksi antara ibu dengan anaknya yang sedang belajar bahasa, interaksi bahasa antara ibu dan anak menentukan apakah anak dapat meluaskan kompetensi bahasanya atau tetap tinggal pada kompetensi yang relatif sederhana, anak belajar untuk meluaskan kalimat.
Piaget dengan teori interaksinya menitikberatkan akan aktivitas anak, akan sikap manipulasi dengan benda-benda. Anak bertingkah laku aktif dengan sekeliling atas dasar struktur pengertian yang sudah ada, anak mendapat pandangan baru, struktur pengertian baru.
6. Pandangan Ekologi
Satu peran lingkungan yang membangkitkan rasa ingin tahu dalam penguasaan bahasa pada anak kecil disebut motherese, yakni cara Ibu dan orang dewasa sering berbicara pada bayi dengan frekuensi dan hubungan yang lebih luas daripada normalnya, dan dengan kalimat-kalimat yang sederhana. Sulitnya berbicara dengan cara ini apabila tidak ada bayi. Tetapi segera Anda mulai berbicara dengan seorang bayi, Anda segera mengubah gaya bicara Anda menjadi cara Ibu. Banyak diantara cara berbicara ini bersifat otomatis dan sesuatu yang kebanyakan orang tua tidak menyadari apa yang sedang mereka lakukan. Cara Ibu berbicara dengan bayi memiliki fungsi menarik perhatian bayi dan terus menjaga terjadinya komunikasi. Ketika orang tua ditanyakan mengapa mereka menggunakan cara berbicara bayi mereka mengatakan bahwa cara berbicara bayi itu dirancang untuk mengajarkan bayi mereka berbicara. Teman-teman sebaya bayi yang lebih besar juga berbicara dengan cara berbicara bayi dengan bayi lain walaupun pengamatan terhadap saudara-saudara kandung menunjukkan bahwa gambaran afeksional berkurang ketika muncul persaingan saudara kandung.
Ada strategi lain selain cara berbicara ibu dengan bayi (motherese) yang digunakan oleh orang dewasa untuk memperkaya penguasaan bahasa anak. Strategi itu adalah: pertama, menyusun ulang (recasting), kedua, menggemakan (echoing), ketiga memperluas (expanding), dan yang terakhir adalah memberi nama (labelling). Menyusun ulang adalah pengucapan makna suatu kalimat yang sama atau yang mirip dengan cara yang berbeda, barangkali dengan mengubahnya menjadi suatu pertanyaan. Menggemakan ialah mengulangi apa yang anak katakan kepada Anda, khususnya kalau perkataan itu adalah suatu ungkapan atau kalimat yang tidak sempurna. Memperluas ialah menyatakan ulang apa yang telah anak katakan dalam bahasa yang secara linguistik “canggih”. Memberi nama ialah mengidentifikasi nama-nama benda. Penggunaan labelling ini sering dilakukan oleh orang tua ketika mereka mencoba mengidentifikasi apa yang bayi lakukan saat ini.
Chomsky mengatakan, kalau pencapaian linguistik anak-anak pada ummnya terlalu besar untuk bisa dijelaskan jika kita beranggapan hal itu diajarkan oleh lingkungan. Menurutnya, membandingkan perkembangan gramatika dengan pertumbuhan organ-organ fisik, seperti jantung atau alat-alat penglihatan embrionik. Disini sangat jelas kalau struktur-struktur yang muncul terlalu rumit untuk bisa dijelaskan hanya lewat masukan lingkungan (seperti oxygen atau nutrisi). Lingkungan memang vital, namun ia hanya mendukung atau mengaktifkan pola-pola yang secara intrinsik sudah ditentukan. Dengan cara yang sama sederhananya, lingkungan linguistik utamanya memacu pengkonstruksian sistem-sistem gramatika yang polanya sudah ditentukan oleh cetak biru genetik manusia.
Menurut Chomsky, penyiapan parameter oleh anak ini bukanlah masalah yang sulit, sama seperti kita menyiapkan pergantian + atau -. Selain itu, jumlah pergantian yang harus disiapkan juga tidak banyak. Karena itu, persyaratan gramatika yang dibutuhkan hanyalah sejumlah kecil masukan dari lingkungan.
7. Pandangan Behavior
Para pakar perilaku memandang bahasa sama seperti perilaku lainnya, misalnya duduk, berjalan, atau berlari. Mereka berpendapat bahwa bahasa hanya merupakan urutan respon atau sebuah imitasi. Tetapi banyak diantara kaliamat yang kita hasilkan adalah baru; kita tidak mendengarnya atau membicarakannya sebelumnya. Misalnya seorang anak mendengar kalimat “piring jatuh ke lantai” dan kemudian mengatakan “cerminku jatuh ke selimut”, setelah menjatuhkan cermin ke atas selimut. Mekanisme penguatan dan imitasi perilaku tidak dapat secara sempurna menjelaskan hal ini.
8. Pandangan Kognitif
Pada dasawarsa yang lalu, suatu pemahaman baru tentang perkembanan kognitif bayi mulai berkembang. Selama bertahun-tahun, landasan Piaget begutu dikenal dan dihargai secara luas sehingga banyak psikolog berkesimpulan : bayi manusia melampaui suatu periode yang panjang dan berkelanjutan dimana mereka masih belum dapat berpikir. Bayi dapat mengenal benda-benda dan tersenyum kepada benda-benda itu, merangkak dan memanipulasi benda-benda, tetapi bayi belum memiliki konsep dan gagasan atas benda-benda itu. Piaget yakin bahwa ketika bayi mulai memasuki tahap akhir perkembangan sensori motorik pada kira-kira usia 1,5 hingga 2 tahun barulah bayi benar-benar belajar bagaimana mengenali dunia sekitarnya secara simbolis dan konseptual.
9. Permulaan bicara : meraban ( mengoceh)
Suara pertama yang dilakukan anak adalah jerit tangis pada waktu dilahirkan. Tangis pertama ini berguna untuk memungkinkan anak dapat bernapas, karena mulai saat itu anak harus bernapas sendiri.
Suara-suara yang dikeluarkan anak dapat dibedakan antara suara tangisan dan ocehan. Tangis menunjukkan keadaan tidak senang, sedangkan ocehan menunjukkan rasa senang dan kepuasan. Tangis merupakan appel dan ekspresi menurut Buhler. Tangis bukan gejala yang berdiri sendiri, tangis adalah tingkah laku refleks terhadap sesuatu karena menunjukkan ketidaknyamanan, sekaligus menginginkan reaksi sekelilingnya.
Van Ginneken (1917) dalam bukunya Roman Van een Kleuter menceritakan mengenai Keesje bahwa suara-suara pertama huruf hidup / vocal, tangis terletak pada dasar vokalisasi, ketawa pada dasar artikulasi.
Gregori ( 1937) dalam bukunya Liapprentissge du Lagage bahwa suara pertama a, i, u, e, o . Alat fonetiknya masih sangat rudimenter. Kedua tokoh tersebut berpendapat bahwa bahasa mempunyai dasar fisiologis. Suara-suara pertama oleh kedua tokoh tersebut dianggap mempunyai dasar fisiologis-biologis merupakan proses emosional karena rasa nyaman dan tidak nyaman tadi memang ditentukan oleh faktor-faktor fisiologis, namun mempunyai arti emosional juga. Meraban dimulai umur 3 bulan diakhiri 9 – 12 bulan. Meraban atau mengoceh mempunyai variasi yang lebih banyak daripada menangis, mulai bulan ke-6 ocehan mempunyai fungsi komunikatif, ada waktu istirahat ± 4 minggu dari ocehan bisa menjadi ocehan yang bersifat komuniktif. Pada umumnya ±10 bulan anak mulai menirukan kata-kata.
10. Kalimat satu kata dan kalimat dua kata
Satu kata yang diucapkan anak harus dianggap sebagai satu kalimat penuh, contoh : kursi diartikan “saya mau duduk di kursi”. Kata-kata pertama anak tidak bisa dipandang sebagai penyebutan objek murni, mereka mempunyai isi psikologis yang bersifat intelektual, emosional, volisional (anak menunjukkan mau dan tidak mau akan hal sesuatu). ± 6 bulan fonem-fonem ini digabung menjadi kombinasi suara yang kompleks. Kombinasi itu terutama dilakukan dengan bibir dan ujung lidah contoh : ma - ma ; ba – ba ; da – da. ± Bulan ke-18 dan ke-20 datang kalimat dua kata yang pertama. Ada dua kelompok kata spesifik yaitu pivot dan kata terbuka
1. Pivot : kata-kata yang sering dipakai anak.
2. Kata terbuka : kata-kata yang tidak sering dipakai anak, ditambah kata-kata baru.
Contoh :
Pivot Terbuka
Gi (pergi)
Gi (pergi)
Gi (pergi) Susu
Mama
oto
“Gi susu” : anak tidak mau minum susu lagi
“Gi mama” : anak ingin pergi dengan mamanya
“Gi oto” : otonya baru saja pergi
Dalam kalimat dua kata yang penting adalah intensitas semantiknya ( arti daripada apa yang dimaksudkan).
11. Kalimat Tiga Kata
Dari kalimat tiga kata dalam arti struktural mula-mula masih mirip dengan kalimat dua kata. Perubahan ini terjadi ± antara bulan ke-24 dan ke-30. Segera terjadi differensiasi dalam kelompok kata-kata. Struktur sintaksis pendapat arti yang makin besar (rangkaian kata-kata dalam kalimat serta berubahnya kata-kata. Urutan kata-kata relatif konstan.
Menurut Schaerlaekens (1977) maka periode kalimat-satu-kata disebut pra-lingual, Kemudian datang periode lingual awal dari 1 tahun sampai dengan lebih kurang 2 ½ tahun ( periode kalimat dua kata). Dan akhirnya mulai kurang lebih 2½ tahun datanglah periode defferensiasi ( periode kalimat tiga kata dengan bertambahnya differensiasi pada kelompok kata dan kecakapan verbal).
12. Penelitian Mengenai Kecakapan Berbahasa
Penelitian yang dilakukan oleh Buhler dan lain-lain yang berwujud observasi mengenai bahasa anak, sekarang terdapat alat-alat baru untuk menyelidiki kecakapan bahasa pada anak. Misalnya sekarang ada kemungkinan untuk menyelidiki seberapa jauh anak mampu untuk menirukan bahasa orang dewasa. Disini akan dibedakan adanya 2 macam peniruan :
1. Peniruan spontan bahasa orang lain, biasanya bahasa orang tua.
2. Peniruan yg dilakukan anak sesudah anak menerima tugas untuk melakukan itu
Hasil umum mengenai tes semacam itu adalah bahwa anak lebih pandai untuk mengadakan imitasi daripada mengerti kalimat dan bahwa kecakapan untuk mengerti tadi lebih tinggi daripada kecakapan untuk memproduksi kalimat-kalimat sendiri.Penelitian bahasa pada umumnya dibedakan antara :
1. Perkembangan fonologis – atau penguasaan sistem suara atau bunyi
2. Perkembangan morfologis – atau penguasaan pembentukan kata-kata
3. Perkembangan sintaksis – atau pernapasan tata bahasa
4. Perkembangan leksikal – penguasaan dan perluasan kekayaan kata-kata serta pengetahun mengenai arti kata-kata.
5. Perkembangan semantis – atau penguasaan arti bahasa
13. Perkembangan Semantik
Menghitung atau mengobservasi kuantitatif mengenai pertumbuhan kekayaan bahasa anak tidak dapat banyak memberikan pengertian akan perkembangan semantisnya. Alasan :
1. Sebuah kata baru dalam bahasa anak tidak memberikan pengertian apa-apa mengenai arti kata itu bagi anak.
2. Kekayaan kata-kata hanya merupakan satu daftar kata-kata saja karena relasinya antara arti kata-kata itu menentukan arti kalimatnya
3. Penelitian mengenai kekayaan kata-kata belum memberikan pengertian mengenai proses yang dapat merubah arti kata- kata menjadi arti kalimat.
Hambatan yang paling besar dalam penelitian mengenai perkembangan semantis terletak pada kenyataan bahwa kompetensi semantis bahasa orang dewasa sampai sekarang hampir tidak dimengerti hingga belum ada titik referensi yang betul-betul untuk meneliti perkembangan semantik.
Referential theory atau teori relasi teori ini hampir tidak bisa menerangkan bagaimana seorang belajar kata-kata dan arti kata-kata. Contoh : “tetapi” dan “karena” relasi atau maksud yang ada dalam suatu kata tertentu juga dapat di intepretasi macam-macam oleh orang yang berbeda. Teori tingkah laku arti suatu kata itu ditentukan atau tergantung pada reaksi-reaksi orang yang mendengar kata tersebut.
Sebagian besar informasi mengenai perkembangan semantik di dapatkan tidak dengan eksperimen-eksperimen yang dikontrol, melainkan datang dari observasi-observasi pada psikolog dan para ahli linguistik mengenai anak-anak mereka sendiri.
Masalah arti kata-kata pada hakekatnya merupakan masalah informasi pengertian. Ada beberapa macam kesalahan :
1. Anak menggunakan kata-kata pada keadaan yang tidak tepat
2. Ia tidak mampu menggunakan kata tertentu pada suatu situasi yang sama
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Prof. DR. HJ. Samsunumiyati, “Psikologi Perkembangan”, PT Remaja Rosda Karya , Bandung
Drs. H. Ahmad Fauzi, “Psikologi Umum”, Pustaka Setia, Bandung
Conny Semiawan, dkk. “Pengenalan dan Pengembangan Bakat Sejak Dini” PT Remaja Rosda Karya , Bandung
1. Latar Belakang
Perkembangan merupakan perubahan yang bersifat kualitatif yaitu sifat perubahan yang tidak bisa diukur secara kuantiti tetapi ternyata peubahan sudah berlaku yang melihatkan sifat berlainan dari pada peringkat terdahulu. Perkembangan kognitif dan bahasa tidak berkembang dalam suatu situasi sosial yang hampa. Perkembangan kognitif terjadi secara bertahap dan dicirikan dengan gaya berfikir yang berbeda-beda. Bahasa merupakan urutan respon, atau sebuah imitasi. Bahasa dipahami dalam suatu urutan tertentu.
Oleh kerena itu, pada setiap taham di dalam tahap perkembangan, interaksi linguistik anak. Pekembangan pemahaman bahasa pada anak bukan hanya dipengaruhi oleh kondisi biologis anak, tetapi lingkungan bahasa disekitar anak sejak usia dini jauh lebih penting. Bahasa baru tampil ketika anak sudah mencapai tahap perkembanagn yang cukup maju. Pengalaman berbahasa anak tergantung pada tahap perkembangan kognitif saat itu,
Selain itu, anak-anak lahir dengan fungsi mental yang relatif dasar seperti kemampuan untuk memahami dunia luar dan memusatkan perhatian. Sehingga untuk dapat memahami perkembangan kognitif dan bahasa peserta didik maka pendidikan menyediakan organisasi dan alat-alat yang berguna bagi aktivitas kognitif seperti: sekolah, perguruan tinggi, dan instansi-instansi yang lain.
2. Permasalahan
1. Apa yang dimaksud dengan kognitif dan bahasa
2. Bagaimana perkembangan kognitif dan bahasa
3. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui tentang bagaimana perkembangan kognisi dan bahasa
2. Memahami konsep perkembangan kognisi dan bahasa
3. Mengetahui manfaat mempelajari perkembangan kognisi dan bahasa
PEMBAHASAN
A. PERKEMBANGAN KOGNITIF
1. Pengertian kognitif
Perkembangan kognitif merupakan salah satu perkembangan manusia yang berkaitan dengan pengetahuan, yakni semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individeu mempelajari dan memikirkan lingkungannya.
Menurut Drever (Kuper & Kuper, 2000) disebutkan bahwa ” kognisi adalah istilah umumyang mencakup segenap model pemahaman, yakni persepsi, imajinasi, penangkapan makna, penialain, dan penalaran”.
Sedangkan menurut Piaget (Hetherington & Parke, 1975) menyebutkan bahwa ” kognitif adalah bagaimana anak beradaptasi dan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian di sekitarnya”. Pieget memandang bahwa anak memainkan peran aktif di dalam menyusunpengetahuannya mengenai realitas, anak tidak pasif menerima informasi. Selanjutnya walaupun proses berpikir dan konsepsi anak mengenai realitas telah dimodifikasi oleh pengalamannya dengan dunia sekitar dia, namun anak juga aktif menginterpretasikan informasi yang ia peroleh dari pengalaman, serta dalam mengadaptasikannya pada pengetahuan dan konsepsi.
2. Teori Perkembangan Kognitif
Dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Untuk pengembangan teori ini, Piaget memperoleh Erasmus Prize. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:
• Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
• Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
• Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
• Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
a. Periode sensorimotor
Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:
1. Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
2. Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
3. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
4. Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
5. Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
6. Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.
b. Periode praoperasional
Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.
c. Periode operasional konkrit
Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:
Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.
d. Periode operasional formal
Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.
3. Informasi umum mengenai tahapan-tahapan
Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
• Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.
• Universal (tidak terkait budaya)
• Bisa digeneralisasi: representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan
• Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis
• Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi)
• Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif
4. Proses perkembangan
Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan lingkungan. Dengan berinteraksi tersebut, seseorang akan memperoleh skema. Skema berupa kategori pengetahuan yang membantu dalam menginterpretasi dan memahami dunia. Skema juga menggambarkan tindakan baik secara mental maupun fisik yang terlibat dalam memahami atau mengetahui sesuatu. Sehingga dalam pandangan Piaget, skema mencakup baik kategori pengetahuan maupun proses perolehan pengetahuan tersebut. Seiring dengan pengalamannya mengeksplorasi lingkungan, informasi yang baru didapatnya digunakan untuk memodifikasi, menambah, atau mengganti skema yang sebelumnya ada. Sebagai contoh, seorang anak mungkin memiliki skema tentang sejenis binatang, misalnya dengan burung. Bila pengalaman awal anak berkaitan dengan burung kenari, anak kemungkinan beranggapan bahwa semua burung adalah kecil, berwarna kuning, dan mencicit. Suatu saat, mungkin anak melihat seekor burung unta. Anak akan perlu memodifikasi skema yang ia miliki sebelumnya tentang burung untuk memasukkan jenis burung yang baru ini.
- Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya. Dalam contoh di atas, melihat burung kenari dan memberinya label "burung" adalah contoh mengasimilasi binatang itu pada skema burung si anak.
- Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali. Dalam contoh di atas, melihat burung unta dan mengubah skemanya tentang burung sebelum memberinya label "burung" adalah contoh mengakomodasi binatang itu pada skema burung si anak.
Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.
Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya.
5. Isu dalam perkembangan kognitif
Isu utama dalam perkembangan kognitif serupa dengan isu perkembangan psikologi secara umum.
a. Tahapan perkembangan
- Perbedaan kualitatif dan kuantitatif
Terdapat kontroversi terhadap pembagian tahapan perkembangan berdasarkan perbedaan kualitas atau kuantitas kognisi.
- Kontinuitas dan diskontinuitas
Kontroversi ini membahas apakah pembagian tahapan perkembangan merupakan proses yang berkelanjutan atau proses terputus pada tiap tahapannya.
- Homogenitas dari fungsi kognisi
Terdapat perbedaan kemampuan fungsi kognisi dari tiap individu
b. Natur dan nurture
Kontroversi natur dan nurtur berasal dari perbedaan antara filsafat nativisme dan filsafat empirisme. Nativisme mempercayai bahwa pada kemampuan otak manusia sejak lahir telah dipersiapkan untuk tugas-tugas kognitif. Empirisme mempercayai bahwa kemampuan kognisi merupakan hasil dari pengalaman.
c. Stabilitas dan kelenturan dari kecerdasan
Secara relatif kecerdasan seorang anak tetap stabil pada suatu derajat kecerdasan, namun terdapat perbedaan kemampuan kecerdasan seorang anak pada usia 3 tahun dibandingkan dengan usia 15 tahun.
6. Sudut pandang lain
Pada saat ini terdapat beberapa pendekatan yang berbeda untuk menjelaskan perkembangan kognitif.
a. Teori perkembangan kognitif neurosains
Kemajuan ilmu neurosains dan teknologi memungkinkan mengaitkan antara aktivitas otak dan perilaku. Biologis menjadi dasar dari pendekatan ini untuk menjelaskan perkembangan kognitif. Pendekatan ini memiliki tujuan untuk dapat mengantarai pertanyaan mengenai umat manusia yaitu :
- Apakah hubungan antara pemikiran dan tubuh, khususnya antara otak secara fisik dan mental proses
- Apakah filogeni atau ontogeni yang menjadi awal mula dari struktur biologis yang teratur
e. Teori Konstruksi pemikiran-sosial
Selain biologi, konteks sosial juga merupakan salah satu sudut pandang dari perkembangan kognitif. Perspektif ini menyatakan bahwa lingkungan sosial dan budaya akan memberikan pengaruh terbesar terhadap pembentukan kognisi dan pemikiran anak. Teori ini memiliki implikasi langsung pada dunia pendidikan. Teori Vygotsky menyatakan bahwa anak belajar secara aktif lebih baik daripada secara pasif. Tokoh-tokohnya diantaranya Lev Vygotsky, Albert Bandura, Michael Tomasello
f. Teori Theory of Mind (TOM)
Teori perkembangan kognitif ini percaya bahwa anak memiliki teori maupun skema mengenai dunianya yang menjadi dasar kognisinya. Tokoh dari ToM ini diantaranya adalah Andrew N. Meltzoff.
B. BAHASA
1. Pengertian bahasa
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri; percakapan (perkataan) yang baik, tingkah laku yang baik, sopan santun.Sumber : S.S, Daryanto. 1997. Kamus Besar Indonesia
2. Perkembangan bahasa dalam sejarah
Abad Permulaan bahasa merupakan perjanjian yang disengaja antar manusia. Pandangan ini dianut oleh aliran sofisme. Yang bertentangan dengan padangan ini adalah aliran stoicijn yang memandang bahasa sebagai kecakapan alamiah.
Pandangan Plato dan Aristoteles menjembatani kedua pandangan tersebut diatas. Filsafat bahasa sebagai suatu disiplin sendiri dalam filsafat baru timbul sejak Wilhelm Von Humboldt pada tahun 1966-1835. Dengan adanya perbandingan ilmu-ilmu bahasa, maka studi yang sistemtis mengenai susunan bahasa yaitu hubungan antara berpikir dan berbahasa antara fungsi ekspresi dan fungsi untuk melukiskan dalam berbahasa.
Bagi Psikologi yang sebagian berakar pada filsafat, maka bahasa sejak mula merupakan objek studi yang pokok. Para pioneer dalam psikologi perkembangan telah memberikan sumbangan yang sangat penting mengenai pengertian perkembangan bahasa.
Dengan bukunya Die Krise der Psychologie yang pada tahun 1965, Buhler ingin mengajukan kritik untuk dapat mengatasi krisis dalam psikologi. Ia mendasarkan diri pada arti kata Yunani Krino = Saya membedakan. Dia membuat teorinya yang merupakan reaksi yang beralasan terhadap pendekatan-pendekatan behavioristik serta pendekatan Wundt bersifat bewusst sein psychologysch. Wundt mendasarkan teori bahasanya pada aksiom parallel, artinya bahwa gerakan-gerakan fisik merupakan pernyataan gerakan-gerakan psikis, jadi paralelisme antara gejala batin dan gejala luar.
Buhler memberikan kritik terhadap pendapat Wundt ini. Wundt selanjutnya mengatakan ada perbedaan dalam gerakan-gerakan ekspresi hewan dan manusia. Bahasa yang terdiri dari suara-suara tadi berkembang menjadi sektor sendiri melepaskan dari gerakan-gerakan ekspresi.
Buhler menentukan 3 macam faktor yg menentukan dalam teori bahasa :
1. Appell, yaitu apabila kita ingin menyatakan sesuatu harus ada orang lain yang dapat dicapai oleh pernyataan tadi.
2. Ausdruck, yaitu bahasa mempunyai fungsi ekspresif.
3. Darstellung, yaitu bahasa memiliki fungsi untuk melukiskan sesuatu, meletakkan atau mengerti hubungan antara yang satu dengan ang lain, dapat memformulasi ide-ide.
Semantik menunjukkan adanya dwi – tunggal : Seorang yang memberikan tanda dan seorang yang menerima tanda atau si pemberi tanda dan si penerima tanda. Bahasa sebagai alat komunikasi mempunyai fungsi social. Fungsi sosialnya ada dalam semantik. Bahasa selalu termasuk dalam jaringan social dan bahasa mempunyai fungsi – fungsi ekspresif.
3. Keadaan sekitar 1965
Ahli linguistic Chomsky tahun 1959 mengenai “Verbal Behavior” nya Skinner mempublikasikan bukunya “Syntactic Structuress” dalam publikasi ini banyak diskusi, hasil-hasil penelitian di tinjau dari sudut pandangan yang lain, penelitian-penelitian baru mulai diadakan dan pandngan-pandangan baru yang berbeda-beda timbul. Chomsky tidak hanya menyelidiki :
1. Perkembangan bahasa
2. Epistemologi filsafat
3. Perkembangan kognitif
Berdasarkan Ceramah Frank Kessel 28–10-1974 maka perhatian pada sekitar tahun 1965 tertuju pada hal-hal dan pernyataan-pernyataan :
1. Sintaksis anak
2. Produksi kata-kata anak
3. Muncul pengertian : perkembangan bahasa yang sesungguhnya dimulai sekitar umur 1½ tahun selesai pada kurang lebih tahun ke 4 dan ke 5
4. Kemungkinan linguistik apa ? ; struktur semantik apa ?
5. Apakah ada stadium-stadium yang universal dalam bahasa ?
6. Keyakinan bahwa peranan lingkungan sangat kecil dalam perkembangan bahasa
7. Perhatian ditujukan pada bahasa egosentrik anak
8. Timbul Head Start Project
Perlu dikemukakan bahwa dari kedelapan hal yang dikemukakan tersebut masih ada satu yang menjadi pusat perhatian : kemungkinan-kemungkinan linguistik dan yang berhubungan dengan itu : struktur semantik, perkembangan semantik, dan arti bahasanya.
4. Pandangan yang Nativisme
Menurut pandangan yang nativistik atau organismis maka struktur bahasa telah ditentukan secara biologis. Tokoh yang penting dari pandangan ini adalah ahli linguistic : Chomsky. Masih sedikit penelitian yang menguji hipotesis ini. Pendapat ini didukung oleh hasil penelitian :
1. Penelitian mengenai timbulnya kalimat negative pertama
2. Bentuk pertanyaan pertama
3. Penelitian mengenai relasi dasar tata bahasa
Mengenai butir yang pertama, dapat dikatakan bahwa pada kalimat pertama yang berstruktur tata bahasa sudah ada kalimat negatifnya. Misalnya suatu kalimat yang menunjukkan sesuatu diberi suatu morfeem yang menunjukkan negasi, misalnya kalimat : makan pisang diberi morfeem tidak menjadi atau tidak makan pisang. Di duga bahwa pada bahasa-bahasa lain juga terdapat cara pengingkaran seperti itu. Peningkatan dalam bahasa anak mempunyai persamaan dengan pengingkaran yang terdapat pada struktur dalam atau struktur inti kalimat orang dewasa.
Mengenai butir yang kedua kalimat pertanyaan juga sudah nampak dalam perkembangan bahasa anak sejak awal. Dalam sementara buku pelajaran masih dikemukakan bahwa umur 3 tahun dianggap sebagai umur bertanya, karena sekitar umur ini anak selalu ingin bertanya dan selalu ingin mengerti segalanya, mengapa itu, begini atau begitu. Juga dalam hal ini bentuk kalimat pertanyaannya menunjukkan persamaan dengan struktur dalam atau struktur inti kalimat orang dewasa.
Mengenai butir yang ketiga, pertanyaan yang tetap mengenai fungsi bagian kalimatnya, baru dapat dilakukan bila bagian itu mempunyai hubungan dengan struktur dalamnya suatu kalimat. Dari struktur luarnya atau struktur permukaannya, fungsi-fungsi tersebut belum dalam diketahui. Dalam hubungan ini telah diadakan analisis mengenai berbagai relasi dalam tata bahasa yang selalu ada hubungannya dengan struktur dalamnya suatu kalimat yang diduga bersifat universal bagi bahasa yang berbeda-beda.
5. Pandangan Empiris
Pandangan ini bertitik tolak pada pendapat bahwa anak dilahirkan tidak membawa kemampuan apa-apa. Ia masih perlu banyak belajar, juga belajar berbahasa yang dilakukan anak melalui imitasi, belajar model, belajar dgn reinforcement (Skinner), teori stimulus respons untuk menerangkan perkembangan bahasa teori belajar sosial (Bandura), mencoba menerangkannya dari sudut pandangan teori sosial belajarnya. Dia berpendapat bahwa anak belajar bahasa karena menirukan suatu model. Tingkah laku imitasi ini tidak mesti harus menerima reinforcement, sebab belajar model dalam prinsipnya lepas dari reinforcement dari luar. Pendapat–pendapat ini belum dapat menerangkan mengapa anak-anak pada suatu saat membuat kalimat-kalimat baru yang belum pernah dibuat sebelumnya dan mengapa anak membuat suara-suara baru dalam awal perkembangan bahasa yang tidak dipelajari melalui imitasi dari luar.
Memang teori belajar dapat memberikan pengertian mengenai peranan interaksi antara ibu dengan anaknya yang sedang belajar bahasa, interaksi bahasa antara ibu dan anak menentukan apakah anak dapat meluaskan kompetensi bahasanya atau tetap tinggal pada kompetensi yang relatif sederhana, anak belajar untuk meluaskan kalimat.
Piaget dengan teori interaksinya menitikberatkan akan aktivitas anak, akan sikap manipulasi dengan benda-benda. Anak bertingkah laku aktif dengan sekeliling atas dasar struktur pengertian yang sudah ada, anak mendapat pandangan baru, struktur pengertian baru.
6. Pandangan Ekologi
Satu peran lingkungan yang membangkitkan rasa ingin tahu dalam penguasaan bahasa pada anak kecil disebut motherese, yakni cara Ibu dan orang dewasa sering berbicara pada bayi dengan frekuensi dan hubungan yang lebih luas daripada normalnya, dan dengan kalimat-kalimat yang sederhana. Sulitnya berbicara dengan cara ini apabila tidak ada bayi. Tetapi segera Anda mulai berbicara dengan seorang bayi, Anda segera mengubah gaya bicara Anda menjadi cara Ibu. Banyak diantara cara berbicara ini bersifat otomatis dan sesuatu yang kebanyakan orang tua tidak menyadari apa yang sedang mereka lakukan. Cara Ibu berbicara dengan bayi memiliki fungsi menarik perhatian bayi dan terus menjaga terjadinya komunikasi. Ketika orang tua ditanyakan mengapa mereka menggunakan cara berbicara bayi mereka mengatakan bahwa cara berbicara bayi itu dirancang untuk mengajarkan bayi mereka berbicara. Teman-teman sebaya bayi yang lebih besar juga berbicara dengan cara berbicara bayi dengan bayi lain walaupun pengamatan terhadap saudara-saudara kandung menunjukkan bahwa gambaran afeksional berkurang ketika muncul persaingan saudara kandung.
Ada strategi lain selain cara berbicara ibu dengan bayi (motherese) yang digunakan oleh orang dewasa untuk memperkaya penguasaan bahasa anak. Strategi itu adalah: pertama, menyusun ulang (recasting), kedua, menggemakan (echoing), ketiga memperluas (expanding), dan yang terakhir adalah memberi nama (labelling). Menyusun ulang adalah pengucapan makna suatu kalimat yang sama atau yang mirip dengan cara yang berbeda, barangkali dengan mengubahnya menjadi suatu pertanyaan. Menggemakan ialah mengulangi apa yang anak katakan kepada Anda, khususnya kalau perkataan itu adalah suatu ungkapan atau kalimat yang tidak sempurna. Memperluas ialah menyatakan ulang apa yang telah anak katakan dalam bahasa yang secara linguistik “canggih”. Memberi nama ialah mengidentifikasi nama-nama benda. Penggunaan labelling ini sering dilakukan oleh orang tua ketika mereka mencoba mengidentifikasi apa yang bayi lakukan saat ini.
Chomsky mengatakan, kalau pencapaian linguistik anak-anak pada ummnya terlalu besar untuk bisa dijelaskan jika kita beranggapan hal itu diajarkan oleh lingkungan. Menurutnya, membandingkan perkembangan gramatika dengan pertumbuhan organ-organ fisik, seperti jantung atau alat-alat penglihatan embrionik. Disini sangat jelas kalau struktur-struktur yang muncul terlalu rumit untuk bisa dijelaskan hanya lewat masukan lingkungan (seperti oxygen atau nutrisi). Lingkungan memang vital, namun ia hanya mendukung atau mengaktifkan pola-pola yang secara intrinsik sudah ditentukan. Dengan cara yang sama sederhananya, lingkungan linguistik utamanya memacu pengkonstruksian sistem-sistem gramatika yang polanya sudah ditentukan oleh cetak biru genetik manusia.
Menurut Chomsky, penyiapan parameter oleh anak ini bukanlah masalah yang sulit, sama seperti kita menyiapkan pergantian + atau -. Selain itu, jumlah pergantian yang harus disiapkan juga tidak banyak. Karena itu, persyaratan gramatika yang dibutuhkan hanyalah sejumlah kecil masukan dari lingkungan.
7. Pandangan Behavior
Para pakar perilaku memandang bahasa sama seperti perilaku lainnya, misalnya duduk, berjalan, atau berlari. Mereka berpendapat bahwa bahasa hanya merupakan urutan respon atau sebuah imitasi. Tetapi banyak diantara kaliamat yang kita hasilkan adalah baru; kita tidak mendengarnya atau membicarakannya sebelumnya. Misalnya seorang anak mendengar kalimat “piring jatuh ke lantai” dan kemudian mengatakan “cerminku jatuh ke selimut”, setelah menjatuhkan cermin ke atas selimut. Mekanisme penguatan dan imitasi perilaku tidak dapat secara sempurna menjelaskan hal ini.
8. Pandangan Kognitif
Pada dasawarsa yang lalu, suatu pemahaman baru tentang perkembanan kognitif bayi mulai berkembang. Selama bertahun-tahun, landasan Piaget begutu dikenal dan dihargai secara luas sehingga banyak psikolog berkesimpulan : bayi manusia melampaui suatu periode yang panjang dan berkelanjutan dimana mereka masih belum dapat berpikir. Bayi dapat mengenal benda-benda dan tersenyum kepada benda-benda itu, merangkak dan memanipulasi benda-benda, tetapi bayi belum memiliki konsep dan gagasan atas benda-benda itu. Piaget yakin bahwa ketika bayi mulai memasuki tahap akhir perkembangan sensori motorik pada kira-kira usia 1,5 hingga 2 tahun barulah bayi benar-benar belajar bagaimana mengenali dunia sekitarnya secara simbolis dan konseptual.
9. Permulaan bicara : meraban ( mengoceh)
Suara pertama yang dilakukan anak adalah jerit tangis pada waktu dilahirkan. Tangis pertama ini berguna untuk memungkinkan anak dapat bernapas, karena mulai saat itu anak harus bernapas sendiri.
Suara-suara yang dikeluarkan anak dapat dibedakan antara suara tangisan dan ocehan. Tangis menunjukkan keadaan tidak senang, sedangkan ocehan menunjukkan rasa senang dan kepuasan. Tangis merupakan appel dan ekspresi menurut Buhler. Tangis bukan gejala yang berdiri sendiri, tangis adalah tingkah laku refleks terhadap sesuatu karena menunjukkan ketidaknyamanan, sekaligus menginginkan reaksi sekelilingnya.
Van Ginneken (1917) dalam bukunya Roman Van een Kleuter menceritakan mengenai Keesje bahwa suara-suara pertama huruf hidup / vocal, tangis terletak pada dasar vokalisasi, ketawa pada dasar artikulasi.
Gregori ( 1937) dalam bukunya Liapprentissge du Lagage bahwa suara pertama a, i, u, e, o . Alat fonetiknya masih sangat rudimenter. Kedua tokoh tersebut berpendapat bahwa bahasa mempunyai dasar fisiologis. Suara-suara pertama oleh kedua tokoh tersebut dianggap mempunyai dasar fisiologis-biologis merupakan proses emosional karena rasa nyaman dan tidak nyaman tadi memang ditentukan oleh faktor-faktor fisiologis, namun mempunyai arti emosional juga. Meraban dimulai umur 3 bulan diakhiri 9 – 12 bulan. Meraban atau mengoceh mempunyai variasi yang lebih banyak daripada menangis, mulai bulan ke-6 ocehan mempunyai fungsi komunikatif, ada waktu istirahat ± 4 minggu dari ocehan bisa menjadi ocehan yang bersifat komuniktif. Pada umumnya ±10 bulan anak mulai menirukan kata-kata.
10. Kalimat satu kata dan kalimat dua kata
Satu kata yang diucapkan anak harus dianggap sebagai satu kalimat penuh, contoh : kursi diartikan “saya mau duduk di kursi”. Kata-kata pertama anak tidak bisa dipandang sebagai penyebutan objek murni, mereka mempunyai isi psikologis yang bersifat intelektual, emosional, volisional (anak menunjukkan mau dan tidak mau akan hal sesuatu). ± 6 bulan fonem-fonem ini digabung menjadi kombinasi suara yang kompleks. Kombinasi itu terutama dilakukan dengan bibir dan ujung lidah contoh : ma - ma ; ba – ba ; da – da. ± Bulan ke-18 dan ke-20 datang kalimat dua kata yang pertama. Ada dua kelompok kata spesifik yaitu pivot dan kata terbuka
1. Pivot : kata-kata yang sering dipakai anak.
2. Kata terbuka : kata-kata yang tidak sering dipakai anak, ditambah kata-kata baru.
Contoh :
Pivot Terbuka
Gi (pergi)
Gi (pergi)
Gi (pergi) Susu
Mama
oto
“Gi susu” : anak tidak mau minum susu lagi
“Gi mama” : anak ingin pergi dengan mamanya
“Gi oto” : otonya baru saja pergi
Dalam kalimat dua kata yang penting adalah intensitas semantiknya ( arti daripada apa yang dimaksudkan).
11. Kalimat Tiga Kata
Dari kalimat tiga kata dalam arti struktural mula-mula masih mirip dengan kalimat dua kata. Perubahan ini terjadi ± antara bulan ke-24 dan ke-30. Segera terjadi differensiasi dalam kelompok kata-kata. Struktur sintaksis pendapat arti yang makin besar (rangkaian kata-kata dalam kalimat serta berubahnya kata-kata. Urutan kata-kata relatif konstan.
Menurut Schaerlaekens (1977) maka periode kalimat-satu-kata disebut pra-lingual, Kemudian datang periode lingual awal dari 1 tahun sampai dengan lebih kurang 2 ½ tahun ( periode kalimat dua kata). Dan akhirnya mulai kurang lebih 2½ tahun datanglah periode defferensiasi ( periode kalimat tiga kata dengan bertambahnya differensiasi pada kelompok kata dan kecakapan verbal).
12. Penelitian Mengenai Kecakapan Berbahasa
Penelitian yang dilakukan oleh Buhler dan lain-lain yang berwujud observasi mengenai bahasa anak, sekarang terdapat alat-alat baru untuk menyelidiki kecakapan bahasa pada anak. Misalnya sekarang ada kemungkinan untuk menyelidiki seberapa jauh anak mampu untuk menirukan bahasa orang dewasa. Disini akan dibedakan adanya 2 macam peniruan :
1. Peniruan spontan bahasa orang lain, biasanya bahasa orang tua.
2. Peniruan yg dilakukan anak sesudah anak menerima tugas untuk melakukan itu
Hasil umum mengenai tes semacam itu adalah bahwa anak lebih pandai untuk mengadakan imitasi daripada mengerti kalimat dan bahwa kecakapan untuk mengerti tadi lebih tinggi daripada kecakapan untuk memproduksi kalimat-kalimat sendiri.Penelitian bahasa pada umumnya dibedakan antara :
1. Perkembangan fonologis – atau penguasaan sistem suara atau bunyi
2. Perkembangan morfologis – atau penguasaan pembentukan kata-kata
3. Perkembangan sintaksis – atau pernapasan tata bahasa
4. Perkembangan leksikal – penguasaan dan perluasan kekayaan kata-kata serta pengetahun mengenai arti kata-kata.
5. Perkembangan semantis – atau penguasaan arti bahasa
13. Perkembangan Semantik
Menghitung atau mengobservasi kuantitatif mengenai pertumbuhan kekayaan bahasa anak tidak dapat banyak memberikan pengertian akan perkembangan semantisnya. Alasan :
1. Sebuah kata baru dalam bahasa anak tidak memberikan pengertian apa-apa mengenai arti kata itu bagi anak.
2. Kekayaan kata-kata hanya merupakan satu daftar kata-kata saja karena relasinya antara arti kata-kata itu menentukan arti kalimatnya
3. Penelitian mengenai kekayaan kata-kata belum memberikan pengertian mengenai proses yang dapat merubah arti kata- kata menjadi arti kalimat.
Hambatan yang paling besar dalam penelitian mengenai perkembangan semantis terletak pada kenyataan bahwa kompetensi semantis bahasa orang dewasa sampai sekarang hampir tidak dimengerti hingga belum ada titik referensi yang betul-betul untuk meneliti perkembangan semantik.
Referential theory atau teori relasi teori ini hampir tidak bisa menerangkan bagaimana seorang belajar kata-kata dan arti kata-kata. Contoh : “tetapi” dan “karena” relasi atau maksud yang ada dalam suatu kata tertentu juga dapat di intepretasi macam-macam oleh orang yang berbeda. Teori tingkah laku arti suatu kata itu ditentukan atau tergantung pada reaksi-reaksi orang yang mendengar kata tersebut.
Sebagian besar informasi mengenai perkembangan semantik di dapatkan tidak dengan eksperimen-eksperimen yang dikontrol, melainkan datang dari observasi-observasi pada psikolog dan para ahli linguistik mengenai anak-anak mereka sendiri.
Masalah arti kata-kata pada hakekatnya merupakan masalah informasi pengertian. Ada beberapa macam kesalahan :
1. Anak menggunakan kata-kata pada keadaan yang tidak tepat
2. Ia tidak mampu menggunakan kata tertentu pada suatu situasi yang sama
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Prof. DR. HJ. Samsunumiyati, “Psikologi Perkembangan”, PT Remaja Rosda Karya , Bandung
Drs. H. Ahmad Fauzi, “Psikologi Umum”, Pustaka Setia, Bandung
Conny Semiawan, dkk. “Pengenalan dan Pengembangan Bakat Sejak Dini” PT Remaja Rosda Karya , Bandung
Langganan:
Postingan (Atom)














